Tampilkan postingan dengan label Alam Semesta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam Semesta. Tampilkan semua postingan

5.5.18

Membaca Alam (3)

[Sambungan dari Membaca Alam (2)Bagian terakhir dari tiga bagian]


Pola-pola semesta dalam praktik permakultur
Menjelang tahun delapan puluhan muncul pergerakan di bidang ekologi yang berlandaskan pada prinsip-prinsip alam yang disebut dengan permakultur. Istilah permakultur awalnya diciptakan oleh dua warga Australia, Bill Mollison (l. 1928) dan David Holmgren (l. 1955) untuk menggambarkan sistem desain yang mereka rintis yang merespons apa yang mereka pandang sebagai tantangan serius terhadap kelangsungan hidup manusia. Mulanya berasal dari kata permanent agriculture, kemudian berkembang hingga melampaui pengertian asalnya itu menjadi permanent culture atau permaculture, adalah pergerakan global yang mencakup segala aspek tentang bagaimana manusia bisa hidup harmonis dengan Bumi dan sumber dayanya yang terbatas. Sebagai filosofi desain terpadu, permakultur mencakup kegiatan-kegiatan berkebun, arsitektur, hortikultura, ekologi, bahkan manajemen keuangan, dan sistem perancangan komunitas (community design). 

Perkembangannya saat ini telah membawa permakultur memiliki banyak definisi, sebanyak praktisi yang menjalankannya. Tapi ada satu definisi yang berguna untuk memahaminya, yaitu ‘menciptakan habitat yang berkelanjutan dengan cara mengikuti pola-pola semesta’ (creating sustainable human habitats by following nature‘s patterns).[4] 

Ribuan tahun evolusi yang telah berlangsung mengakibatkan bentuk-bentuk dan pola-pola tertentu muncul secara sangkil demi tujuan-tujuan tertentu. Bentuk-bentuk dasar yang ada di alam itu dapat diidentifikasi, dipahami serta digunakan untuk berbagai kebutuhan perancangan. Mereka bisa ditemukan di semua dimensi, termasuk dimensi waktu, dan dapat dipadukan dengan pola lain untuk menciptakan struktur yang lebih kompleks. Kita bisa menghabiskan waktu seumur hidup kita belajar pola. Ini adalah subjek dengan banyak kedalaman. Sekali kita menyadari apa yang kita cari, kita akan melihat pola di mana-mana di alam, serta mengerti kenapa mereka terbentuk seperti itu dan apa fungsinya, yang akan membantu kita memahami bagaimana sistem alam bekerja. Kita kemudian bisa mengambilnya sebagai inspirasi dan memakainya pada desain permakultur yang kita rancang, demi menciptakan sistem desain yang efektif. 


8. Mandala evolusi. 

Maka, makhluk apakah gerangan setelah manusia?

Misalnya saja pola simetri. Simetri berarti sebuah objek yang memiliki dua bagian yang sama pada sisi yang berlawanan yang terpisah, yang satu sama lain merupakan cerminannya. Pola ini ada dua macam, pertama yang memperlihatkan ketepatan kesamaannya secara geometris, dan yang satunya lagi tidak persis sama, mencerminkan rasa harmonis dan keseimbangan yang umum di antara kedua bagiannya. Kebanyakan binatang-bergerak, seperti kupu-kupu, kuda, lipan, juga manusia menunjukkan pola simetri bilateral, yang timbal-balik. Tanaman di sisi lain, sering memiliki pola simetri radial, dengan beberapa bagiannya yang serupa tersusun mengitari sebuah titik pusat. Pola simetri berperan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Apa yang dibuat oleh manusia sering kali berpola sangat simetris, seperti yang dapat dijumpai pada desain arsitektur, rumus persamaan dalam aljabar, dan juga musik. 

Ada juga ‘rasa simetri’, atau yang sifatnya timbal-balik di dalam konsepsi-konsepsi sosial, seperti gagasan tentang keadilan, permintaan maaf (sebagai pengganti sesuatu yang tak seimbang), dan dialog. Ketika kita memiliki hubungan yang seimbang dengan teman kita, hubungan itu sifatnya simetris, kedua belah pihak berada dalam keadaan setara. Sementara hubungan kekuasaan tidak memiliki karakteristik ini, karenanya sudah sifatnya bila tidak seimbang.

Dalam pandangan Mollison:

“Membuat mal (patterning) adalah cara kita membingkai rancangan kita, merupakan template di mana kita menyelaraskan berbagai informasi, entitas, dan objek yang kita kumpulkan selama proses observasi, serta memilihkan materi dan teknologi yang tepat. Patterning inilah yang memungkinkan masing-masing elemennya berfungsi dan mengalir dalam hubungan-hubungan yang bermanfaat. The pattern is design and design is the subject of permaculture.”[5]

Revolusi sunyi permakultur
Mollison mengembangkan permakultur setelah menghabiskan puluhan tahun waktunya memelajari ekosistem langsung di hutan-hutan hujan dan padang pasir Australia. Ia mengamati bahwa tumbuh-tumbuhan secara alami mengelompokkan dirinya dalam komunitas yang keberadaannya masing-masing saling menguntungkan. Dia menggunakan ide ini untuk mengembangkan pendekatan berbeda di bidang pertanian dan perancangan masyarakat, antara lain dengan cara menempatkan unsur-unsur yang selaras secara bersama-sama sehingga mereka saling mempertahankan diri dan mendukung satu sama lain. Dalam sebuah wawancara, ia mengisahkan pertemuannya dengan seorang petani Filipina yang selalu menanam akar pisang dalam satu lubang dengan sebuah cabai dan empat butir kacang. Penelitiannya kemudian mengungkapkan fakta bahwa kacang menyuplai nitrogen dan cabai mencegah kumbang menyerang bibit pisang (symbiotic relationship).[4] [Lihat Ketahanan dalam Keragaman (1), (2)]

Dewasa ini, gagasan-gagasannya telah menyebar hampir di setiap negara di dunia, termasuk di Indonesia (beberapa di antaranya, seperti di Kalimantan Tengah: Permakultur Kalimantan Foundation, di Yogyakarta: Bumi Langit Institute, dan PermaBlitz Jogja, serta Mahayana Permaculture di Salatiga). Permakultur sekarang dipraktikkan di hutan-hutan hujan di Amerika Selatan, di gurun Kalahari, di wilayah Arktik Utara di Semenanjung Skandinavia, dan di berbagai komunitas di seluruh Amerika Utara. 


