Tampilkan postingan dengan label komputer grafis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komputer grafis. Tampilkan semua postingan

25.1.18

Perjalanan Kembali (1)

[Bagian pertama dari empat bagian]

Oleh: Hanny Kardinata


“Saya telah menemukan terminologi yang tepat, yaitu yin dan yang untuk menguraikan ketimpangan yang terjadi. Budaya Barat terlampau bersifat maskulin (yang) dan telah mengabaikan pasangan pelengkapnya yang feminin (yin). [...] Pertumbuhan yang sepihak ini telah mencapai lampu kuning berupa krisis sosial, ekologi dan moral. Karenanya dengan meminjam istilah Cina, dapat dikatakan bahwa unsur yang telah mencapai klimaksnya dan kembali ke arah yin. Dua puluh tahun belakangan ini telah melahirkan serangkaian gerakan yang pola dasarnya menuju ke arah sebaliknya. Orang mulai menyadari pentingnya pelestarian lingkungan (ekologi), semakin menguatkan kepercayaan kepada spiritualitas” —Fritjof Capra, Kearifan Tak Biasa (2002)[1]  

Harapan yang kandas
Jakarta, 4 April 2015. Gerimis kecil sore itu menghantar sejumlah pekerja desain bertolak ke Coworkinc.—sebuah ruang berbagi-kerja bagi wirausahawan muda kreatif, yang berlokasi di Kemang, Jakarta—untuk menghadiri pembukaan pameran Designers’ Response: Jakarta City. Pameran yang diselenggarakan oleh Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Chapter Jakarta ini menghadirkan karya poster sepuluh desainer grafis Jakarta yang dianggap memiliki pengaruh. Masing-masing desainer diminta menanggapi tema pameran: What designers can do for Jakarta through design, atau bagaimana desain bisa berdampak bagi Jakarta. 

Dinamika kota Jakarta dengan berbagai persoalannya langsung menyergap dan hadir nyata, menyongsong kedatangan saya di lokasi pameran yang ternyata berada di lantai 3 sebuah toko sepatu. Tak terelakkan, kehadiran sebuah pameran desain di tempat ini jadi terkesan dipaksakan. Keterbatasan ruang yang tersedia pun jadi persoalan. Karena setelah berlangsungnya sebuah sesi pertemuan di salah satu ruang, para pengunjung masih harus menunggu proses pengalihan fungsi ruang pertemuan itu menjadi “art space”. Tahapan yang memacu kreativitas penyelenggaranya ini setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu jam agar tuntutan penyelenggaraan pameran terpenuhi. Selain ketakhadiran ruang pamer yang sepatutnya, lahan parkir di toko ini juga kurang memadai untuk bisa menampung pengunjung sebuah acara pembukaan pameran. Semestinya dapat diperkirakan sebelumnya bahwa jumlah kendaraan yang diparkir akan melampaui kondisi normal sehari-harinya. 

Sebagai salah satu peserta, saya mencoba merespons masalah pertumbuhan jumlah penduduk Jakarta yang semakin tak terkendali. Kondisi ini menjadi ‘akar’ dari berbagai masalah sosial yang terjadi di Jakarta, seperti kemacetan, banjir, penumpukan sampah, kurangnya ruang hijau, tingginya angka kriminalitas, biaya hidup yang mahal; berbagai hal yang mengarah pada indikasi telah terjadinya suatu kehidupan yang ‘out of balance’. Akumulasi dari berbagai problem itu pada gilirannya tentu bisa menyebabkan terjadinya tekanan atau gangguan emosional (stress) dan penderitaan (distress). Berkolaborasi dengan desainer muda Pradnya Paramita, saya menyajikan konsep tersebut dalam bentuk poster sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh ADGI Jakarta (Gb. 1). 

