Tampilkan postingan dengan label Museum Desain Grafis Indonesia (MDGI). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum Desain Grafis Indonesia (MDGI). Tampilkan semua postingan

8.12.17

Cakapan dengan Maydina Zakiah Siagian untuk Situs Indonesia Kreatif

Dalam presentasi DGI di FGDexpo, 26–29 September 2013.



1. Sejak kapan bapak mulai berkarya?

Sejak saya memulai studi saya, 1972, di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) "Asri", Yogyakarta. Seusai masa studi, 1975, saya ke Jakarta, dan bekerja di biro iklan "Matari", 1976. Garis besar catatannya bisa dikuti melalui CV yang dipublikasikan di situs pribadi: "in quotes" » http://hannykardinata.wordpress.com/. Yang belum sempat di update pada CV itu adalah beberapa aktivitas di 2013, seperti:

Sebagai Juri pada Lomba Maskot KPU (Komisi Pemilihan Umum) untuk Pemilu 2014.
Sebagai Kurator RBDI (Reka Baru Desain Indonesia) 2013  untuk Kategori DKV yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf. 


2. Karya-karya apa saja yang telah bapak hasilkan?

Desainer grafis angkatan '70 saat itu masih 'dituntut' menghasilkan segala jenis karya grafis, mulai dari ilustrasi hingga logo, poster, buku, dsb. Terlampir link ke sebagian karya saya yang dipajang di rubrik "Gallery" bersama rekan-rekan sezaman (diklik pada bagian yang mencantumkan nama saya saja):

http://dgi-indonesia.com/illustration/
http://dgi-indonesia.com/logo-1980-1989/
http://dgi-indonesia.com/books-1980-1989/
http://dgi-indonesia.com/poster-1980-1989/
http://dgi-indonesia.com/logo-1990-1999/
http://dgi-indonesia.com/books-1990-1999/
http://dgi-indonesia.com/catalogs-2000-2009/

[Catatan: Dewasa ini situs dgi-indonesia.com sudah tidak dipakai lagi, diganti dengan dgi.or.id. Tapi belum semua artikel bisa dimigrasikan.]


3. Bisa diceritakan proses bapak dalam berkarya sehingga menghasilkan karya-karya seperti sekarang ini?

Hingga periode 1980-an, saya mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari merancang konsep hingga mengeksekusinya. Pada pertengahan 1980-an–pertengahan 1990-an saya lebih banyak memikirkan konsep, kerja eksekusi 'diambil alih' oleh asisten-asisten saya di biro grafis "Citra Indonesia" (lihat CV). Lalu karena merasa tidak lagi mempunyai karya yang murni saya kerjakan sendiri (dari konsep hingga hasil akhirnya), maka sejak pertengahan 1990-an – pertengahan 2000-an saya kembali mengerjakan semuanya sendiri (lihat CV).

Khusus mengenai teknik menggambar, kebanyakan ilustrasi saya kerjakan dengan menggunakan teknik dry brush (kuas kering), sebuah teknik yang saya temukan sendiri saat masih studi di STSRI "Asri".


4. Dari berbagai karya yang ada, karya mana yang paling berkesan?

Poster "Buatan Indonesia. Mengapa Tidak?", 1987 » http://dgi-indonesia.com/poster-1980-1989/

Poster ini dipilih sebagai juara pertama lomba poster yang diadakan oleh Kementerian UP3DN (Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri), ITB (Institut Teknologi Bandung), dan P3I (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), serta diikuti oleh ratusan desainer grafis masa itu karena hadiahnya yang terbesar sepanjang masa (kala itu). 

Berkesan sekali, karena pada awalnya saya justru tidak pernah berniat mengikuti lomba ini. Ceritanya, hampir semua desainer di biro grafis saya mengikuti lomba tersebut. Salah seorang darinya, menunjukkan sketsa-sketsanya kepada saya agar mendapat masukan. Setelah memberikan beberapa komentar, untuk beberapa saat lamanya pikiran saya jadi terus terfokus untuk memikirkan solusi-solusi yang lebih baik. Akhirnya saya juga membuat beberapa sketsa, yang kemudian saya berikan kepada asisten desainer saya itu untuk dia eksekusi atas namanya. Tapi hingga beberapa hari menjelang waktu penutupan lomba, saya lihat dia masih asyik mengerjakan karyanya sendiri. Sketsa saya itu saya minta kembali dan saya kerjakan sendiri di rumah. Dan ternyata kemudian karya itu menang!


