Tampilkan postingan dengan label patriarki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patriarki. Tampilkan semua postingan

28.11.17

Bersua Kartini di Agora (2)

[Sambungan dari: Bersua Kartini di Agora (1). Bagian terakhir dari dua bagian]


“...karena kami banyak sekali melihat peristiwa yang menunjukkan ketiadaan kasih sayang yang dilakukan orang dengan berkedok agama. Lambat laun barulah kami tahu, bukan agama yang tiada kasih sayang, melainkan manusia jugalah yang membuat buruk segala sesuatu yang semula bagus dan suci itu. Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci adalah kasih sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seseorang mutlak menjadi Kristen? Orang Budha, Brahma, Yahudi, Islam bahkan penyembah berhala pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni.” —R.A. Kartini[1]

Berkah bagi umat manusia?
Seribu lima ratus tahun berlalu. Seorang perempuan pembebas lainnya dilahirkan. Di desa Mayong, Jepara, Jawa Tengah. Masih dalam kungkungan budaya patriarkal, yang seakan enggan beranjak sejak zaman Yunani Kuno, atau bahkan lebih awal. Tatkala perempuan dianggap “bukan apa-apa”. Yang “diciptakan untuk laki-laki dan untuk kesenangannya”.[2]

“Panggil aku Kartini saja” tulisnya dalam salah satu suratnya kepada sahabatnya, Stella (Estella Zeehandelaar), menyiratkan keinginannya untuk diperlakukan setara dengan siapa saja. Walau ia berhak mencantumkan gelar Raden Ajeng di depan namanya.

Sebagai putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang kemudian diangkat menjadi bupati Jepara, Kartini (1879–1904) lahir dan besar di lingkungan keraton. Silsilah keluarganya konon bahkan bisa ditelusuri hingga ke istana Kerajaan Majapahit (1293–1500).[3]

3. Mata uang Republik Indonesia IDR 5 dengan gambar Kartini, 1950, dicetak oleh Thomas De La Rue & Co. Sumber: Wikimedia Commons.

Seperti Hypatia, Kartini sama-sama perempuan yang ide dan pemikirannya jauh melampaui zamannya. Rasa keadilannya berontak menolak kekangan adat istiadatnya yang turun temurun seperti keharusan tunduk pada kakak laki-lakinya, walau ia berada di pihak yang benar; tidak boleh keluar rumah (dipingit); harus kawin, karena tidak kawin adalah dosa terbesar perempuan Islam, cela terbesar bagi gadis Bumiputera dan keluarganya.  

Tapi beda dengan Hypatia, pergumulan batinnya hanya bisa dituangkan dalam surat-menyurat dengan para sahabat penanya. “Rampaslah semua harta benda saya, asal jangan pena saya,” demikian penghayatannya atas senjata satu-satunya, yang berarti segala-galanya itu. Sasaran bidik “pendekar kaumnya” ini begitu luas. Selain masalah kesetaraan gender, Kartini juga menggugat keadilan sosial bagi bangsanya, serta berbagai kepincangan di dalam masyarakatnya, yang berpangkal pada belenggu kolonialisme dan feodalisme itu. 


4. Fragmen surat Kartini (dalam bahasa Belanda), dari Kartini untuk Rosa Abendanon (1903/1904).

Dan, sebagaimana Hypatia, Kartini pun mempersoalkan agama-agama. Kepada Stella diutarakannya:

“Agama dimaksudkan sebagai berkah untuk kemanusiaan; untuk menciptakan pertalian antara semua makhluk Tuhan. Kita sekalian bersaudara bukan karena kita seibu-sebapa kelahiran manusia, melainkan oleh karena kita anak seorang Bapak, anak Dia, yang bertahta di atas langit.” 

“Ya Tuhan, kadang-kadang saya berharap. alangkah baiknya, jika tidak pernah ada agama. Sebab agama yang seharusnya justru mempersatukan semua manusia, sejak berabad-abad menjadi pangkal perselisihan dan perpecahan, pangkal pertumpahan darah yang sangat ngeri. Orang-orang seibu-sebapa ancam-mengancam berhadap-hadapan, karena berlainan cara mengabdi kepada Tuhan Yang Esa dan Yang Sama.”