1. Jakarta Clock, Hanny Kardinata dan Pradnya Paramita (Tim DGI), 2015.


Tapi desain poster itu sebenarnya hanyalah bentuk abstraksi dari solusi nyata yang ingin saya tawarkan, yang bentuk konkretnya berupa Jakarta Clock. Realisasi dari konsep Jakarta Clock ini saya bayangkan demikian: sejumlah jam digital berukuran sangat besar diletakkan di beberapa lokasi strategis di Jakarta. Selain berfungsi sebagai penunjuk waktu biasa, pada badan jam itu ditambahkan data yang menggambarkan perkembangan mutakhir jumlah penduduk Jakarta. Data ini berubah terus seiring berjalannya waktu (ada kelahiran, ada kematian, ada pendatang baru, ada yang pindah keluar Jakarta, dst.). Juga ditampilkan angka-angka yang menunjukkan rasio (perbandingan) antara jumlah peduduk dengan ruang yang tersedia, disandingkan dengan rasio idealnya. Informasi ini didigitalisasi, terhubung dengan kantor Dinas Pemda terkait, yang melakukan pembaruan (updating) setiap saat (otomatis). Diharapkan, data yang bisa dipantau perubahannya setiap hari oleh warga Jakarta itu akan ada dampak psikologisnya, terutama bagi pendatang yang mempunyai rencana menetap di Jakarta, atau yang ingin membawa sanak keluarga dan kerabatnya pindah ke Jakarta.

Mana kala ada waktu lebih, saya sebenarnya ingin merancang satu poster lagi dengan konsep ‘konter-Jakarta’ atau ‘konter-urbanisasi’, yang menawarkan kehidupan di kota pedesaan (rural town) bersama nilai-nilai yang pada umumnya masih melekat seperti nilai-nilai kesahajaan, kepolosan, ketulusan, kebaikan, kebersamaan, keterusterangan, cita-cita sederhana, saling membantu, saling menjaga, dsb. Tapi bisa jadi poster ini akan merupakan negasi dari harapan desainer Eric Widjaja terhadap Jakarta (yang ternyata berakhir kandas) sebagaimana tergambar pada posternya yang berjudul Harap–Parah (Gb. 2–3).


2–3. Harap-Parah, Eric Widjaja, 2015.

Poster dengan dua sisi ini (depan-belakang) menggambarkan harapan-harapan yang berakhir kandas.


Tempo lebih lambat 

“Suatu sore, saya menemui beberapa petani di daerah yang berbeda beda. Ada sebuah keluhan yang sama terhadap nasib mereka. Harga pupuk yang tinggi, hasil panen yang murah! Ketidakberdayaan mereka berujung dengan tingkat ketertarikan yang rendah di sektor pertanian oleh anak cucu mereka dan berakhir dengan berpindah tangannya lahan pertanian ke pemilik modal yang kelak akan menancapkan bangunan beton di bekas lahan subur mereka. Sektor pertanian yang penting menjadi sebuah kejijikan bagi sebagian orang. Padahal sektor ini adalah tulang punggung bagi pemenuhan kebutuhan pokok umat manusia. Petanilah yang merupakan pekerja riil. Kita semua yg lain hanya sebagai penikmat. Seandainya distribusi hasil pembangunan merata, tidak perlu kita berbondong-berbondong meninggalkan ladang. Seandainya kebijakan berpihak, tidak ada petani yang miskin.” —Ardian Purwoseputro, Diary Ardian (2015)

Walau bukan merupakan tema utamanya, gambaran ideal kehidupan sehari-hari di pedesaan tercermin pada film animasi Wolf Children (2012) karya sutradara Jepang, Mamoru Hosoda (l. 1967). Sinema puitis ini mengikuti perjalanan Hana, seorang wanita yang jatuh hati pada manusia-serigala dan melahirkan dua anak yang setengah-manusia setengah-serigala. Betapa pun pandainya Hana menutupi, keganjilan fisik dan peri laku kedua anaknya tetap saja mengundang berbagai kekacauan. Setelah kematian tragis kekasihnya, Hana mencari perlindungan di sebuah pedesaan di mana ia mencoba membangun kehidupan baru bagi dirinya dan anak-anaknya. Film yang menggambarkan kehidupan keluarga-keluarga bersahaja, yang diperkuat dengan gaya animasi sederhana dan bersih ini seperti berniat mengabarkan bahwa keharmonisan hidup di desa adalah sesuatu yang nyata, bukan impian. 