9. Logo Mahayana Permakultur yang aktivitasnya berbasis di Salatiga. 

Sejumlah organisasi dan komunitas di Indonesia telah menerapkan sistem desain permakultur, salah satunya adalah Mahayana Permakultur. Terdiri dari sekelompok anak muda yang memiliki beragam keterampilan—mereka berspesialisasi dalam bidang budidaya, kehutanan pangan, dan energi terbarukan—Mahayana berharap bisa menciptakan masa depan yang berkelanjutan dan regeneratif menggunakan prinsip-prinsip permakultur. Dengan permakultur, mereka mempraktikkan alternatif cara hidup yang benar, meliputi cara hidup sehari-hari, cara memilih makanan, juga cara mencari uang. Melalui praktik nyata dan aplikasi langsung, mereka ingin membuktikan bahwa prinsip-prinsip permakulktur itu applicable (tidak sulit) dan betul-betul efektif.

Di New Mexico, misalnya, petani menggunakan permakultur untuk mengubah tanah-tanah keras berbatu menjadi taman yang rimbun dan kebun buah-buahan tanpa menggunakan mesin berat. Di Davis, California, sebuah komunitas menggunakan limbah air mandi dan cucian untuk menyiram toilet dan mengairi kebun. Di Toronto, ada sekelompok arsitek yang menciptakan desain bagi sebuah rumah urban yang diubah peruntukannya (infill) dengan tidak memanfaatkan air kota atau pun infrastruktur pembuangan limbahnya, dengan biaya operasi hanya beberapa ratus dolar setahun.

Dalam sebuah wawancara Mollison menyebut konsep permakultur sebagai sebuah revolusi. Tapi sejenis revolusi yang tak ada orang yang memperhatikannya. 

“Bangunan-bangunan mungkin jadi berfungsi lebih baik karenanya. Anda mungkin jadi membutuhkan lebih sedikit uang karena bisa memperoleh makanan dari sekitar anda, dan anda tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan energi. Dengan demikian, sejumlah besar uang bisa dihemat dan kita bisa melengkapi diri kita dengan hal-hal lain yang lebih baik.”[6]


———
[4] So What is Permaculture. Spiralseed, http://spiralseed.co.uk/permaculture/, diakses 24 Oktober 2015.

[5] Regenerative Permaculture Design. Open Permaculture School, www.openpermaculture.com, diakses 24 Oktober 2015.

[6] London, Scott. Permaculture: A Quiet Revolution–An Interview with Bill Mollison. Scott London, http://www.scottlondon.com/interviews/mollison.html, diakses 24 Oktober 2015.


.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  




***



Tulisan-tulisan lainnya di sini.

3.5.18

Membaca Alam (2)

[Sambungan dari Membaca Alam (1)Bagian kedua dari tiga bagian]


Dalam kehampaan (emptiness)[i], bentuk pun hadir. Ketika seseorang menjadi hampa dari asumsi, kesimpulan, dan penilaian yang diakuisisinya selama bertahun-tahun, ia datang menghampiri alam aslinya dan mampu mengandung janin ide-ide yang orisinal serta bisa bereaksi secara sama sekali baru. [Bandingkan dengan ajaran J. Krishnamurti, pada Bebas dari yang Dikenal] 
—Stewart W. Holmes dan Chimyo Horioka, Fifteen Zen Tenents

Dialog dengan Maggie Macnab
Pada Oktober 2015 saya berkesempatan berbincang daring dengan Maggie dari kediamannya di Santa Fe, New Mexico, AS mengenai gagasan-gagasan di balik bukunya ini [catatan: bukankah dialog itu sendiri adalah perwujudan dari ‘rasa simetri’ (sense of symmetry) yang terdapat dalam gagasan mengenai kemasyarakatan, sesuatu yang berpola timbal-balik?][Lihat sub-judul berikutnya: Pola-pola semesta dalam praktik permakultur]. 

Berikut ini bagian utama dari dialog tersebut:

Hanny Kardinata (HK): Dari sudut pandang sejarah, sejak kapan hubungan manusia dengan Alam terputus sehingga kita kehilangan kemampuan untuk membaca Alam? Bisakah menjelaskan mengapa hal itu terjadi?

Maggie Macnab (MM): Pertanyaan sulit, Hanny! Saya bukan seorang sejarawan tetapi kesadaran saya memberitahu saya bahwa lapisan sistem-sistem yang manusia tempatkan di antara dirinya dengan Alam selalu mengarah pada akhir yang buruk. Kita tidak bisa memutuskan hubungan kita dengan asal muasal kita itu tanpa meniadakan diri kita sendiri. Dalam sejarah hal ini menjadi sedemikian nyata pada abad industri, ketika mesin mulai menggantikan tenaga kerja manual. Ada banyak hal yang baik tentangnya, tapi, kita harus tetap waspada dan menaruh hormat pada asal kita. Ketika Alam telah menjadi tidak lebih dari sekadar komoditas, ia digunakan dan disalahgunakan demi kejatuhan kita sendiri. Banyak yang menyadari hal ini, tetapi perusahaan-perusahaan terus saja menjarah. Dan tak seorang pun tampaknya tahu bagaimana menghentikannya. 

HK: Tapi apakah mungkin kita memelajari elemen dan prinsip desain semata dari Alam? Dengan kata lain, apakah Alam bisa memberikan segala yang kita butuhkan sebagai desainer?

MM: Alam adalah batu loncatan, konektor yang efisien dan brilian bagi bermacam-macam perihal yang masing-masing berlainan itu. Saya pikir kita bisa belajar banyak hal dari Alam, namun tidak berarti kita tidak bisa memulai sesuatu tanpanya serta mengembangkan ide-ide kita sendiri. Alam adalah tempat yang sangat baik untuk mulai, sebagaimana tercermin dari pandangan saya ketika anda membaca buku Design by Nature

HK: Saya berpendapat yang sama. Pasca Revolusi Industri, kita semua bertanggung jawab atas terpuruknya hubungan kita dengan Alam.