5. Karya yang paling disukai/niat membuatnya?

Ilustrasi Guruh Sukarnoputra, 1979 » http://dgi-indonesia.com/illustration/

Ilustrasi ini merupakan pesanan Guruh bagi materi promosi pergelaran perdana Swara Maharddhika (poster, sampul kaset, dsb.). Karena formatnya yang besar, saya mengerjakannya bergantian di meja gambar dan di lantai. Di meja gambar untuk detailnya, sementara di lantai untuk mengontrol 'irama musik' yang saya harapkan muncul pada ilustrasi ini. Seluruhnya saya kerjakan dengan teknik dry brush, menggunakan kuas cat minyak tapi dengan media poster color, teknik menggambar yang saya temukan ketika saya masih studi di STSRI "Asri".


6. Bisa diceritakan sedikit tentang perjalanan hidup bapak hingga seperti sekarang ini?

Kesenangan saya menggambar mungkin saya warisi dari ayah saya, tapi dengan perfeksi yang masih jauh di bawahnya. [Lihat: Jalan Membebaskan (1)]. Kata ibu saya, kalau saudara-saudara saya menghabiskan waktu mainnya dengan memanjat pohon, naik atap rumah, dan bermain layang-layang (misalnya), saya hanya menggambar saja di meja di kamar saya. Saya sering membuat komik bersambung yang kemudian dibaca secara bergiliran oleh teman-teman saya di sekolah (SMP). Di antara teman-teman SMA saya satu-satunya yang melanjutkan ke pendidikan seni rupa—catatan: belakangan saya ketahui ada dua teman SMA saya yang juga memilih fakultas yang sama, Hari Yong Condro [Lihat: Bersetubuh dengan Dua Dunia (1)] dan Watie Moerany. Seperti ikan yang baru ketemu air, saya merasa telah memilih jurusan yang tepat. Masa kuliah menjadi masa yang bahkan jauh lebih menyenangkan daripada masa SMA.


7. Siapa yang menginspirasi bapak dalam berkarya? Bagaimana dengan keluarga? Apakah mendukung?

Tentu keluarga mendukung. Tapi saya tidak bisa mengingat siapa yang telah menginspirasi saya. Saya kira saya banyak membaca buku—buku apa saja: desain, seni, budaya, filsafat, psikologi, sastra, musik, juga komik, cerita silat, dll.—yang kesemuanya itu pasti ada pengaruhnya [catatan: belakangan saya ingat pada buku Koleksi Lukisan dan Patung Presiden Soekarno (5 jilid) yang dibelikan oleh ayah saya yang telah menumbuhkan kecintaan saya pada seni rupa].


8. Momen apa yang paling berkesan dalam hidup bapak? Titik tolak bapak hingga bisa seperti sekarang ini?

Masa–masa kuliah di "Asri" (1972–1975).
Seusai studi dan berkarya di Jakarta (1976–1983), dimana saya bertemu dengan beberapa orang hebat: seniman, budayawan, sejarawan, dsb.

Titik tolak terpenting terjadi pada periode 2000-an saat dimana kondisi penglihatan saya mulai menurun dan menurun terus. Saya tidak bisa lagi membuat ilustrasi, yang pada umumnya membutuhkan sentuhan detail pada pengerjaannya, terutama bila menggunakan teknik dry brush. Pada saat itu teknologi blog mulai populer di Indonesia. Dalam keadaan banyaknya waktu senggang ketika itu, saya mulai mengetik ulang kliping-kliping yang saya kumpulkan mengenai desain grafis Indonesia sejak 1980–1990-an, dan menerbitkannya satu persatu di sebuah blog yang saya beri nama "Desain Grafis Indonesia". Itulah saat kelahiran situs DGI, dimulai pada tanggal 13 Maret 2007.