“Orang-orang yang berkasih-kasihan dengan cinta yang amat mesra, dengan sedihnya bercerai-berai. Perbedaan gereja, tempat menyeru Tuhan Yang Sama, juga membuat dinding pembatas bagi dua hati yang berkasih-kasihan.”

“Betulkah agama itu berkah bagi umat manusia? tanya saya kerap kali dengan bimbang kepada diri saya sendiri. Agama yang harus menjauhkan kita dari berbuat dosa, justru berapa banyaknya dosa yang diperbuat atas nama agama itu!”[4] 

Dan curahan hatinya mengenai peri laku bangsanya:

“Selamanya kami maklum dan mengerti bahwa inti semua agama ialah kebaikan, bahwa semua agama itu baik dan bagus. Tetapi, aduhai! Manusia, apa yang kau perbuat dengan agama itu!”

“Yang membuat kami mempunyai rasa tak senang kepada agama adalah karena para pemeluk agama itu saling menghina, membenci, ya bahkan terkadang satu mengejar-ngejar pemeluk agama yang lain.”[5]

”Yang membuat kami menjadi orang kafir? Banyak, yaitu apa-apa yang kami lihat berselubung agama. Aduhai! Betapa tidak ada toleran dari pihak kebanyakan orang yang memegang teguh agama!“[6]

 Dan bahwa agama tidak menentukan kemuliaan jiwa seseorang:

“Kami tidak peduli agama mana yang dipeluk orang atau bangsa mana dia. Jiwa besar tetaplah jiwa besar, akhlak mulia tetaplah akhlak mulia. Hamba Allah ada pada tiap-tiap agama, di tengah-tengah tiap bangsa”[7] 

Kartini, yang menolak fanatisme agama itu tentu akan merasa pedih dan sedih bila hidup di masa sekarang, menyaksikan semakin tingginya angka kasus kekerasan berbasis agama di negerinya beberapa tahun terakhir ini. Kasus-kasus yang     tak luput dari sorotan dunia internasional.

Tetapi, seperti yang selalu diingatkan oleh meditator Jiddu Krishnamurti pada hampir tiap sesi ceramahnya tentang kehidupan: apakah kita bisa melihat wajah kekerasan dengan jelas—bukan hanya di luar diri kita tapi juga di dalam diri kita? Yang artinya bebas total daripadanya, bukan karena berniat menyingkirkannya? Apakah kita mengerti dengan sungguh-sungguh bahwa pikiran kita yang terkondisikan, serta struktur masyarakat di mana kita hidup itu telah menghalangi kita melihat fakta, dan terbebas sepenuhnya darinya?

You say, `I will think about it; I will consider whether it is possible to be free from violence or not. I will try to be free.’ That is one of the most dreadful statements you can make, `I will try’. There is no trying, no doing your best. Either you do it or you don’t do it. You are admitting time while the house is burning. The house is burning as a result of the violence throughout the world and in yourself and you say, `Let me think about it. Which ideology is best to put out the fire?’ When the house is on fire, do you argue about the colour of the hair of the man who brings the water?” 
Fear, pleasure, sorrow, thought and violence are all interrelated. Most of us take pleasure in violence, in disliking somebody, hating a particular race or group of people, having antagonistic feelings towards others. But in a state of mind in which all violence has come to an end there is a joy which is very different from the pleasure of violence with its conflicts, hatreds and fears.” —Jiddu Krishnamurti, Freedom from the Known (1969), Chapter 6

Bumi manusia
Nukilan perjalanan kedua perempuan pencinta kemanusiaan, Hypatia dan Kartini ini, melebur di masa kini pada sebuah noktah biru muda (Pale Blue Dot)[iii] di angkasa raya yang bernama planet Bumi; dalam sebuah renungan tentang kekerasan tak berkesudahan yang dilakukan atas nama ribuan doktrin. Narasi disampaikan oleh astronom Amerika, Carl Sagan (1934–1996) melalui film berdurasi empat menit yang dipetik dari bukunya Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space (1994). 

Film yang dilatari musik elektronik Vangelis (l. 1943), Heaven and Hell (1975) ini bisa diakses di kanal YouTube, https://www.youtube.com/watch?v=n5khU_6o7lc

“Dari titik pandang yang sangat jauh, Bumi terlihat tak terlalu spesial. Tapi bagi kita, tidaklah demikian.”

