Tampilkan postingan dengan label Zaman Kegelapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zaman Kegelapan. Tampilkan semua postingan

25.1.18

Sang Petahana di Medan Tempur Jalatunda

Oleh: Hanny Kardinata


I am the Wind, from beyond the ends of the world!” —Bima, Mahabharata

Kegelapan di sebagian kota
Ada suatu masa di mana awan gelap kebencian menggelayuti sebagian penduduk sebuah kota. Warga kota itu terbelah dua di tengah berlangsungnya pemilihan pemimpinnya, ketika salah seorang calonnya yang petahana dipandang bukan penduduk asli (non-pribumi), dan beda kepercayaan. Cekaman hawa kesumat yang persis sama, yang mencengkeram ketika dua bersaudara sepupu Kurawa dan Pandawa, bersaing kuasa di tanah leluhur Kuru, putera Mahabharata itu.  

Walau sering bermain bersama, diam-diam Duryudana, putera sulung Kurawa, sangat membenci Bima, putera kedua Pandawa, avatar Batara Bayu (Dewa Angin); yang dianggapnya menggerogoti dominasi kuasanya. Niat busuknya untuk menyingkirkan Bima (dan seluruh Pandawa), coba diwujudkannya dalam bermacam aksi damai penuh muslihat. Hasutan Sengkuni, paman Kurawa, pun jadi pemantik yang ampuh.

Dalam sebuah acara kebersamaan, Duryudana menaruh racun di dalam santapan yang disuguhkannya kepada Bima. Tak curiga, Bima pun lahap menghabiskannya. Dalam keadaan tak sadarkan diri, Bima dicampakkan ke dalam sumur Jalatunda. Malang berganda, saat kematian menjemput, Bima dipatuk pula oleh sejumlah ular berbisa. 

Namun, berkat lindungan si raja ular, Sang Hyang Nagaraja (versi lain menyebutnya Sang Hyang Antaboga, atau Sang Hyang Basuki[i], racun ular itu justru berbalik menetralkan racun di tubuhnya. Dan memberinya kesaktian berlipat. Satu persatu ular-ular itu dihabisinya.


1. “Akulah Angin, dari sisi lain sekalian ujung dunia!” 

Bima dalam pertempuran di sumur Jalatunda. 

Sumber: Ramnadayandatta Shastri Pandey, openlibrary.org.

Ksatria yang jujur, berani, tegas, blak-blakan, dan kuat iman 

“Jika seseorang yang berkuasa mencegah atau menghukum suatu tindak kejahatan, tidak melakukannya, ia juga tercemari oleh kejahatan itu.” —Resi Aurawa, Mahabharata 1:182

Maka bagai Bima atau Werkudara, yang dikenal berwatak pemberani dan tegas[1], sang calon pemimpin petahana[ii] itu pun tak segan-segan memberantas golongan “ular kembang”[iii] di jajaran birokrasinya. Jika terbukti ada yang “bermain”, sanksi diberikan dengan menurunkan derajat golongannya ke level sebelumnya, hingga mencopot jabatannya. Tegasnya:

“...ketika oknum PNS melakukan sumpah jabatan dan melanggar, melakukan pungli; kami singkirkan.”[2]

Atau: 

“Saya siap pasang badan. Saya siap mati demi membela kepentingan masyarakat Jakarta. Jika ada yang macam-macam, saya yang hadapi!”[3]

Seperti Bima yang tak suka berbasa-basi, niatnya selalu disampaikannya dengan ceplas-ceplos, tanpa tedeng aling-aling. Pernah dilontarkannya:

“Gua memang Cina. Tapi gua dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia. Apa salah kalau gua ingin membangun Indonesia yang bersih dari sistem korup?”

Dan sebagaimana Werkudara yang lurus hati, ia pun meneladankan nilai-nilai kejujuran, dan menjadi model bagi anak buahnya. Anak buah curang disebar di YouTube, mutasi besar-besaran, lelang jabatan, dan dilaporkan ke polisi. Yang mau mencuri jadi takut, sebab bakal dipermalukan. Siapa pun, termasuk keluarganya.

“Jika kepala tegak, maka seluruh badan akan ikut tegak.”[4]

Demikian sang petahana, menyitir sebuah pepatah Tiongkok. 

Sistem birokrasinya yang ditata baik akan menggilas mereka yang tidak jujur. Maka para ular dibuatnya bak cacing, cacing-cacing yang kepanasan. 