9. Nilai apa yang bapak pegang dalam kehidupan bapak selama ini?

Nilai-nilai kebaikan. Berbuat baiklah selalu bagi negeri kita ini.


10. Apakah impian bapak kini telah tercapai semua kini?
11. Jika belum, hal apa yang ingin dicapai selanjutnya?

Saya mengumpulkan catatan-catatan mengenai desain grafis Indonesia dan sekarang sedang merangkainya ke dalam sebuah buku. Kalau ini bisa diterbitkan pada tahun depan maka sebagian cita-cita saya akan terwujud, yaitu memiliki Sejarah Desain Grafis Indonesia. Cita-cita lainnya yang belum terealisasi adalah Museum Desain Grafis Indonesia. Lahan yang semula direncanakan untuk MDGI, yaitu Chandari di daerah Ciganjur, ternyata tidak bisa dibangun karena berada di daerah resapan air DKI.


12. 3 kata yang menggambarkan diri bapak?

Ini sulit sekali, saya kira orang lain yang lebih bisa menggambarkannya :-)


13. Tips dan trik untuk para generasi muda agar kreatif?

Jangan lupa membaca sejarah, siapa tahu apa yang kita hasilkan yang kita anggap sebagai inovasi itu sebetulnya sudah ada yang membuatnya bertahun-tahun yang lampau. Pada pendapat saya, sejarah desain grafis adalah perjalanan evolusi ide-ide atau nilai-nilai. 


14. The best quote yang menginspirasi bapak dalam berkarya? 

Awal yang sederhana bisa membawa manfaat yang lebih besar bila dijalani dengan tekun dan konsisten.


15. Melihat serangkaian prestasi bapak di berbagai bidang,di antara berbagai peran yang melekat pada diri bapak, bapak ingin dikenal sebagai apa? penulis/desainer/atau apa pak?

Rasanya saya tidak pernah memikirkan ini, saya berjalan mengalir saja. Tapi saya memang desainer grafis, juga sedang belajar menulis, terutama mengenai sejarah desain grafis Indonesia.

Kemudian pak terkait dengan DGI, hal apa yang ingin dicapai kelak dari DGI? Dan bisa dijelaskan proses transformasi DGI menjadi penerbit buku?

Dengan memanfaatkan teknologi virtual, DGI mengumpulkan dan menyampaikan informasi mengenai desain grafis Indonesia secara merata dan berkesinambungan ke seluruh Indonesia –juga dunia– yang kelak akan diwujudkan secara fisik dalam bentuk Museum Desain Grafis Indonesia (MDGI). Selain sebagai media, DGI juga berfungsi sebagai pusat data (database), terbagi atas data visual dan data verbal. Data visual terdiri atas:Online Gallery (1930-1939, 1940-1949, 1950-1959, 1960-1969, 1970-1979,1980-1989, 1990-1999, 2000-2009, 2010-2019), Online Exhibition, Portfolio & Inspiration dsb., dan data verbal terdiri atas: Profile, Article, Academic Writing,History, School & College dsb., serta gabungan keduanya: News & Event,City Creative Diary, Designer’s Diary, dsb.  

Setelah 6,5 tahun lebih (sejak 13 Maret 2007) data yang terkumpul di situs DGI (http://dgi-indonesia.com/) tentu sudah cukup banyak. Timbul gagasan untuk merangkai seluruh data itu dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Saya memulai penulisan buku "Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia" pada Juli 2012 dan berlangsung terus setiap hari hingga sekarang, sambil mencari jalan guna menerbitkannya sendiri. Selain itu, saya juga sudah harus memikirkan keberlanjutan DGI, tidak mungkin lagi DGI saya kelola sendiri terus. Sekitar Agustus 2013 saya bertemu Ismiaji Cahyono dan isterinya, Citra Lestari. Mereka sepakat untuk melanjutkan DGI. Kebetulan rumah, sekaligus studio, mereka baru pindah ke Bintaro, berdekatan dengan tempat tinggal saya. Hal ini tentu memudahkan proses komunikasi. Maka rencana mendirikan DGI Press pun dimatangkan. Henricus Kusbiantoro merancang desain logonya. Pada 25 Oktober 2013, DGI Press resmi terdaftar sebagai penerbit di Perpustakaan Nasional. Buku perdana DGI Press adalah karya Vincent Hadi Wijaya: "Perspektif: 19 Desainer Grafis Muda Indonesia", sebuah publikasi yang mengangkat wacana desain grafis melalui pemikiran 19 desainer grafis muda Indonesia.