MM: Di situlah kuncinya! Seandainya manusia mau belajar bertanggung jawab kita tidak akan memiliki masalah ini. Tapi manusia beroleh banyak keuntungan dari sistem-sistem yang dibuatnya dari kebodohannya, dan kebodohan itu disebarluaskan melalui pendidikan, politik, dan agama. Perang adalah contoh yang bagus mengenai hal ini. Perang hanya menguntungkan para tukang catut, bukan kemanusiaan secara keseluruhan. Mengenai ketiadaan respek dan keterputusan hubungan kita dengan Alam yang telah berakibat membahayakan kita semua ini merupakan isu yang lebih besar yang disampaikan melalui Design by Nature. Semua mahasiswa saya tertarik pada isu ini! Orang-orang dibangkitkan kesadarannya, tapi apakah itu cukup?

HK: Saya kira, upaya penyadaran selalu baik, dan dibutuhkan. Bila dilakukan banyak pihak, secara terus-menerus, akumulasinya akan berdampak. 

Apakah anda memercayai bahwa segala sesuatu di dunia saat ini mulai bergerak ke arah sebaliknya? Sebagaimana yang diajarkan oleh falsafah Cina kuno, Yin-Yang? [Lihat: Kenali diri pribadi, pada Bebas dari yang Dikenal]. Beberapa gejalanya sudah di depan mata, seperti  munculnya Slow Movement, konter-urbanisasi, permakultur, dan buku Design by Nature ini sendiri. [Lihat pula pandangan Fritjof Capra pada Tarian Alam Semesta]. Dalam salah satu wawancara dengan Whiteboard Journal pada awal tahun ini, saya mengabarkan pula tentang terjadinya kecenderungan ini. Berikut adalah salah satu bagian dari wawancara tersebut:

“Tetapi, sebagaimana dengan segala hal yang terjadi di dunia ini, dalam desain pun mulai timbul gerakan yang pola dasarnya menuju ke arah sebaliknya. Gejala munculnya gerakan Slow Design ini sudah bisa dilihat akhir-akhir ini di berbagai belahan dunia. Pola yang sama pernah terjadi sebelumnya, dan berulang terus, sejak Revolusi Industri pada abad ke-18. Ketika ancaman mesin semakin meresahkan, kerja kekriyaan dan sentuhan yang sifatnya personal pun dirindukan kembali.”[2]

MM: Saya berharap bisa membacanya! Kita memiliki banyak kesamaan, Hanny (selain sebagai manusia tentunya).



Buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia pada bagian mengenai Zaman Industri: Dari Masyarakat Pertanian ke Masyarakat Industri (± 1760–1830) juga mencatat bahwa: 

“Bagaimana pun, Revolusi Industri sering dipandang
sebagai penyebab terjadinya perubahan dari peradaban
yang menganut nilai-nilai humanistis menjadi peradaban
yang didominasi oleh benda-benda materi. Hubungan
intim manusia dengan Alam, juga pengalaman-pengalaman
estetika dan spiritualnya menjadi berkurang.”[3] 

———

[i] Arti khusus ”emptiness” berbeda-beda dalam konteks tertentu dan pada tradisi agama atau budaya di mana istilah itu digunakan. Sementara kekristenan serta para sosiolog dan psikolog Barat memandang keadaan kosong sebagai kondisi negatif yang tidak diinginkan, dalam filsafat Timur seperti Buddhisme dan Taoisme, kekosongan merupakan pencapaian yang disadari. Di luar filsafat Timur, beberapa penulis juga menyarankan agar orang menggunakan keadaan kekosongan sementara sebagai sarana untuk membebaskan dirinya demi perkembangan pribadi.



———
[1] Design by Nature: An Interview with Maggie Macnab. 2011. Peachpit, http://www.peachpit.com/articles/article.aspx?p=1755414, diakses 4 Oktober 2015.

[2] Hilmi, Muhammad. 2015. Esensi Desain bersama Hanny Kardinata. Jakarta: Whiteboard Journal, http://www.whiteboardjournal.com/interview/23151/esensi-desain-bersama-hanny-kardinata/, diakses 8 Oktober 2015

[3] Kardinata, Hanny. 2016. Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia. Jakarta: DGI Press.




[Bersambung » Membaca Alam (3)]

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  




***



Tulisan-tulisan lainnya di sini.

2.5.18

Membaca Alam (1)

Manusia adalah spesies yang paling tidak waras. Ia memuja Tuhan yang tak kelihatan sembari menjagal Alam yang terlihat jelas... tanpa menyadari bahwa Alam yang ia bantai itu adalah Tuhan yang dipujanya. 


—Hubert Reeves (1932)

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .



Oleh: Hanny Kardinata




[Bagian pertama dari tiga bagian]



Merebut kembali ‘seni membaca alam’

“Kitab agung Alam, yang selalu terbuka bagi kita, ditulis dalam bahasa matematika. Karakteristiknya adalah segitiga, lingkaran, dan bermacam bentuk geometris lainnya, yang tanpanya manusia tidak akan bisa mengerti Alam; tanpanya, seseorang akan berkeliaran di labirin yang gelap.” —Galileo Galilei (1564–1642), 1623 

Salah satu mata kuliah yang saya tunggu-tunggu saat belajar di jurusan Seni Reklame STSRI Asri [sekarang: Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta (1972–1975), adalah Nirmana yang pada masa itu disebut dengan  Desain Elementer. Berbeda dengan mata kuliah lain yang sedikit banyak sudah saya kenal sebelumnya melalui buku atau majalah seni, Nirmana merupakan metode penataan elemen-elemen dasar seni atau desain seperti titik, garis, warna, ruang, dan tekstur menjadi suatu kesatuan yang serasi [dan efektif (dalam kaitannya dengan fungsi desain komunikasi visual)]. Dosen pengampunya, Sadjiman Ebdi Sanyoto (lahir: 1942) di kemudian hari berhasil merumuskan sistematika belajar Nirmana, dan menuangkannya ke dalam sebuah buku yang terbit pada tahun 2009 dengan judul Nirmana: Dasar-Dasar Seni dan Desain [Lihat: Persinggahan Sementara (1)]. Ini sesuatu yang sama sekali baru bagi saya, karenanya selalu mengundang rasa ingin tahu. 