Tentu ada masa-masa adaptasi yang harus dilalui oleh Hana terlebih dulu. Saat uang peninggalan suaminya hampir habis, ia mulai berpikir untuk bercocok tanam sendiri. Berbagai kesulitan pun menyertainya, karena ternyata belajar dari buku saja tidaklah cukup. Beruntung ada tetangga yang bersedia mengajarinya. Hana belajar hal baru setiap harinya. Seperti: “Tak ada pupuk. Pakai daun kering saja.” atau “Jangan diberi air. Biarkan saja.” Perlahan-lahan ladangnya pun membuahkan hasil. Di depan foto suaminya, ia bercurah hati: “Kami pindah kemari untuk menghindari pandangan orang, tapi kami menjadi akrab dengan penduduk desa. Awalnya memang sulit, tapi kami akan mengatasinya.” (Gb. 4)

4. Sebuah adegan dalam film Wolf Children (2012), Mamoru Hosoda (1967).

Kisah tentang seorang ibu yang baik hatinya dan sangat mencintai anak-anaknya walau fisik mereka berbeda (separuh-manusia separuh-serigala). Hana menggambarkan karakter seorang ibu yang kuat, berani, dan bersedia melakukan apa pun demi kehidupan yang lebih baik bagi kedua anaknya, Yuki dan Ame.

Bangsa Jepang memang banyak sekali melahirkan karya film, terutama animasi, yang berlatarbelakang kehidupan di pedesaan. Menggambarkan masyarakat pedusunan yang dekat dengan alam sekitarnya, atau dengan kebiasaan-kebiasaannya yang dirasa ganjil bagi orang kota. Beberapa di antaranya menonjolkan kontras antara gaya hidup di kota dan di desa, memperlihatkan bagaimana warga pendatang berusaha keras beradaptasi dengan tempo yang lebih lambat di desa. 

Misalnya pada karya-karya animasi yang diproduksi oleh Studio Ghibli (1985), yang terkemuka melalui kedua pendirinya, Hayao Miyazaki (l. 1941), dan Isao Takahata (l. 1935). Keduanya memiliki kepedulian serupa terhadap lingkungan hidup, nilai-nilai tradisi pedesaan, dan spirit animisme yang terkandung di dalam cerita-cerita rakyat Jepang. Walau belakangan Studio Ghibli mengadopsi teknologi baru (komputer grafis), karya-karyanya tetap menunjukkan komitmen mereka untuk (sebagian besar) tetap digambar menggunakan teknik tradisional, yaitu dengan tangan (hand-drawn technique).


———
[1] Capra, Fritjof. 2002. Kearifan Tak Biasa: Percakapan dengan Orang-orang Luar Biasa. Yogyakarta: Bentang Budaya.


[Bersambung » Perjalanan Kembali (2)]

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  




***


Tulisan-tulisan lainnya di sini.

26.11.17

Mengikuti Jalan (5)

6. Poster pameran Grafis ’89,
pameran bersama desainer-desainer Indonesia dan Jepang, yang dirancang oleh Lesin, 1989.

[Sambungan dari: Mengikuti Jalan (4). Bagian terakhir dari lima bagian]


Anti komputer grafis
Pameran IPGI–JAGDA yang kedua bertajuk Grafis ‘89 diselenggarakan berturut-turut di tiga kota: Jakarta, 23–30 Maret di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud (sekarang Galeri Nasional), jalan Merdeka Timur 14; Bandung, 12–20 April 1989 di Yayasan Pusat Kebudayaan, jalan Naripan; dan Yogyakarta, 26 April–3 Mei di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI), jalan Gampingan. 

Masih dengan bantuan pembiayaan dari Japan Foundation, Miyazaki menggagas kedatangan Shigeo Fukuda (1932–2009) sebagai pembicara. Fukuda yang dijuluki sebagai Japan’s Houdini of Design, dianggap sebagai pelopor generasi kedua desainer grafis Jepang bersama antara lain Tadanori Yokoo (l. 1936), Mitsuo Katsui (l. 1931), Ikko Tanaka (l. 1930). Karya-karyanya bisa dikenali dari kesederhanaannya (logo-like simplicity), dan dari penerapan teknik ilusi visual (deception). Kebanyakan dirancang agar berdampak sosial atau merupakan bentuk komunikasi kultural daripada demi tujuan komersial; Fukuda merupakan pendukung kuat pasifisme dan environmentalisme. Ia juga menjadi desainer grafis Jepang pertama yang terpilih masuk dalam New York Art Directors Club Hall of Fame.