Referensi mengenai DGI:


NB: Jikalau pertanyaan-pertanyaan di atas terlalu banyak pak, kapan kira-kira bapak ada waktu untuk diwawancara secara tatap muka

Kondisi kesehatan saya masih belum stabil, saya belum siap bertemu dalam waktu dekat ini. Kalau jawaban saya di atas masih ada yang kurang, silakan menghubungi saya kembali via email dan saya akan mencoba menyempurnakannya. 

Terima kasih atas kesediaannya yah pak utk menjadi nara sumber.Jikalau ada cv ataupun foto terkait, bisa turut disertakan.

Terima kasih juga atas kesempatannya, semoga bermanfaat.

CV bisa di copy dari 
http://hannykardinata.wordpress.com/. Foto hanya ada seadanya yang kebetulan diambil oleh terman-teman pada berbagai kesempatan (terlampir).



*** 

6.12.17

Perjalanan Tujuh Tahun Situs Desain Grafis Indonesia (DGI): 2007–2014 (3)

[Bagian terakhir dari tiga bagian: Perjalanan DGI V 3.0 (tengah 2013–awal 2014). Sambungan dari Perjalanan Tujuh Tahun Situs Desain Grafis Indonesia (DGI): 2007–2014 (2)]


2013: DGI V 0.3

Perkembangan DGI paling signifikan terjadi ketika pada Juli 2013 beberapa kali saya bertemu dengan Ismiaji Cahyono (Aji) dan Citra Lestari membahas mengenai masa depan DGI. Sejak satu dua tahun terakhir ini, saya memang terus memikirkan kemungkinan melakukan regenerasi pengelolaan DGI, tetapi belum menemukan solusi yang tepat. Kebetulan Aji dan Citra pindah ke perumahan Bintaro Jaya, berdekatan dengan tempat kediaman saya. Saya menawarkan pengalihan pengelolaan DGI kepada mereka berdua yang segera bersambut.

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Sabtu, 31 Agustus 2013

Setelah beberapa kali pertemuan, Aji sudah memiliki gambaran mengenai arah pengembangan DGI. Beberapa hal penting yang direncanakan selain upgrading situs DGI (DGI V 0.3), antara lain mengenai akan semakin banyaknya penyelenggaraan aktivitas offline (lokakarya, talkshow, pameran, ajang-ajang penghargaan), pengembangan produk-produk DGI termasuk divisi penerbitan, DGI Store, dll. serta kelanjutan pengembangan Museum DGI.

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Awal September 2013

Merespons tawaran Forum Grafika Digital (FGD)—melalui salah seorang aktivisnya, Peter Natadihardja—untuk mengisi sebuah booth di FGDexpo 2013 (26–29 September 2013), DGI menggandeng tiga desainer muda yang sedang menanjak kariernya, Yan Mursid, Novita Angka (Ipit), dan Adi Handoyo merancang konsep booth DGI dengan tema yang berpijak pada slogan DGI: Membimbing pemahaman di antara desainer grafis Indonesia dan persimpangannya dalam seni, desain, kebudayaan, dan masyarakat.

Bertolak dari kenyataan bahwa desainer grafis masih merupakan profesi yang belum banyak dipahami dan diapresiasi masyarakatnya—Yan, Ipit dan Adi mengajak para desainer grafis untuk bangga pada profesinya terlebih dulu lewat sebuah proyeksi video pada layar backdrop yang menampilkan rangkaian profil desainer-desainer lintas generasi, yang masing-masing menyebutkan namanya sambil mengucapkan kalimat "Saya seorang desainer grafis". 