Seiring dengan berjalannya waktu, dalam upaya memahami misterinya, saya seperti terus-menerus disadarkan bahwa sebetulnya elemen-elemen Nirmana ada dan bisa ditemui di alam dan di sekitar saya. Tinggal kepekaan dan ketekunan saya saja dalam upaya “membaca” dan mengobservasinya. Sebagai prinsip penting dalam mendesain, ihwalnya bisa dipahami sebagai ‘bentuk yang tak berbentuk’, yang hadir dalam ketidakhadirannya[i]. Bisa dikatakan demikian karena nirmana berada di area perlambangan (symbolism). Lingkaran misalnya merepresentasikan keseluruhan, kesatuan, integritas, atau keutuhan. 


1. Bangun spiral pada sidik jari manusia. 

Tapi kita manusia modern telah lupa bagaimana membaca simbol-simbol itu. Simbol-simbol—yang menjadi bahasa alam ini—sesungguhnya sangat penting untuk dimengerti karena mengandung informasi mengenai bagaimana dunia ini berlangsung. Kemampuan membaca pola (pattern) yang hadir di alam merupakan dasar pengetahuan karena hal itu menunjang kelangsungan hidup manusia. Walau telah memiliki berjuta informasi dan teknologi hasil ciptaannya sendiri, secara instingtif manusia tetap mengakui adanya suatu otoritas, membutuhkan, dan menggunakan prinsip-prinsipnya yang universal untuk memahami dunianya. Prinsip-prinsip itu, yang bila diintegrasikan ke dalam bidang komunikasi visual akan bisa menyampaikan pesan secara tepat-guna, kuat dampaknya, dan berdayatahan lama.


2. Rumah keong (nautilus shell) dengan spiral logaritma.

Sumber gambar: Wikipedia.

Desainer Maggie Macnab, melalui bukunya Design by Nature: Using Universal Forms and Principles in Design (2011) menerangkan bahwa bentuk-bentuk dasar (forms) bisa dilihat dengan sangat jelas di dalam fungsinya masing-masing. Kurva (curve) dan sudut (angle) misalnya memiliki fungsi berbeda, kurva fungsinya menautkan, sementara sudut menegaskan. Bentuk segi-empat misalnya [walau sulit ditemukan di alam, bisa dijumpai di dalam dunia buatan manusia], dibutuhkan untuk membangun stabilitas atau sesuatu yang kokoh. Lembaga-lembaga yang berurusan dengan uang seperti bank, asuransi, pajak, dan pasar saham yang ingin menampilkan citra bisa dipercaya, atau bisa diandalkan, kerap menggunakan logo berbentuk segi-empat untuk mengomunikasikan gagasan mengenai keamanan. 


3. Pola cuaca di atas Tanah Es (Islandia). Sumber gambar: Wikipedia.

Di alam, pola bisa dijumpai dalam berbagai dimensi, dari yang mikroskopik hingga galaktik. Seperti pola simetri, pola menyebar, bergelombang, bergaris (stripes), fraktal, dsb. Beberapa jenis pola, seperti pola bercabang (ranting, dahan) dan pola berkelok-kelok (meander) hadir secara nyata di sekeliling kita menggambarkan ‘gerakan’ energi dari satu titik ke titik lain. Pola bercabang mentransfer energi, misalnya dari daun ke seluruh batang tubuh sebuah tanaman, sebagaimana pola yang sama menggerakkan impuls-impuls di dalam sistem syaraf kita (sifatnya langsung), sementara meander menditribusikan energi dengan cara yang “santai” seperti pada otak dan usus manusia (sifatnya perlahan-lahan tapi merata). 


4. Sulur pokok anggur. Sumber gambar: Wikimedia.

Pola-pola bersusun (stacking) dan membungkus (packing) berfungsi sebagai ‘penyimpanan’ energi—tapi yang tetap bisa diakses oleh mereka yang membutuhkannya. Bentuk heksagon dari sarang lebah menunjukkan fungsi ini. Sarang lebah terbentuk secara sempurna demi mendukung suatu ruang agar memiliki kekuatan yang luar biasa dan ekonomis—bentuk yang juga diadopsi oleh arsitek Buckminster Fuller (1895–1983) untuk membangun kubah geodesik yang menggunakan energi secara ultra-efisien. Dengan meminjam prinsip-prinsip dan proses yang terjadi di alam, kita akan mendapatkan kenyataan bahwa berbagai pola itu sangat efektif bila diaplikasikan ke dalam praktik-praktik merancang seni dan desain. Dan bahwa dengan menerima prinsip, pola, dan proses yang terjadi di alam, kita bisa menciptakan desain yang elegan dan estetik secara intuitif, bukan karena kebetulan semata. 


5. Bangun spiral pada bunga matahari.

Contoh lain, misalnya bangun spiral. Spiral, atau pun helix, terkait dengan energi yang ‘menghubungkan’. Spiral mengekspresikan gerak yang repetitif, tapi juga bisa dilihat sebagai sejumlah kurva yang berkesinambungan dan mengembang secara geometris. Ia mengikuti bentuk asalnya sebagai kurva, tapi juga mengembangkan dirinya. Spiral merupakan bangun (shape) yang sangat penting bagi kehidupan. Ia adalah embrio dari segala yang tumbuh dan bergerak dari titik pusatnya ke arah luar dan kemudian membentang ke dalam kehidupan, menghirup kehidupan. Pola spiral bisa dijumpai secara luas di alam—dikodekan pada tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia, bumi, dan galaksi di sekitar kita (15.1–15.5). 