“Pandanglah lagi noktah itu. Di situ, itu rumah kita, itu kita. Di situ hidup setiap orang yang kau cintai, semua yang kau kenal, semua yang pernah kau dengar tentangnya, setiap manusia yang pernah ada, dalam kehidupan mereka.” 


5, 6. Planet Bumi, rumah seluruh umat manusia, terlihat hanya sebagai sebutir debu di angkasa raya.

“Seluruh suka dan duka kita, ribuan agama, ideologi, dan doktrin ekonomi, setiap pemburu dan pencari makan, setiap pahlawan dan pengecut, setiap perajut dan perusak peradaban, setiap raja dan rakyatnya, setiap pasangan muda yang saling jatuh cinta, setiap ibu dan ayah, anak harapan, penemu dan penjelajah, setiap guru budi pekerti, setiap politisi korup, setiap “superstar”, setiap “pemimpin tertinggi”, setiap orang suci dan pendosa dalam sejarah spesies kita—berada di atas setitik debu yang melayang disinari matahari itu.” 

“Bumi adalah panggung kecil di Semesta maha luas. Pikirkanlah sungai-sungai dialiri darah yang ditumpahkan oleh para jenderal dan kaisar, agar dalam kejayaan dan kemenangannya, mereka boleh menjadi penguasa sesaat di sebagian kecil titik itu. Renungkanlah kebengisan tiada akhir, yang dilakukan oleh penghuni salah satu bagiannya, terhadap warga di sudut lain titik—yang besarannya dalam foto tak sampai satu piksel [penulis] itu[iii]; betapa seringnya mereka salah paham, alangkah inginnya mereka membunuh yang lain, betapa membaranya kebencian di antara mereka.” 

“Sikap kita, keegoisan kita, delusi atas posisi istimewa kita di Alam Semesta, ditantang oleh noktah biru muda ini. Planet kita berupa titik kecil yang kesepian di kegelapan kosmik yang menyelubunginya. Dalam serba ketakjelasan, di dalam kemahaluasan ini, tak ada petunjuk yang akan menolong kita dari peri laku kita sendiri.”

“Ibu Pertiwi satu-satunya tempat yang bisa menopang kehidupan sejauh ini. Tak ada tempat lain, setidaknya di masa depan terdekat, di mana kita bisa bermigrasi. Mengunjunginya, ya. Menetap, belum saatnya. Suka atau tidak, untuk saat ini, hanya Bumi tempat kita bisa melangkah.”

“Telah diketahui bahwasanya astronomi merupakan pengalaman kerendahhatian dan pembentukan watak. Mungkin tak ada gambaran yang lebih baik tentang kebodohan akibat kesombongan manusia, sebaik yang diutarakan oleh gambar dunia kecil kita yang jauh ini. Bagi saya, foto ini[iii] menggarisbawahi tanggung jawab kita untuk berlaku lebih baik satu sama lain, dan untuk melestarikan serta menghormati Pale Blue Dot, satu-satunya rumah yang kita kenal ini.”

Hanny Kardinata
Tangerang Selatan, Hari Kartini, 21 April 2017


———
[iii] Pale Blue Dot adalah judul foto planet Bumi, yang diambil pada 14 Februari 1990 oleh pesawat antariksa nirawak Voyager 1 yang saat itu berada 6,4 miliar kilometer jauhnya dari Bumi (merupakan benda buatan manusia terjauh dari Bumi). Di dalam foto itu, Bumi, tampak hanya sebagai sebuah noktah biru muda (kurang dari 1 piksel), setitik debu. Itulah Bumi manusia, rumah kita!


———
[1] Sutrisno, Ny. Sulatin. Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, Penerbit Djambatan, 1979, h. 293 [kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri, 12 Desember 1902]

[2] Id, h. 55 [kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri, Agustus 1900]

[3] Kartini. Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini

[4] Sutrisno, Ny. Sulatin. Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk BangsanyaPenerbit Djambatan, 1979, h, 18–19 [kepada Nona E.H. Zeehandelaar, 6 November 1899]

[5] Id, h. 230 [kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

[6] Id, h. 254 [kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902]

[7] Id, h. 333 [kepada Tuan Dr. N. Adriani, 5 Juli 1903]

[Bersambung » Yang Ditabur, yang Dituai (1), (2), dan (3), dituliskan untuk merayakan Hari Bumi, 22 April 2017]

***





27.11.17

Bersua Kartini di Agora (1)

Oleh: Hanny Kardinata


When you call yourself an Indian or a Muslim or a Christian or a European, or anything else, you are being violent. Do you see why it is violent? Because you are separating yourself from the rest of mankind. When you separate yourself by belief, by nationality, by tradition, it breeds violence. So a man who is seeking to understand violence does not belong to any country, to any religion, to any political party or partial system; he is concerned with the total understanding of mankind.” —Jiddu Krishnamurti (1895–1986), Freedom from the Known (1969), Chapter 6 
Kota Iskandariyah, Mesir, 8 Maret 415 M. Mereka merajamnya dengan brutal dan keji, hingga tewas. Tanpa proses peradilan. 