Video itu diekspos di atas naskah slogan DGI yang terbuat dari akrilik putih yang dibentuk menggunakan teknologi laser cutting dan ditempelkan pada backdrop. Bentuk booth sederhana dengan rak kecil di sisi belakang untuk merchandise dan brosur DGI, dan meja yang terletak di sisi depan yang dipakai untuk menyimpan LED TV yang memuat reel yang merekam audio-video profil desainer-desainer itu.



Konsep booth DGI di FGDexpo 2013 dirancang oleh Yan Mursid, Novita Angka, dan Adi Handoyo.


Beberapa hari menjelang pembukaan pameran direncanakan untuk juga menyebar kampanye mim (Inggris: meme*) lewat media-media sosial yang mengungkap pengalaman-pengalaman para desainer grafis dalam menjalankan profesinya (Gb. 89).

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Sabtu, 7 September 2013

DGI memperkenalkan divisi penerbitannya, DGI Press.
DGI Press dikembangkan sejalan dengan komitmen DGI membina pemahaman antar desainer grafis dan persimpangannya dengan lintas disiplin–lewat materi bacaan yang menuntun ke pemahaman “Indonesia”–jati diri bangsa, jati diri desainer grafis itu sendiri.

Identitas DGI Press dirancang oleh Henricus Kusbiantoro dari kota New York. Esensi logo DGI Press sebagaimana dijelaskan oleh Henricus: 
“In South East Asia, the common durian is often regarded as a symbol of mystique and surprise because of its spiky and tough outer appearance, a pungent and lingering aroma that permeates everything around it, and an indescribable delicious flavour that ranges from sweet to bitter and a texture that's creamy and sometimes sticky. The idea of surprise, aroma and memorable is perfect metaphore for Desain Grafis Indonesia Press for go international in very distinctive and provocative way”.

Identitas DGI Press, Henricus Kusbiantoro 2013. 

"[...] the common durian is often regarded as a symbol of mystique and surprise because of its spiky and tough outer appearance, a pungent and lingering aroma that permeates everything around it, and an indescribable delicious flavour that ranges from sweet to bitter and a texture that's creamy and sometimes sticky'.



.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Senin, 23 September 2013: 

3 hari menjelang pembukaan hingga pada hari pembukaan FGDexpo 2013 (26 September 2013), DGI menyebar mim melalui laman DGI di Facebook yang esensinya mengkritisi profesinya, menyindir atau menyentil diri sendiri, di antaranya: 

"Desainer grafis? Oh seniman ya?" 
"Desainer grafis? Yang kerjaannya bikin spanduk ya?" 
"Anak saya desainer grafis, gak tau tuh kerjaannya ngapain" 
"Desainer grafis ya? Kalau cetak undangan berapa ya satunya?" 
"Ehm... gak tau deh, pokoknya saya gak suka aja sama desainnya...  
"Buatin saya logo kayak gini dong, bedain aja dikit warnanya" 
"Ongkos cetaknya udah mahal tuh, desainnya gratis aja ya" 
"Tolong buatin saya brosur, tapi untuk besok pagi bisa kan ya?"




Mim yang disebar melalui laman DGI di Facebook selama 3 hari berturut-turut menjelang pembukaan FGDexpo 2013 (26–29 September 2013) di Jakarta Convention Cemter.


Lebih 30 pamflet telah disebar selama 3 hari itu. Komentar-komentar, dan aktivitas-aktivitas berbagi pun meluas di Facebook. Tiap pamflet rata-rata menjangkau belasan ribu orang, beberapa di antaranya hingga 40.000 lebih, dan salah satunya yang berbunyi "Lu enak desainer grafis, kerjanya ngegambar doang" menjangkau 63.936 orang, serta telah disebar ulang oleh 1.085 orang!