6. Biosfer Montreal, Buckminster Fuller, 1967. Sumber gambar: Wikimedia.

“Spiral adalah bangun yang menakjubkan untuk dipakai sebagai model (template) dalam merancang logo atau grafis bagi institusi yang bisnisnya terkait pada produk atau jasa kreatif, bidang pengembangan (progressed), atau yang berkaitan dengan daya cipta (inventive). Merupakan  penjelmaan dari evolusi: terhubung, dan serupa dalam banyak hal (misalnya, serupa dengan generasi sebelumnya), tapi juga ekspansif (perpaduan para induk yang memperkenalkan keragaman). Bangun spiral secara sempurna mengekspresikan fungsinya sebagai mirip dengan dan sekaligus berbeda dari—yang merupakan bentuk terbaik dari kreativitas.”[1]

Menurut Maggie, pola yang sifatnya menghubungkan (connection and regeneration patterns), menggerakkan (patterns of movement), dan menyimpan (stacking and packing patterns) itu adalah pola-pola dasar. 

Pola dan bangun yang hadir di alam ini berproses dalam berbagai bentuk yang bisa ‘dialami’ oleh manusia melalui inderanya. Keberadaannya merupakan hal biasa bagi semua orang. Sejumlah pola yang mengekspresikan energinya secara nyata itu bisa dipahami oleh setiap orang terlepas dari mana orang itu berasal, prinsip-prinsip universalnya menuntun prosesnya dalam mengada. Masih menurut Maggie:

“Kita memahaminya secara intuitif; kata-kata merupakan bahasa pikiran, tapi visual adalah wujud bahasa perasaan.”[1]


7. Pandangan sebagian dari Olympiapark (pandangan ke bawah dari Menara Olympia (Olympiaturm), Stadion Olimpiade yang dirancang untuk Olimpiade Musim Panas 1972, Munich. Struktur tarik-menarik (tensile structure) yang menutupi sebagian taman ini dirancang oleh arsitek dan insinyur Jerman Frei Otto (1925–2015) dan Günther Behnisch (1922–2010). Einar Thorsteinn (1942–2015), seorang arsitek Islandia yang menaruh minat pada struktur geometris, pada 1969–1972 bekerja pada Frei Otto membantu merancang Olympiapark.

Dalam pandangan Maggie, bahasa alam yang universal itu merupakan bahasa manusia yang paling awal dan utama. Dalam bukunya, Maggie berkisah mengenai upaya merebut kembali ‘seni membaca alam’ yang menurutnya telah hilang, untuk menciptakan komunikasi visual yang lebih baik, di samping menanamkan pengertian dan memberikan penghargaan yang lebih kepada alam.


[Bersambung » Membaca Alam (2)]

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  




***


Tulisan-tulisan lainnya di sini.

24.1.18

Memahat Indonesia dengan Cinta (2)

[Sambungan dari Memahat Indonesia dengan Cinta (1). Bagian kedua dari tiga bagian]



Demi kehidupan
“Tiap orang didesain untuk melakukan pekerjaan tertentu, gairah atas kerjanya itu ada di hatinya.” —Jalaluddin Rumi (1207–1273)
Lihatlah ke luar jendela. Pada burung-burung berkelana di fajar pagi merekah; dengan suka cita, demi sesuap biji-bijian atau serangga bagi anak-anaknya, hingga petang. Rasakan hembusan angin lembut di dedaunan yang sedang melebat. Atau pandanglah kanak-kanak berkejaran riang tak kenal lelah di depan rumah. Dan tubuh sehat kita ini kala terbangun dari tidur malam yang lelap. 

Perhatikan bagaimana Alam Semesta bekerja selaras hukum yang ditentukan baginya. Matahari, sumber energi seluruh kehidupan, yang senantiasa bergerak di garis edarnya. Bumi, di mana kehidupan bergulir, yang terus bergerak melintasi orbitnya mengelilingi Matahari. Yang berputar pula pada porosnya, demi menghadirkan siang dan malam. Tidakkah kita merasakan kehadiran energi Cinta di dalam semua yang mengada itu?

Semakin kita menyadari apa yang mendasari terjadinya Alam Semesta semakin kita takjub dengan keindahan desainnya. 

Seperti digambarkan oleh peneliti Rolf A.F. Witzsche:

Sebuah atom adalah rongga kosong di mana keajaiban terbentang. Fisika nuklir menyatakan bahwa Alam Semesta tak mengandung materi setitik pun, bahkan di bagian terkecil atom yang paling kecil sekali pun. Melainkan merupakan susunan energi beserta kekuatannya yang tersusun harmonis, di mana tanpanya Alam Semesta tidak akan ada. Di tengah rongga kosong yang membentuk sebuah atom, mengelompok partikel berukuran sangat kecil di mana mengorbit sekawanan partikel yang bahkan lebih kecil lagi di sekelilingnya. Pergerakan mereka sedemikian cepatnya sehingga mereka berada serentak di mana-mana, menciptakan bola yang tampil “padat”. Maka, apa yang disebut partikel itu sesungguhnya bukan entitas padat, namun konstruksi dari berbagai jenis quark, yang oleh para fisikawan didefinisikan sebagai titik-titik energi yang bergerak cepat.

Dengan demikian, apa yang disebut sebagai materi dasar atau partikel dasar itu sebenarnya tidak ada. Segala sesuatu yang kita lihat dengar, atau sentuh, bahkan Bumi tempat kita tinggal ini, hanyalah bangunan pola-pola energi yang diatur oleh prinsip-prinsip harmonisasi yang sekaligus mengungkapkan adanya susunan mendasar dari sebuah Kecerdasan yang luar biasa. Jika salah satu saja prinsip keselarasannya tiada, atau bertentangan dengan pola keseluruhannya, Alam Semesta tidak memiliki landasan untuk eksis, dan karenanya tidak akan ada. 