Hypatia (350/370–415 M), perempuan pemikir terbesar di masanya itu, tewas mengenaskan sebagai martir atas sikapnya yang non-konformis pada keyakinannya (filsafat). Pengawal terakhir Perpustakaan Iskandariyah[i] itu tengah di puncak temuannya di bidang astronomi ketika di negerinya bergejolak berbagai pertentangan paham (cara pandang). Ia terhanyut dalam pusaran konflik antara filsafat [dan sains] dengan agama, antara agama-agama itu sendiri, serta antara kekuasaan legal [dari penguasa administratif] dengan yang real [dari penguasa ideologis]; dibalut kontradiksi kelas sosial-ekonomi yang berkecamuk di Iskandariyah. [Lihat: Perjalanan Ide, Nilai, dan Makna]

Simbol kebebasan berpikir 
Film Agora (2009) yang dibesut oleh sutradara Alejandro Amenábar (l. 1972) diawali dengan adegan  kekisruhan yang terjadi di sebuah agora di Iskandariyah. Di ruang publik terbuka, tempat bermusyawarah bagi masyarakat Yunani Kuno—yang juga tempat bernegosiasi (sebagai pasar)—itu, terjadi perdebatan sengit antara pemeluk agama lama Yunani-Roma-Mesir (pemuja dewa-dewi) dengan pemeluk Kristen tentang persoalan ketuhanan. Kejadian itu berbuntut pada pembumihangusan Perpustakaan Iskandariyah oleh massa parabalani (anggota persaudaraan Kristen).

1. Perpustakaan Iskandariyah atau Perpustakaan Alexandria. Gambar: O. Von Corven, fotografi: Tolzmann, Don Heinrich, Alfred Hessel, dan Reuben Peiss. Sumber: Wikimedia Commons.

Hypatia, putri matematikawan besar Theon, pada saat itu telah mengambil alih posisi terhormat ayahnya di Akademi Iskandariyah dan mengajar di sana selama bertahun-tahun. Lebih daripada pemikir-pemikir lainnya—sejak Plotinus (204–70 SM), Bapak Neo-Platonisme—ia telah mengembangkan sekolah bagi para pemikir itu hingga ke puncaknya. Kuliah-kuliahnya sangat populer dan menarik perhatian mereka yang memandang Neo-Platonisme sebagai pesan spiritual yang universal, filosofi termulia, dan sebagai agama yang menyatukan semua agama. Itulah janji emas Neo-Platonisme, dan Hypatia adalah nabinya. Ia, dalam film itu, dicitrakan sebagai simbol kebebasan berpikir. Di era di mana perempuan memiliki hanya sedikit pilihan dan diperlakukan sekadar sebagai barang, Hypatia bergerak bebas di lingkungan yang didominasi oleh pria (budaya patriarki).

Sebagai penerus ajaran Neo-Platonisme, yang merupakan sintesis dari semua aliran filsafat hingga saat itu, pandangannya mengenai agama-agama dinyatakannya demikian:

“Agama-agama formal dan dogmatis itu semuanya keliru, tak semestinya diterima begitu saja sebagai sudah final oleh mereka yang tahu menghargai dirinya.” 

Dalam salah satu sesi pengajaran ilmu astronomi di kelasnya terjadi perdebatan antara kedua murid Hypatia, Orestes dan Synesius. Ketika keduanya mulai menyinggung persoalan agama masing-masing, Hypatia menengahi.

Hypatia: Synesius, apa aturan pertama Euclid (Euklides, Bapak Geometri —penulis)?

Synesius: Mengapa bertanya begitu?

Hypatia: Jawab saja.

Synesius: Jika dua benda sama dengan benda ketiga, maka semuanya berarti sama.