Kampanye berikutnya—melengkapi tema "Saya seorang desainer grafis", merupakan penyebaran pamflet-pamflet yang mengingatkan kembali pada prestasi-prestasi yang pernah diraih oleh desainer-desainer grafis pendahulu, seperti:


"1978: Tjahjono Abdi menjadi orang Indonesia pertama yang menerima penghargaan prestisius Clio Awards" 
"Majalah desain grafis pertama terbit di Yogyakarta: Blank! (2002) oleh M. Arief Budiman" 
"Poster digunakan oleh seniman-seniman masa revolusi perjuangan kemerdekaan Indonesia sebagai upaya melawan penjajahan dan menumbuhkan semangat nasional yang baru" 
"2008: Yongky Safanayong dikukuhkan sebagai guru besar desain grafis pertama di Indonesia"

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Kamis, 26–Minggu, 29 September 2013

DGI berperanserta di FGDexpo 2013.




Booth DGI di ajang FGDexpo 2013 (26–29 September 2013), yang dirancang oleh Yan Mursid, Novita Angka, dan Adi Handoyo, dinominasikan sebagai salah satu dari 5 (lima) booth terbaik.

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  

Minggu, 29 September 2013 pukul 14.00–15.00

DGI menggelar presentasi di Business Presentation Room, Hall B, JCC, dipandu oleh Ismiaji Cahyono dengan nara sumber: Priyanto Sunarto, dan Yongky Safanayong.

Sejak regenerasi pengelolaan DGI disepakati, susunan pelaksananya menjadi sebagai berikut:

Founder: Hanny Kardinata 
Advisory Board: Priyanto Sunarto, Yongky Safanayong, Hermawan Tanzil, Henricus Kusbiantoro 

Manajemen 
Bureau Chief: Ismiaji Cahyono 
Superintendent: Citra Lestari 
Managing Editor: Vincent Hadi Wijaya 
Online Editor: Bertie Alia Bahaduri 
Program Board: Yan Mursid, Novita Angka, Adi Handoyo 
Development Board: Peter Natadihardja, Yoga Iswara 
Research Board: Hastjarjo Boedi Wibowo 
Creative Board: Henricus Kusbiantoro, Bambang Widodo 
International Affairs: Eve Vogelein 

Kontributor 
Andi Rahmat (Bandung), Sumbo Tinarbuko (Yogyakarta), Obed Bima Wicandra (Surabaya)

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Bandung | Jumat, 22 November 2013

DGI menghadiri Small City Big Design Lecture yang diselenggarakan oleh Norrm (Normal-Form) dan Unkl347 bertempat di Maja House, Bandung. Seminar ini mengundang desainer-desainer biro desain Büro Destruct (BD) yang berbasis di Bern, Swiss, Lorenz 'Lopetz' Gianfreda dan Felix Fideljus.


Seminar Small City Big Design oleh Büro Destruct (BD).

Menurut Lopetz, Small City Big Design diambil sebagai nama kerja sama BD dengan Unkl347 dan Norrm karena Bandung seperti halnya Bern, berada dalam bayangan kota besar (Jakarta, Zürich, dan Jenewa). Lopetz percaya bahwa—dengan dukungan kemajuan koneksi internet—desainer dari kota kecil pun mampu meraih pengakuan internasional. Berkat kesuksesannya, banyak pihak yang menganjurkan agar BD pindah ke kota yang lebih besar. Namun BD menolak karena mereka berasal dari Bern dan amat mencintai kota tersebut. Menurut mereka, Bern terasa sebagai "rumah", sehingga mereka dapat bebas berekspresi. Kantor BD terletak di pinggir sungai, sehingga pada saat istirahat mereka dapat berenang. 

Pada akhir sesi, para panelis sepakat bahwa profesi desainer dapat menentukan pusat desain (design capital) dari mana saja mereka berada, dan percaya bahwa bekerja dari kota kecil pun dapat memberikan dampak besar bagi dunia.

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Jumat, 29 November–Minggu, 1 Desember 2013

DGI berperanserta pada ajang Fresh n Brite Design Festival 2013 yang diselenggarakan oleh School of Design Binus University di Kota Casablanka Mall, Jalan Casablanca Kav. 88, Jakarta.