7. Poster karya Shigeo Fukuda, No More War, 1968.

Dalam kunjungannya ke Indonesia itu, Fukuda tampil sebagai pembicara dalam sebuah ceramah pada tanggal 29 Maret 1989 di Pusat Kebudayaan Jepang, Summitmas Tower lantai 2, Jakarta. Sekitar satu jam sebelumnya, beberapa penulis dari majalah desain grafis F/A [ii] berkesempatan mewawancarinya. Saya hadir dalam sesi wawancara itu. 

Menurut Fukuda, masyarakat Jepang tadinya juga tidak menganggap produk desain grafis sebagai karya seni. Diungkapkannya: 

“Tapi saat ini Jepang sudah mulai mengakui desain grafis sebagai seni. Hal itu ditunjukkan dengan membuat museum poster, yang setahun lagi akan selesai. Sejauh ini, poster-poster di Jepang segera dibuang setelah dipakai; berbeda sekali dengan Amerika, Chekoslovakia, Belanda, Perancis, dan Polandia yang sejak lama telah menyimpan dan menghargai poster sebagai benda seni. Dan di Jepang, kehadiran museum poster yang sedang dibangun itu merupakan perlakuan serta sikap baru yang jelas berbeda.”

Khusus mengenai desain grafis Indonesia, Fukuda berpesan: 

“Jepang telah melalui tahap-tahap tertentu untuk sampai ke puncaknya dalam 20 tahun terakhir ini. Ada baiknya Indonesia memerhatikan langkah-langkah yang telah ditempuh Jepang, dan jangan punya ambisi untuk melompat-lompat agar segera sampai di puncak, meskipun secara ajaib hal yang khusus ini terjadi pada Korea. Dalam bidang apa pun, budaya, sastra, dan lainnya, terdapat generasi yang di dalamnya perlu ada persaingan agar bisa maju. Bagus bila Indonesia secara periodik mengumpulkan seniman-seniman grafis untuk berpameran, hingga selalu didapatkan masukan-masukan tertentu sebagai titik untuk maju terus.”

Dan tentang pengaruh teknologi pada desain grafis:

“Saya anti komputer grafis. Di Jepang ada komputer grafis, tapi itu hanya terbatas pada orang-orang yang tahu komputer, serta mengenal program-programnya. Bagi saya, itu tidak menarik, dan tidak yakin bisa menghasilkan sesuatu yang menarik. Pasti ada saatnya komputer tidak bisa mencetuskan apa-apa yang diinginkan oleh seniman, karena komputer memiliki sejumlah keterbatasan, misalnya hanya mampu membuat garis-garis tertentu sesuai programnya saja. Padahal kebutuhan dalam desain grafis lebih dari itu. Saya sendiri berminat besar kepada daya lihat manusia sebagai titik pangkal dari ilusi atau pembuatan trik-trik tertentu. Penglihatan bagi desainer grafis merupakan sesuatu yang amat penting. Komputer sendiri bagus sejauh dianggap sebagai alat, seperti halnya penggaris dan jangka. Sebagaimana layaknya robot, komputer pasti kalah pintar dari manusia. Setelah era komputer terlewati, tidak akan lahir apa-apa lagi.”

8. Poster pameran ilustrasi Fukuda, 1979.

Ilustrasi ini menggambarkan interpretasi Fukuda atas prinsip ‘unity of opposites’ sebagaimana tercermin pada filosofi Yin-Yang dimana hitam dan putih saling bergantung satu sama lain [Lihat: Kenali diri sendiri, pada Tarian Alam Semesta pada h. ..]. Ketika konsep Taois ‘unity’ diterapkan pada desain grafis, konsep ini tetap membawa hasil. 

Interpretasi lain terhadap prinsip kesatuan dalam Taoisme serupa dengan konsep psikologi Gestalt yang memformulasikan kaidah umum bahwa The whole is greater than the sum of its parts. Kecenderungan untuk membentuk keutuhan, kesatuan, mendominasi dalam persepsi. Kita melihat dalam kesatuan, tidak dalam bagian-bagian. Kaum Gestaltis percaya bahwa kita menyadari karena kontras, dalam konteks. Sebuah figur selalu berada dalam konteks latar belakangnya.