“Dalam manajemen, orang baik kalau sistemnya enggak benar ada peluang mencuri, bisa mencuri. Tapi orang jahat pun kalau sistemnya baik mau mencuri susah.”[5]

Untuk mempersempit ruang gerak, ia mengubah metode transaksi, dari tunai menjadi elektronik (e-money). Serta membatasi jumlah uang yang bisa ditarik setiap harinya menjadi sebesar Rp. 25 juta, yang rencananya akan terus “ditingkatkan” hingga tidak melebihi satu kali Upah Minimum Provinsi (UMP).[6]

Ia juga melakukan e-budgeting dan menolak kompromi permainan anggaran dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).[7]

Demikianlah, seperti Bima yang teguh imannya[8], sang petahana mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya siap mati untuk menegakkan kebenaran. Iman Kristen menuntunnya untuk berani mengatakan bahwa “mati adalah sebuah keuntungan”.[9] Karena baginya, mati demi memperjuangkan kebenaran dan keadilan sosial adalah suatu keuntungan. Beruntung karena bisa mati pada saat ia melakukan hal yang benar. Diyakininya:

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” —Filipi 1:21

Terpasungnya cahaya kebaikan
Ketaksukaan sebagian warga kota, yang sedang melangsungkan pemilihan pemimpinnya itu, terhadap sang petahana, telah menutupi hati mereka dari cahaya kebaikan yang telah dibuatnya bagi kotanya. Duryudana yang pada dasarnya berhati baik pun tak luput dari pasungan awan gelap ini. Dalam wiracarita Mahabharata, ada cukup banyak kisah kebaikan Duryudana, seperti empatinya pada Karna, saudara tua Bima, yang dilecehkan oleh Pandawa; integritas dan loyalitasnya; atau sikapnya yang patriotik dalam membela negara. Sayangnya hatinya terlalu dipenuhi oleh kegelapan yang dibawa oleh Sengkuni. Demikian jika hati hanya digunakan sebagai keranjang penampung kebencian, bahkan saat ditunjukkan keindahan padanya pun dia hanya mampu melihat keindahan itu dengan kebencian.[10]


Hanny Kardinata
(bukan warga kota yang sedang memilih pemimpinnya itu)


———
[i] Dalam mitologi Bali, Sang Hyang Basuki dikisahkan sebagai dewa yang baik hati, dan dilambangkan sebagai penjaga air, sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di Bumi Pertiwi.

[ii] Petahana (bahasa Inggris: incumbent), berasal dari kata ‘tahana’, yang berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan, dalam politik, adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat [Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, id.wikipedia.org]

[iii] Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut ular kembang sebagai kiasan dari petualang yang tidak bertanggung jawab, atau orang yang tampaknya baik, tetapi sebenarnya berhati jahat. Contoh penggunaannya [dalam KBBI]: “Agar pemerintahan kuat, golongan ular kembang harus disingkirkan dari pimpinan.”


———
[1] Bima (Mahabharata). Wikipedia bahasa Indonesia, id.wikipedia.org.

[2] Ahok akan Tarik Swasta dalam Birokrasi di Pemprov DKI, kompas.com, Jumat, 27 Januari 2017 (Dinyatakan dalam debat Pilkada DKI, Jumat, 27 Jamuari 2017).

[3] Ahok: Saya Siap Mati Bela Kepentingan Masyarakat, kompas.com, Selasa, 2 Desember 2014 (Disampaikan di Balaikota DKI, Gambir, Jakarta Pusat, Selasa, 2 Desember 2014).

[4] Oesman, Djono W. Ahok Biografi, Facebook.

[5] Siapa Kami? Ahok Djarot, ahokdjarot.id [Dinyatakan pada 30 April 2015].

[6] Pemberantasan Korupsi. Ahok Djarot, ahokdjarot.id

[7] Di Dunia Maya, Ahok Sudah Dapat Dukungan Puluhan Ribu Orang, CNN Indonesia, Minggu, 1 Maret 2015.

[8] Bima/Werkudara. Kumpulan Cerita Wayang, caritawayang.blogspot.co.id

[9] Saat diwawancarai oleh Najwa Sihab dalam acara Mata Najwa di Metro TV, Rabu, 30 Oktober 2013, pukul 22.05 wib, episode Perisai Anti Korupsi

[10] Yudiantara, Putu. The Warrior Who Refused to Fight: A Bhagavad Gita Novel, Bali Wisdom, 2016.