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Minggu, 1 Desember 2013

Pada ajang Fresh n Brite Design Festival 2013, DGI menyelenggarakan acara bincang-bincang Ngobrol Bareng (Design Talk) dengan topik:

  1. Kupas Tuntas "Saya seorang desainer grafis"
  2. DGI 2014 dan Masa Depan
Pada kesempatan ini, DGI juga memperkenalkan DGI-zine, publikasi ringkas dari DGI yang berisi suplemen tentang desain grafis. DGI-zine ini dibuat untuk menjadi nutrisi pelengkap artikel-artikel utama yang telah disuguhkan dalam situs DGI. Edisi pertamanya tampil dengan 8 desain sampul yang berbeda.


DGI-zine 001 dipublikasikan dengan 8 (delapan) pilihan desain sampul, dibagikan pada acara Fresh n Brite Design Festival 2013.

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Jumat, 10–Sabtu, 11 Januari, 2014

DGI Design Camp I: The Design of Addictions

Untuk merealisasikan komitmennya, DGI menyelenggarakan berbagai acara luring, dan yang perdana adalah DGI Design Camp (DDC) dengan tajuk: The Design of Addictions. Melalui DDC, DGI mengajak desainer keluar dari kesehariannya, jauh dari kebiasaan dan habitat rutinnya untuk bercermin dan secara intens berkreasi, menghasilkan karya bermutu, fungsional, dan dapat dinikmati oleh umum setelah kegiatan itu selesai. 

Profesional yang diundang diseleksi yang memenuhi standar kuratorial tinggi untuk memastikan hasil karya desain yang terwujud bermutu dan kelak dapat dikoleksi Museum DGI. Selain itu, tiap karya yang dihasilkan harus memiliki nilai ekonomi, sehingga kelak bisa dipasarkan melalui DGI Store.

DDC I mengeksplorasi perilaku ketergantungan manusia dan beragam metode kreatif untuk memanfaatkan perilaku tersebut guna menghasilkan karya desain yang berdampak positif bagi masyarakat. Tajuk DDC I ini digagas oleh Nigel Sielegar, perancang Indonesia yang berkiprah di New York, yang sekaligus memandu lokakarya ini sebagai instruktur. Sementara Cecil Mariani yang sealmamater dengan Nigel dari School of Visual Arts, NY, serta Ismiaji Cahyono selaku pengurus DGI membantu proses bimbingannya.

Obyek visual yang fungsional adalah tujuan utama output lokakarya ini. Oleh karena itu DDC menghadirkan teknologi-teknologi produksi digital yang mutakhir, mulai dari HP Indigo, printer format besar dari Epson, printer laser Canon, hingga printer tekstil Epson, yang disediakan agar para peserta secara total dapat menguji eksperimen-eksperimennya secara nyata.

DDC I diadakan di Gedung Samafitro |, Jl. Ir. H. Juanda No. 8, Jakarta Pusat dan diikuti oleh para pengajar DKV dari berbagai perguruan tinggi, profesional, dan mahasiswa dari dalam dan luar Jakarta.

Pada sesi utama, Nigel menyampaikan materi kuliahnya kepada lebih dari 60 orang yang terdiri dari peserta dan undangan, yang diawalinya dengan pertanyaan “Apabila desain dapat menghasilkan interaksi dan interaksi dapat menimbulkan kebiasaan, mungkinkah desain menghasilkan adiksi?”. 



Sesi pembukaan lokakarya DGI Design Camp I: The Design of Addictions, dan saat Nigel Sielegar menyampaikan materi kuliahnya.

Nigel membagi adiksi menjadi dua jenis: pertama, adiksi dalam bentuk pains + medicine (misalnya rokok, alkohol, obat-obatan), dan yang kedua, adiksi yang memenuhi kebutuhan manusia (misalnya kebutuhan untuk merasa dibutuhkan, kebutuhan untuk memperoleh pencapaian). Nigel menggunakan contoh Slot Machine (mesin paling adiktif di kasino-kasino), dari susunan posisi mesin sampai elemen visual yang ada di dalamnya memberi dampak psikologis tertentu terhadap pemainnya.