Dalam pengamatan saya [saya tak lagi terlibat dalam kepanitiaan], terselenggaranya pameran IPGI–JAGDA kedua ini tidak terlepas dari peran Yongky Safanayong (1950–2015). Yongky yang pada waktu itu mengajar di Jurusan Desain Grafis Universitas Trisakti dan belum lama bergabung dengan IPGI itu seperti mendadak kejatuhan tanggung jawab besar sebagai “Ketua Pameran” akibat tidak efektifnya Ketua Pameran terpilih. Keterlibatannya yang bisa dibilang all out dalam mempersiapkan pameran menjadi faktor penting kesuksesan pameran di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud, Jakarta itu. 

Menyatu dengan alam
Setelah pameran kedua itu, Miyazaki seperti “menarik diri”. Dari Yongky, saya mendengar kabar mengenai kekecewaannya atas sikap penanggung jawab pameran itu. Tak berapa lama kemudian, kontrak kerjanya di Indonesia pun berakhir. Ia kembali ke negaranya, meninggalkan warisan berupa dua kali pameran besar desain grafis internasional, yang hingga kini mungkin masih tergolong yang terbesar yang oernah diadakan di Indonesia (di tiga kota). 

Sebelum Miyazaki pulang ke Jepang, saya mengunjunginya di tempat kediamannya di bilangan Kebayoran Baru. Ia memperkenalkan isterinya, Miho yang juga merupakan pribadi yang sangat santun dan bersahaja. Miho seorang penggambar. Selama tinggal di Jakarta, ia membuat banyak karya gambar yang melukiskan sketsa kehidupan sehari-hari penduduk Jakarta dan sekitarnya. Melalui penggunaan teknik cat air, ia seakan-akan ingin mengabarkan nilai-nilai kesederhanaan, sebagaimana kehidupan yang juga dilakoninya. Ada suasana pasar, pasar burung, warung makan, suasana hari kemerdekaan, juga pemandangan sawah bertingkat (terasering). Saya dihadiahinya satu seri kartu ucapan yang dihiasi dengan gambar-gambarnya itu, yang dicetaknya di bawah label Miho Arts (Gb. 9). 


9. Sketsa kehidupan sebuah pasar di Jakarta karya Miho.

Di negaranya dewasa ini, Miyazaki menjalani kehidupan barunya yang tenteram dan sentosa—walau menurutnya “biasa-biasa” saja—di Perfektur Yamagata, dengan nama barunya Nobu Araki. Sejak 1 April 2012, 17% dari lahan perfektur ini ditetapkan sebagai Taman Nasional guna perlindungan alam yang lestari. Bisa jadi karena kondisi alamnya yang asri itu, Yamagata menjadi salah satu dari tiga propinsi yang tertinggi tingkat usia harapan hidupnya; lebih dari 12% populasinya mencapai usia hingga di atas 75 tahun [Baca juga mengenai gerakan konter-urbanisasi pada Bukan perkara baru, dan Selaras dengan alam, di Perjalanan Kembali]. 

Perfektur Yamagata terkenal dengan produksi ceri (pangsanya 70% dari produksi nasional) dan pemandangan musimannya yang berwarna-warni. Tiap area perfektur memiliki budaya, iklim, dan karakter alaminya masing-masing. Dikaruniai gunung dengan ketinggian di atas 1000 meter, mata air panas, sungai, dan lembah yang ideal untuk hiking, ski, dan kegiatan luar ruang lainnya. Yamagata juga terkenal dengan kota-kota budaya dan sejarahnya, bangunan-bangunan tradisional dan reruntuhan bersejarah yang dilindungi hingga dewasa ini. 

Bukankah Miyazaki dan keluarganya kini tengah menjalani hidup yang berkualitas? Sebagai downshifters[iii] [Lihat: Perjalanan Kembali]?


———
[iii] Menurut Urban Dictionary, downshifters berarti people who had a good professional job and (usually) a house which had significantly increased in value—but then they realised that by selling the house and moving to another (usually rural, far cheaper) area of the country, they could ’downshift’ their lives and yet still have a small fortune in the bank + less stress, less work, more time with the family, more money. 


Sementara situs Slow Movement mendefinisikan Downshifters are people who adopt long-term voluntary simplicity in their life. They accept less money through fewer hours worked in order to have time for the important things in life. Downshifters also place emphasis on consuming less in order to reduce their ecological footprint.

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  . 



***

Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...