Tapi Alam Semesta memang ada! Yang adalah produk dari ‘Kecerdasan’ luar biasa bersama ’Spirit’ penyelarasnya, yang oleh Rolf A.F. Witzsche disebut ‘Cinta’. Di luarnya tak ada apa-apa. Satu-satunya bangun dasar yang ada di Alam Semesta adalah Kecerdasan beserta Spirit harmonisasinya, yaitu Cinta. Bila Alam Semesta mengada karena Cinta, maka untuk memahami diri kita dengan benar, kita juga semestinya bisa melihatnya dalam cahaya yang sama. Tanpa Cinta, Alam Semesta sama sekali tidak akan ada. Kita juga tidak pernah eksis tanpa Cinta.

Hukum Alam Semesta adalah keseimbangan, semua berasal dari keseimbangan, yang berdasarkan pada prinsip Cinta, yaitu ‘memberi dan diberi’. Dengan mencintai laut, nelayan akan mengenal lebih baik kekayaan laut yang telah memberinya kehidupan. Mencintainya akan membuat nelayan memperlakukan laut dengan rasa hormat, menghargai, menjaga, dan memeliharanya. Laut, bagai tanah bagi petani, adalah hakikat kehidupan nelayan. Seorang petani yang tidak menghayati tanah atau lahannya dengan Cinta, sesungguhnya bukanlah petani sejati. 

Ada dimensi spiritual di dalam setiap pekerjaan. 

Kala kita menyirami tanaman di kebun, kita berpartisipasi dalam penciptaan. Ketika kita mencat ulang dinding rumah kita, kita membawa keteraturan baru di lingkungan kita. Saat kita memperbaiki perabot rumah yang rusak, kita memperpanjang usianya, serta memperbarui kehidupannya. Ketika kita menyentuh apa saja dengan respek, menjaga dan merawatnya, kita turut mengontrol keseimbangan Alam dan menjadi bagian dari kelestarian Semesta. 




———
Referensi

Rolf A. F. Witzsche. Without Love the Universe Would Not Exist. lovescapenovels.rolf-witzsche.com.

***

Tulisan-tulisan lainnya di sini.


9.1.18

Ketahanan dalam Keragaman (3)

[Bagian terakhir dari tiga bagian. Sambungan dari Ketahanan dalam Keragaman (2)]

Saudaraku, sepagi ini aku menuju puncak, merambah bebukitan hijau.

Makin tinggi bukit kudaki, makin kaya keragaman hayati. Makin ragam hayati, makin kuat ekosistem.

Dari lereng bukit, kusaksikan hamparan hijau dedaunan. Alam hijau terkembang karena tumbuh dalam cinta; hasil perjumpaan kerjasama aneka sumberdaya: bibit hayati, sinar mentari, kesuburan bumi, dan semilir angin. 

Di hamparan dedaunan hijau, masih tampak bebutiran embun. Meski terperangkap di daun lusuh, butir embun tetap bening, tak tercemar lingkungan yang kotor.

Tatkala sinar mentari menerpa kabut, alam membiaskan cahya perak berkilau. Saat gelap berganti terang dengan pelayanan sang surya, embun pun mengakhiri tugasnya, bergegas memuai membasahi terik langit dengan uap.

Alam tahu kapan harus datang dan pergi. Bisa saling berbagi meski tak bisa saling merasakan. Teguh mengemban misi suci, tak mudah goyah karena keadaan. Makin tinggi posisi, makin memberi ruang hidup bagi keragaman.

Embun dan mentari datang tanpa permisi, pergi tanpa pamit. Embun memberi pendinginan, mentari memberi kehangatan. Silih berganti berbagi tugas pelayanan tanpa pamrih, tanpa kecuali.

Jika alam yang tak bisa saling merasakan bisa saling berbagi dan melayani, mengapa manusia yang bisa saling merasakan tak bisa saling memberi dan mengasihi?
—Yudi Latif, Guru Alam, 2017 

Cara pandang sistemis (dalam keterhubungan)
Pada ceramah yang disampaikannya pada 2008 di Center for Ecoliteracy and Teachers College Columbia University, Fritjof Capra menguraikan pemikirannya bahwa untuk bisa memahami dengan benar, agar bisa melek ekologis (ekoliterasi), kita perlu belajar selalu berpikir dalam hubungan (sistemis), dalam interkoneksi, dalam pola-pola, atau dalam konteks. 

Metode berpikir sistemis (systems thinking) ini muncul dari serangkaian dialog interdisipliner di antara para ahli biologi, psikolog, dan ahli ekologi, pada 1920-an dan ’30-an. Di semua bidang ini, para ilmuwan menyadari bahwa sistem-sistem kehidupan—organisme, ekosistem, atau pun sistem sosial—merupakan suatu keutuhan terpadu yang tidak dapat direduksi menjadi bagian-per-bagian yang lebih kecil. Sifat ”sistemis” adalah keseluruhan, yang tidak dimiliki oleh bagian-per-bagiannya. Jadi, berpandangan sistemis melibatkan pergeseran perspektif berpikir dari bagian-per-bagian kepada berpikir secara utuh. Para pemikir sistemis awal menciptakan ungkapan seperti ‘the whole is more than the sum of its parts’.

Apa sesungguhnya arti semua ini? Dalam pengertian bagaimana ‘keseluruhan itu bermakna lebih dari jumlah bagian-bagiannya’? Jawabannya adalah: hubungan (relationships). Semua sifat penting dari sistem kehidupan bergantung pada pertalian antar komponen-komponennya. Berpikir sistemis berarti berpikir dalam hubungan. Memahami kehidupan membutuhkan pergeseran cara berpikir, dari yang berfokus pada ‘objek’ kepada yang berfokus pada ‘keterhubungan’.

Memahami keterhubungan tidaklah mudah, karena merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kegiatan ilmiah tradisional dalam budaya Barat. Dalam sains, kita telah diberitahu, bahwa segala sesuatu itu perlu diukur dan ditimbang. Tapi keterhubungan tidak bisa diukur dan ditimbang; keterhubungan perlu dipetakan. Jadi ada pergeseran lain: dari pengukuran kepada pemetaan (from measuring to mapping).