***


[Tulisan berikutnya terkait kesia-siaan pertikaian agama-agama, dalam Bersua Kartini di Agora (1) dan (2)]

Tulisan-tulisan lainnya di sini.



17.1.18

Hoax (2)

[Sambungan dari Hoax (1). Bagian terakhir dari dua bagian]


Bebek-bebek dengan gadget di genggaman

We owe it to ourselves to be receptive to people from different groups and with different ideas. They can help us question our assumptions. Sometimes we need a reality check, most often when we don’t even know it.” —David Braucher

Hoax semakin tak terkendali pergerakannya seiring dengan pesatnya perkembangan internet dan teknologi komunikasi. Sebuah berita palsu bisa dengan cepat menjadi viral melalui Facebook, yang diteruskan ke Twitter, dan kemudian dibagikan lagi di Whatsapp Group. Agar tidak mudah dibodohi secara berjemaah, psikoterapis David Braucher menganjurkan supaya setiap orang mau melakukan reality check.

Diuraikannya bahwa sebagai manusia, kita suka mengelompokkan diri ke dalam golongan-golongan. Kita cenderung memercayai orang-orang yang kita anggap anggota kelompok kita lebih daripada orang-orang dari kelompok yang berbeda. Ini menimbulkan apa yang disebutnya implicit bias. Kata ‘implisit’ di sini menunjukkan bahwa bias atau prasangka jenis ini memengaruhi kita ‘tanpa kita sadari’.

Dan karena kita semua mempunyai kelompok, kita semua mengalami inplicit bias. Itu sebabnya, kita butuh bantuan orang dari kelompok lain untuk membangunkan kita. Mereka bisa mencermati bias yang kita alami.   

Selain itu, ada bias lain yang disebutnya confirmation bias, yang mengacu pada kecenderungan kita untuk mencari informasi yang ‘menegaskan’ apa yang sudah kita ketahui atau kita yakini kebenarannya. Kita cenderung percaya “fakta” yang sesuai dengan keyakinan kita. Lebih jauh, bias ini dapat benar-benar menutup mata kita terhadap fakta-fakta yang bertentangan dengan keyakinan kita. Kita memercayai apa yang kita lihat, tetapi dalam kasus ini, kita tidak melihat apa yang tak kita percayai.

Ketika implicit bias dan confirmation bias bekerja sama, potensinya dalam menyesatkan meningkat secara eksponensial. Implicit bias membawa kita untuk percaya dan melihat lebih positif orang-orang dari kelompok kita sendiri, kita menjadi lebih terisolasi, dan hanya mendengar dari orang-orang dari kelompok kita. Ketika orang-orang dari kelompok kita membagikan apa yang kita yakini, mereka berbagi “fakta” yang mengkonfirmasi keyakinan kita. Ini adalah umpan balik, yang membuat kita terbuai di dalam sebuah gelembung (bubble).

Media sosial memberdayakan prasangka-prasangka ini bagai steroid, membuat kita rentan tergoda pada realitas alternatif yang dikonstruksi oleh para teoretisi konspirasi. Secara daring kita cenderung mengasosiasikan diri dengan orang yang memiliki kecenderungan politik yang sama. Demikianlah implicit bias bekerja. Ketika “kawan-kawan” kita mengirimkan artikel berita palsu yang sesuai dengan apa yang telah kita percayai, yang mengkonfirmasi prasangka kita, kita segera saja menelan bulat-bulat “informasi” itu. Selain itu, optimisasi yang dilakukan oleh orang-orang di situs-situs semacam Facebook, semakin memastikan kita supaya menerima mentah-mentah berita yang ingin kita baca, berita-berita itu semakin menguatkan prasangka-prasangka kita.

Selama ponsel pintar berada di genggaman, kita akan terhubung dengan grup-grup kita itu dan terus saja menelan informasi-informasi yang ingin kita percayai. Dan kita akan digiring seperti bebek-bebek oleh siapa saja yang ingin memberi kita berita palsu!