Hypatia: Bagus. Sekarang bukankah kalian berdua sama bagiku?

Synesius: Ya.

Hypatia: Dan kau Orestes?

Orestes: Ya.

Hypatia: Aku sejujurnya berkata ini untuk semua orang di ruangan ini. Banyak hal yang menyatukan ketimbang yang menceraikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi di luar, kita adalah saudara. Kita adalah saudara.

[Seperti diketahui, di luar sana, di agora, tengah berkecamuk pertentangan antara penganut pemikiran Yunani Kuno dengan  pemeluk pemikiran dan filsafat kekristenan.] 

Begitulah kisah Hypatia, yang hidup dalam cengkeraman dogma-dogma agama di masanya. Sebuah rekam kelam sejarah yang diceritakan berulang kali dan terus-menerus dalam sejumlah literatur, film, serta dipentaskan di teater-teater berabad-abad sesudahnya.


2. Tewasnya filsuf  Hypatia, Louis Figuier, 1866. Sumber: Wikimedia Commons.

Tapi, apakah orang bisa belajar dari sejarah? Jawaban Ong Hok Ham (1933–2007), sejarawan dan cendekiawan itu: “Sayang, rupanya tidak. Sebab kalau kita dapat belajar dari sejarah, maka kita semua akan lebih bahagia dan sentosa.”[ii]


———
[i] Perpustakaan Iskandariyah atau Perpustakaan Alexandria didirikan pada awal abad ke-3 SM di Mesir. Konon, perpustakaan ini memiliki 700.000 gulungan papirus. Sebagai perbandingan, pada abad ke-14 Perpustakaan Sorbonne [yang dikabarkan memiliki koleksi terbesar di zamannya] hanya memiliki 1.700 buku. Koleksinya meliputi berbagai subjek ilmiah termasuk asal usul kehidupan dan tempat manusia di Alam Semesta. Para cendekiawan yang bekerja di Iskandariyah menghasilkan karya-karya besar dalam bidang geometri, trigonometri, astronomi, serta bahasa, kesusastraan dan kedokteran. Menurut kisah turun-temurun, di tempat inilah ke-72 cendekiawan Yahudi menerjemahkan kitab-kitab bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani, dan menghasilkan Septuaginta (Perjanjian Lama Yunani) yang termasyhur itu. Sewaktu bangsa Arab menaklukkan Mesir pada tahun 640, Perpustakaan Iskandariyah sudah tidak ada.

Tokoh-tokoh ilmuwan yang tumbuh dan berkembang bersama Perpustakaan Iskandariyah di antaranya adalah Archimedes (matematikawan), Aristarchus (astronom), Kalimakhus (pujangga dan pustakawan), Claudius Ptolemaeus (astronom), Eratosthenes (pakar ensiklopedia dan pustakawan), Euklides (matematikawan), dan Galen (dokter).

Pentingnya Perpustakaan Iskandariyah tersirat pada karya Carl Sagan, Cosmos: A Personal Voyage, di mana bagian awal dan akhir serial televisi [yang sangat populer pada era 1980–1990-an] ini ia membawa penontonnya kembali ke kota kuno itu sambil mengisahkan sejarahnya. 

Di episode pertamanya, The Shores Of The Cosmic Ocean, Sagan memperkenalkan perpustakaan ini dan menyatakan bahwa jika “bisa melakukan perjalanan waktu kembali, ini adalah tempat yang akan dikunjunginya”. Alasannya: 

But why have I brought you across two thousand years to the Library of Alexandria, because this was when and where we humans first collected seriously and systematically the knowledge of the world.

Di episode terakhirnya, Who Speaks for Earth?, Sagan mengisahkan kehancuran perpustakaan dan pembunuhan keji pustakawannya yang terkemuka, Hypatia, yang dikenal pula sebagai ‘one of the earliest mothers of mathematics’.

[ii] Ketika menonton film Agora di awal Maret 2017—di mana kota Jakarta sedang dalam masa pemilihan gubernurnya, sebuah proses paling genting yang pernah terjadi dalam sejarah lantaran salah seorang calonnya beragama Kristen dan beretnis Indo-Tionghoa—penulis diingatkan kembali pada kekerasan dan kerusuhan yang terus berulang terjadi di Indonesia atas nama suku, agama, ras, dan golongan.


***

Tulisan-tulisan lainnya di sini.


Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...