Capra menunjukkan bahwasanya memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang lebih kecil (kenaikan harga minyak misalnya) hanya akan membawa para pembuat kebijakan terperosok ke dalam masalah, karena dengan demikian tidak dapat melihat hubungannya dengan isu-isu yang jauh lebih besar: Harga pangan melonjak, mengimbangi nilai pasar minyak sebagai sumber bahan bakar potensial, sementara kelaparan dan kemiskinan meningkat di seluruh dunia. Atau, saat umat manusia bersama-sama menciptakan lingkungan yang semakin memanas, daerah penghasil makanan beriklim sedang berubah menjadi padang pasir, mengakibatkan kenaikan harga pangan, maka kemiskinan dan kelaparan pun meningkat. Dalam hal ini, Capra ingin menunjukkan bagaimana makanan, kesehatan, dan lingkungan saling terkait erat dengan fakta kehidupan baru di dunia dewasa ini.

Nah, saat Anda memetakan keterhubungan, Anda akan menjumpai bentuk yang berulang-ulang. Inilah yang kita sebut dengan pola (pattern). Jaringan (networks), siklus (cycles), putaran arus-balik (feedback loops), adalah contoh pola-pola organisasi yang menjadi ciri khas kehidupan. Berpikir sistemis melibatkan pergeseran fokus dari kepada isi (contents) menjadi kepada pola (patterns).

Capra juga menekankan bahwa memetakan keterhubungan dan memelajari pola bukanlah pendekatan kuantitatif melainkan kualitatif. Berpikir sistemis menyiratkan pergeseran dari kuantitas ke kualitas. Pola bukan deretan bilangan tapi gambaran visual.

4. Planet kita, masyarakat kita, dan kita sendiri adalah debu bintang. —Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel. 

Sumber gambar: Emaze.

Studi tentang sistem keterhubungan ini tidak hanya menyangkut hubungan antar-komponennya, tetapi juga antara sistem itu secara keseluruhan dengan sistem-sistem yang lebih besar di sekelilingnya. Hubungan antara suatu sistem dan lingkungannya adalah apa yang kita maksud dengan konteks. Berpikir sistemis selalu merupakan cara berpikir yang kontekstual. Ini menyiratkan adanya pergeseran dari pengetahuan objektif kepada pengetahuan kontekstual.

Pada akhirnya kita perlu memahami bahwa kehidupan itu lebih dari sekadar bentuk, lebih dari sekadar konfigurasi berbagai komponennya yang statis. Sementara wujudnya bertahan, ada aliran zat terus-menerus melalui sistem kehidupan; terjadi perkembangan, dan ada evolusi. Pemahaman tentang struktur kehidupan terkait erat dengan pemahaman tentang proses metabolisme dan proses perkembangan. Jadi, berwawasan sistemis mencakup pergeseran pada fokus perhatian: dari struktur ke proses. Systems thinking means a shift of perception from material objects and structures to the nonmaterial processes and patterns of organization that represent the very essence of life.

Leluhur kita memuja Matahari.Mereka sama sekali tak bodoh. Masuk akal untuk memuja Matahari dan bintang-bintang karena kita anak-anak mereka.[i]

Silikon di batu, oksigen di udara, karbon di DNA kita, besi di pencakar langit kita, perak di perhiasan kita, semua terbuat di dalam bintang miliaran tahun lalu.

Planet kita, masyarakat kita, dan kita sendiri adalah debu bintang.

Cosmos: A Spacetime Odissey, National Geographic Channel


———
[i] Mataharilah primadona di panggung pertunjukan Alam Semesta, bukan Bumi. Bintang terdekat dengan Bumi ini merupakan sumber semua panas dan cahaya yang membuat bunga bermekaran, dan burung bersenandung. Tanpanya tak ada kehidupan. Kita tidak akan memiliki sistem tata surya tanpa Matahari. 

Saat atom hidrogen berfusi di dalam Matahari, atom-atom itu membuat atom helium. Fusi ini menimbulkan ledakan energi yang bisa berkeliaran di dalam Matahari selama sepuluh juta tahun sebelum mencapai permukaannya. Setelah di sana, energi itu bebas untuk terbang langsung dari Matahari ke Bumi sebagai cahaya yang terlihat. Jika cahaya itu mengenai permukaan daun ia akan disimpan dalam tanaman sebagai energi dunia. Betapa beruntungnya kita memiliki sumber energi bersih yang besar ini jatuh seperti mana (Bahasa Austronesia: kekuatan supernatural) dari surga untuk kita semua.


———
Referensi

Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel. 

Fritjof Capra. The New Facts of Life. EcoLiteracy, ecoliteracy.org


.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  





***


Tulisan-tulisan lainnya di sini.

Ketahanan dalam Keragaman (2)

[Bagian kedua dari tiga bagian. Sambungan dari Ketahanan dalam Keragaman (1)]

“Untuk mengamati gerak seekor serangga diperlukan perhatian—itu jika anda berminat untuk mengamati serangga itu atau apa pun yang menarik perhatian anda. Perhatian ini pun tidak terukur. Itulah tanggung jawab pendidik untuk mengerti seluruh sifat dan struktur memori, untuk mengamati batas-batasnya dan untuk membantu siswa melihatnya. Kita belajar dari buku atau dari seorang guru yang mempunyai informasi banyak tentang mata pelajaran tertentu dan otak kita dipenuhi dengan informasi-informasi ini. [...] Begitulah proses mendapatkan informasi berlangsung terus menerus dan secara bertahap kita menjadi manusia yang usang, tidak asli.” —J. Krishnamurti, Surat untuk Sekolah, 1 Desember 1978

Mendekati tahun 1970-an minat saya telah merambah ke dunia hewan, saya mulai tertarik merawat ikan. Lahan tempat saya “bermain” pun meluas, menyerobot pula halaman tengah rumah. Selain mengubah peruntukan bak penyimpanan air sumur di halaman belakang menjadi kolam ikan, saya meletakkan pula beberapa akuarium air tawar di beberapa sudut di halaman tengah; di bawah pohon jambu yang rindang, dan di atas peti-peti kemas. 