Kegelapan hanya sirna oleh cahaya kebaikan

“Bukan aku yang akan menghancurkan kalian. Karena kalian sesungguhnya telah merancang kehancuran untuk diri kalian sendiri.” —Kresna kepada Kurawa, Mahabharata

Sepak terjang Sengkuni dan para kloningannya di negeri ini sudah jauh melampaui batas keadaban. Dengan menabur bibit kebencian sejak dini, mereka telah merenggut kemurnian hati anak-anak (seperti dialami oleh anak-anak Kurawa lima ribu tahun yang lalu). Sebelum sempat bertumbuh menjadi pokok-pokok radikalisme dan terorisme, akar-akarnya harus ditangkal sejak awal pula. Dibutuhkan kerjasama erat di antara berbagai kalangan; mulai dari instansi-instansi pendidikan, sekolah-sekolah, dan terutama keluarga-keluarga, untuk senantiasa mendorong sikap kritis, serta menebar keindahan, dan kebaikan. Yang senang berolah kata, menulislah! Yang bisa berolah visual sebarlah melalui karya seni dan desain! We (our country) need you!


2. Sebuah surat kaleng untuk seorang anak.[2]

Untuk Alia
Bukan nyinggung, harus ngerti!

1. Alia kamu itu isbomuka = islam bodoh munafik kafir
2. Kamu kan bela Ahok sama aja kamu hina Al-Qur’an
3. Kamu itu munafik

Munafik =
1. tidak taat pada Allah
2. Kamu kelihatannya seperti Kristen
3. Sering bohong untuk dibela
4. Kamu kalau dikasih jalan lurus malah belok
5. Gak tahu diri
6. Baca Al-Qur’an sana

4. Sengsara lo di akhirat! Gaga gugu didepan Allah nanti masuk neraka, kagak didoain masuk syurga!

Solat deh yang benar, zikir!

—-ll

Pernah disarankan oleh peneliti masalah sosial dan politik, Made Supriatma:

Saya kira, kewajiban kita untuk senantiasa memelihara nalar kritis. Kita membutuhkan jurnalisme untuk melawan hoax, misalnya. Kita membutuhkan sastra, filsafat, sosiologi, antropologi, ilmu politik, atau pendeknya ilmu-ilmu sosial untuk mempertanyakan hal-hal yang kita yakini. Kita membutuhkan imajinasi! Karena imajinasi itulah yang dimatikan oleh algoritma mesin-mesin internet dan media sosial. Karenanya kita membutuhkan lebih banyak karya sastra yang bagus, puisi, novel, komik, dan lain sebagainya. Kita juga perlu lebih banyak karya seni. Hanya dengan cara demikian kita memelihara nalar kritis kita.”

Yang disambungnya dengan:

“Kalau saya harus memberikan satu resep, maka saya kira tidak ada resep yang lebih manjur daripada mengurangi waktu Anda di media sosial dan internet. Perbanyaklah bergaul, tatap muka dengan teman, pergi ke pesta, pergi tamasya bersama kawan dan sanak saudara. Belilah buku, koran, atau majalah. Berkunjunglah ke museum, ke candi-candi atau berbagai peninggalan bersejarah. Pergilah ke pasar untuk melihat-lihat atau berbelanja, dan cobalah memasak makanan sendiri. Cobalah menanam sesuatu atau secara serius berkebun.”

Karena:

“Hidup jauh lebih indah di luar gadget, handphone, atau komputer.”[3]

Dalam teori sosial, ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang memiliki hasrat dan keinginan abadi untuk mengejar kekuasaan. Hasrat dan keinginan itu baru berakhir bila kematian telah menjemput. Hanya tinggal masalah waktu saja ketika perang Bharatayuda menjadi akhir riwayat Sengkuni. Meski mandraguna, dan kebal senjata berkat khasiat minyak Tala—yang diperolehnya juga dengan cara curang—ia dikalahkan oleh Pandawa di Kurusetra. Akhir hidup Sengkuni tragis. Ia digigit Duryudana, lalu jasadnya dilumat Gada Rujakpolo milik Bima.[i]


———
[i] Pada hari terakhir Bharatayuda, Sengkuni bertempur melawan Bima. Kulitnya yang kebal karena pengaruh minyak Tala sempat membuat Bima sulit mengalahkannya. Penasihat Pandawa selain Kresna, yaitu Semar, muncul memberitahu Bima bahwa kelemahan Sengkuni berada di bagian dubur, karena bagian tersebut dulunya tidak terkena pengaruh minyak Tala. Bima pun maju kembali. Sengkuni ditangkap dan disobek duburnya menggunakan Kuku Pancanaka yang tumbuh di ujung jari Bima. Ilmu kebal Sengkuni pun musnah. Dengan beringas, Bima menyobek dan menguliti Sengkuni tanpa ampun. Meski demikian, Sengkuni hanya sekarat, tetapi tidak mati.