Dari studi kasus yang diberikan, Nigel menarik kesimpulan bahwa desain berperan besar dalam menghasilkan adiksi. Oleh karenanya, sangat diharapkan apabila desain dapat menghasilkan adiksi yang konteksnya positif. Tantangan bagi para peserta lokakarya adalah bagaimana mewujudkan adiksi-adiksi yang  positif melalui desain.

Setelah sesi kuliah selesai, peserta dibagi menjadi 9 kelompok—yang telah ditentukan secara acak oleh panitia—dan kepada masing-masing kelompok diberikan sebuah topik untuk ditemukan solusi desainnya. Kesembilan topik itu adalah:

  1. Perbanyak baca buku
  2. Perbanyak makan sayur
  3. Tidak buang sampah sembarangan
  4. Kurangi shopping
  5. Kurangi main game
  6. Perbanyak minum air mineral
  7. Perbanyak olahraga
  8. Mencabut charger yang tidak digunakan
  9. Mengajak pergi ke museum

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  

Kamis, 13 Maret 2014


Poster acara 7UJUH TAHUN DGI

DGI genap 7 (tujuh) tahun melayani komunitas desain grafis Indonesia (13 Maret 2007–13 Maret 2014). Untuk merayakannya, pada 4–6 April 2014, DGI menyelenggarakan pameran, peluncuran buku, dan acara bincang-bincang di Dia.Lo.Gue Artspace, Jl. Kemang Selatan 99 a, Jakarta yang dikemas dengan judul '7UJUH TAHUN DGI'.

Pada kesempatan ini DGI memamerkan 9 (sembilan) karya hasil lokakarya DGI Design Camp I, mulai dari infografik yang menggambarkan proses pembuatan hingga ke mock-up yang memperlihatkan purwarupa (prototype) tiap karya. Waktu pameran kemudian diperpanjang hingga 10 April 2014.


 Pameran hasil karya DGI Design Camp I: The Design of Addictions di Dia.Lo.Gue Artspace pada 4–10 April 2014.


Pada 4 April pukul 19.00 WIB, DGI meluncurkan buku Perspektif: 19 Desainer Grafis Indonesia karya Vincent Wong, yang merupakan karya perdana DGI Press. [Lihat: PERSPEKTIF: 19 Desainer Grafis Muda Indonesia]




Buku Perspektif: 19 Desainer Grafis Muda Indonesia, karya Tugas Akhir Vincent Wong di DKV BINUS University yang kemudian diterbitkan oleh Desain Grafis Indonesia (DGI), 2013.

Bagian dari pameran 7UJUH TAHUN DGI di Dia.Lo.Gue Artspace pada 4–10 April 2014 yang memperagakan isi buku Perspektif: 19 Desainer Grafis Muda Indonesia.

Dua acara bincang-bincang diadakan, sesi I dengan judul Catat, Koleksi, Arsip menghadirkan nara sumber Priyanto Sunarto, Yongky Safanayong, dan Iwan Gunawan yang dimoderasi oleh Arif P.S.A. pada 5 April pukul 13.00–15.00 WIB, dan sesi II: Saya Seorang Desainer Grafis bersama Novita Angka dan Yan Mursid, yang dimoderasi oleh Adityayoga Gardjito pada 5 April pukul 16.00–18.00 WIB. [Baca artikel terkait: Train-set yang Apa Adanya (1)Train-set yang Apa Adanya (2), dan Dalam Kenangan: Yongky Safanayong (26 Agustus 1950-11 Maret 2015)]



Yongky Safanayong, Priyanto Sunarto, dan Iwan Gunawan berbagi pengalaman sebagai kolektor pada acara Bincang-bincang Sesi 1: Catat, Koleksi, Arsip.

Kado dari Priyanto Sunarto untuk DGI. Bagian depannya bertuliskan ‘Selamat ulang tahun ke 7 DGI. Pri S.’ [Pri S. adalah penanda diri (inisial) yang biasa ia cantumkan pada setiap karyanya].

[Baca: Train-set yang Apa Adanya (1)]


***

Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...