Saya tak tanggung-tanggung menekuni dunia baru ini. Memelajari karakter tiap spesiesnya dari sejumlah buku, hingga hafal di luar kepala nama-nama Latinnya. Saya juga belajar bagaimana menyatukan ikan-ikan yang beraneka jenis itu supaya bertahan hidup dalam keragamanannya yang adaptif (compatible). Kompatibilitas dan toleransi menjadi kunci dalam hidup bermasyarakat. Keindahan visual sebuah akuarium menjadi optimal ketika mereka hidup berdampingan dengan damai di dalam komunitasnya. 

2. Akuarium air tawar. Sumber gambar: TropiCo Aqua.

Tentu ada saja spesies tertentu yang tak bisa berdamai dengan sesamanya, sikapnya yang intoleran ini membuat jenis ini sebaiknya diasingkan di tempat tersendiri. Mereka indah hanya dalam kesendiriannya. Blue Gourami atau sepat biru misalnya tergolong salah satu jenis yang agresif, sementara Siamese Fighter (cupang/petarung), yang populer dengan sebutan internasionalnya, Betta, termasuk jenis ikan liar yang suka berkelahi. Cupang sangat terikat pada teritorialnya dan akan menyerang ikan lain yang mendekat ke tempat mereka. Untuk jenis yang terakhir ini saya memang sering melihatnya dijajakan sendirian di tempat terpisah di toko-toko hewan peliharaan. Konon usaha membudidayakannya di negara asalnya, Thailand/Siam, yang setidaknya telah berlangsung selama beberapa ratus tahun itu, memang untuk tujuan diadu, sebagai hiburan. Mereka diperlakukan layaknya gladiator di Zaman Romawi. 

Di dalam akuarium, pada bagian atas (permukaan air), biasanya saya menyatukan jenis Danio (Zebra) dengan Guppy (Rainbow Fish) atau Molly. Bentuk mulut mereka yang menghadap ke atas memudahkan ikan jenis ini menangkap serangga atau makanan yang jatuh ke air. Karakter mereka yang ceria serta lincah membantu “membawa” spesies yang lebih tertutup ke tempat terbuka. 

Pada bagian tengah akuarium, saya suka menempatkan jenis Tetra yang suka hidup berkelompok seperti Neon Tetra, Penguin Tetra, Glowlight Tetra, dan Harlequin Rasbora. Jenis Discus, juga Angel Fish, senang berada di bagian ini, keelokannya akan menjadi pusat pandangan (center-of-view). Sementara di bagian bawah saya menempatkan jenis omnivora semacam Otocinclus yang bekerja 24 jam/hari membersihkan lumut di kaca, batu, dan dedaunan (algae eater). Beberapa jenis keong yang juga pemakan lumut bisa ditambahkan untuk melengkapi jaringan kehidupan di dalam sebuah akuarium.

3. Siklus nutrisi dan energi ada di sebuah akuarium:

1. Pakan diberikan ke ikan.
2 & 3. Amonia hasil metabolisme ikan diproses bakteri nitrifikasi.
4. Nitrat diserap tumbuhan air.
5. Air menguap dari permukaan air akuarium.
6. Cahaya matahari diserap tumbuhan air.
7. Detritivora memakan feses ikan dan bagian tumbuhan yang telah mati.
8. Tumbuhan air melepaskan oksigen.
9. Tumbuhan air menyerap karbon dioksida.

Sumber: Wikipedia.

Ekoliterasi, masa depan kehidupan
Dari sebidang kebun, atau sebuah akuarium, kita bisa belajar bahwa alam menopang kehidupan dengan cara menciptakan dan memelihara komunitas-komunitas. Tak ada organisme apa pun yang bisa mewujud dalam keterasingan. Hewan bergantung pada fotosintesis tanaman untuk kebutuhan energinya; tanaman bergantung pada karbon dioksida yang dikeluarkan oleh hewan, juga pada nitrogen yang secara tetap diproses oleh bakteri di dalam akar-akarnya; serta secara bersama-sama tanaman, hewan, dan mikroorganisme mengendalikan seluruh biosfer serta menjaga kondisinya agar kondusif bagi kehidupan.

Dan dari Capra, saya belajar memahami bahwa sesungguhnya keberlangsungan kehidupan bukanlah monopoli individu-individu, melainkan peran-serta seluruh jaringan yang terhubung. Dan senantiasa melibatkan keseluruhan masyarakat. Inilah pelajaran penting yang bisa dipetik dari alam. Yaitu bahwa cara untuk bertahan hidup adalah dengan membangun dan merawat kehidupan bermasyarakat. Komunitas manusia berinteraksi dengan komunitas lain—baik komunitas manusia atau pun bukan—dengan cara yang memungkinkan mereka bisa hidup dan berkembang sesuai dengan sifat alaminya masing-masing. Kesinambungan tidaklah berarti bahwa segala sesuatu dalam keadaan tidak berubah. Tetapi adalah jalinan proses berevolusi bersama (co-evolution) yang bersifat dinamis, bukan suatu keadaan yang statis.

Fritjof Capra menulis, matinya kupu-kupu di Singapura berpengaruh terhadap iklim di Amerika. Antropolog sosial Gregory Bateson menyebut ada jejaring keterhubungan di antara kita. Thich Nhat Hanh mengajarkan, kita adalah daun-daun berbeda dari pohon yang sama, bintang-bintang berbeda dari langit yang sama. Daniel Goleman menyebutnya Ecological Intelligence.[2]

Dalam beberapa dekade mendatang, kelangsungan hidup manusia akan ditentukan oleh kemampuannya dalam membaca ekologi (ekoliterisme)—kemampuan untuk memahami prinsip-prinsip dasar ekologi, dan hidup sejalan dengannya. Ini berarti bahwa ekoliterasi harus menjadi keterampilan kritis bagi politisi, pemimpin bisnis, dan profesional di segala bidang, dan harus menjadi bagian terpenting dari pendidikan di semua tingkat—mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah hingga perguruan tinggi, universitas, serta berbagai pendidikan dan pelatihan keahlian, juga menjadi bacaan di masa pensiun.


———
[2] Id.


———
Referensi

Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel. 

Fritjof Capra. The New Facts of Life. EcoLiteracy, ecoliteracy.org



.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  





***


Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...