Pada sore harinya, Bima berhasil mengalahkan Duryudana. Dalam keadaan sekarat, Duryudana menyatakan bahwa ia bersedia mati jika ditemani pasangan hidupnya, Dewi Banowati. Atas nasihat Kresna, Bima pun mengambil Sengkuni yang masih sekarat untuk diserahkan kepada Duryudana. Duryudana yang sudah kehilangan penglihatannya akibat luka parah segera menggigit leher Sengkuni yang dikiranya Banowati. Akibat gigitan itu, Sengkuni pun tewas seketika, begitu pula dengan Duryudana.


———
[2] Kika Syafii. Kebencian Sudah Meracuni Dunia Anak-anak, Intimidasi Menimpa Anakku. Gerilya Politik, gerilyapolitik.com

[3] Made Supriatma. Hoax, Kapitalisme Digital, dan Hilangnya Nalar Kritis. Remotivi, remotivi.or.id.


———
Referensi

David Braucher, LCSW, PhD. Fake News: Why We Fall For It. Psychology Today, psychologytoday.com.

Wikipedia bahasa Indonesia. Sangkuni.

Wikipedia bahasa IndonesiaPerang di Kurukshetra.

Selly Aulia Defriani. Pemikiran Ki Enthus Susmono tentang Tokoh Sengkuni dalam Pewayangan. Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang.



*) Kata Pengantar ajang penganugerahan Indonesian Graphic Design Award (IGDA) 2, 27 Agustus 2017



Tulisan-tulisan lainnya di sini.

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  




***

Hoax (1)

[Baca sebelumnya, Sang Petahana di Medan Tempur Jalatunda, kisah kegelapan yang menutupi kebaikan] 

Oleh: Hanny Kardinata


Puing berserakan di segenap penjuruBekas pertempuranBau amis darah sisa asap mesiuSesak nafasku 
Mayat-mayat bergeletakanTak terkubur dengan layakDan burung-burung bangkai menatap liarDan burung-burung bangkai berdansa senang
Puing, Iwan Fals

Bibit kebencian yang ditanam sejak dini 
Konflik dua keluarga Kuru selama perang delapan belas hari Bharatayuda seperti tak lagi menyisakan Kurusetra sebagai tanah suci. Pertempuran besar dalam memperebutkan kekuasaan itu telah mengakibatkan gugurnya jutaan prajurit dari kedua belah pihak, perempuan-perempuan menjanda, dan anak-anak menjadi yatim. Perang, yang terjadi lima ribu tahun silam itu (sekitar tahun 3000 SM menurut kitab Bhagawadgita) juga mengakibatkan krisis di daratan India dan merupakan gerbang menuju Zaman Kegelapan, atau Zaman Kehancuran (yang dalam kepercayaan Hindu disebut Kaliyuga).

Mungkin tak banyak yang mengira bahwa benih kehancuran itu telah ditabur jauh sebelum Pandawa dan Kurawa lahir. Dan sesungguhnya disulut oleh hanya satu orang yang bernama Sengkuni. 

Sosok Sengkuni, dalam Mahabharata, dikisahkan sebagai pangeran kerajaan Gandara. Ia mempunyai adik perempuan bernama Gandari. Tapi di dalam lakon pewayangan Jawa, Sengkuni bukan kakak, melainkan adik Gandari. Dan Gandara bukan nama kerajaan, tapi nama kakak tertua mereka. 

Diceritakan bahwa pada suatu hari, ditemani oleh kedua adiknya, Gandara berangkat menuju Kerajaan Mandura untuk mengikuti sayembara memperebutkan putri raja, Dewi Kunti. Di tengah jalan, rombongan Gandara berpapasan dengan Pandu, penguasa kerajaan Hastinapura, yang sedang dalam perjalanan pulang, setelah memenangkan sayembara itu. Pertempuran pun tak terhindarkan. Gandara akhirnya tewas di tangan Pandu. Pandu kemudian membawa serta Gandari dan Sengkuni ke Hastina. 

Sesampai di Hastina, Gandari diminta oleh kakak Pandu yang tuna netra, Drestarastra, untuk dijadikan istri. Gandari sangat kecewa, karena sebenarnya ingin diperistri Pandu. Sengkuni yang juga murka berjanji akan membantu kakaknya melampiaskan sakit hatinya. Ia bertekad menciptakan permusuhan di antara anak-anak Drestarastra, yaitu Kurawa, dengan Pandawa, keturunan Pandu. 

Maka, dalam asuhan Sengkuni yang penuh angkara, para Kurawa tumbuh menjadi anak-anak yang selalu diliputi kebencian terhadap Pandawa. Setiap hari Sengkuni mengobarkan semangat kedengkian di hati Kurawa, terutama Duryudana, dengan menyodorkan berbagai cerita karangan (hoax). Talentanya dalam mengarang cerita dusta sudah mulai dipupuk ketika ambisinya untuk menjadi patih Hastina bisa dicapainya dengan menyebar informasi bohong (fake news) mengenai upaya pengkhianatan patih petahana, Gandamana. Ketika kekuasaan telah diraihnya, sebagai patih, Sengkuni semakin leluasa menjalankan berbagai strategi busuknya. 

Ia misalnya berada di balik layar atau menjadi dalang atas diangkatnya Duryudana sebagai putra mahkota, pasca mangkatnya Pandu. Sengkuni pula yang menyusun skenario agar para ksatria Pandawa kalah dalam permainan dadu melawan Kurawa yang berakibat pada jatuhnya negara Indraprasta ke tangan Kurawa.

1. Sengkuni menghasut Duryudana. 

Sumber: Mahabharata 1, Ramanarayanadatta Astri. Penerbit: Gorakhpur Geeta Press.

Sasaran propaganda tak pandang usia

“Hidup tanpa kelicikan dan kebohongan adalah semu.” —Sengkuni, Mahabharata

Sengkuni memang tergolong cerdas. Dia pintar mengolah kata. Bahasa polesan telah dia hafalkan. Bahasa racun dia balut menjadi madu, agar pihak lain terpikat. Kesuksesannya dibangun atas dasar kecerdikan. Dia seakan-akan menguasai psikologi massa. Maka gaya untuk kemenangan dirinya ditempuh dengan aneka rupa, yang seakan-akan sah. Karena watakmya yang jahat dan selalu mendambakan jabatan yang tinggi, maka Sengkuni setiap hari kerjanya hanya merangkai siasat untuk memfitnah dan menjatuhkan kedudukan orang lain.[1]

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ia suka menyamar sebagai sosok yang santun, ramah, dan agamis. Terkadang juga sebagai tokoh agama berjenggot yang dengan dakwah-dakwahnya menyerukan makar. Itu berguna untuk menyembunyikan identitas aslinya yang munafik, khianat, ingkar, penuh intrik, dan berlumur ambisi. Praktik menghalalkan segala cara ditempuhnya demi meraih kekuasaan. Berbagai upaya dilakukan, seperti membuat pemisahan antara politik dengan akhlak, bahwa dalam politik tidak ada faedahnya menuruti kaidah-kaidah moral.

Ia pandai memanfaatkan kekuatan media massa, stasiun TV swasta pun tak luput dari sentuhannya demi menyasar orang awam yang mudah diprovokasi. Dan tentu saja, media sosial. Tak segan ia mengucurkan dana besar untuk membentuk cyber army, guna mengelola dan menyebarkan hoax. Sasarannya tak kenal usia, bahkan anak-anak yang masih polos pun dijadikan target adu dombanya. Sedemikian rupa, sehingga anak-anak tak lagi mau berteman dengan sebayanya yang beragama lain. Atau tidak mau dipimpin ketua kelas yang keyakinannya berbeda. 

Sengkuni menyelinap di tiap tikungan, dan di saat-saat paling krusial. Hoax dipakainya untuk menjatuhkan reputasi lawan. Sentimen sensitif SARA dipermainkannya secara masif. Ketika sedang berlangsung pemilihan pemimpin tertinggi di negeri ini, disebarnya berita bahwa pihak lawan adalah keturunan Cina, dan beragama Kristen. Sebuah iklan dukacita palsu diedarkan untuk membuktikan bahwa sang calon pemimpin adalah keturunan Cina. Bahkan ibunya difitnah sebagai anggota Gerwani, dan ayahnya PKI. Kemudian dengan ringan dilayangkanlah isu sebaliknya, bahwa si calon pemimpin adalah antek Amerika dan Israel.


Demikian juga ketika warga sedang memilih pemimpin ibukota negerinya. Dilakukannya upaya-upaya pembunuhan karakter, yang bertujuan merusak citra salah satu calonnya. Spanduk-spanduk provokatif disebarnya di berbagai sudut kota, agar warga tidak memilih pemimpin yang beda keyakinan. Yang memilih disebutnya kafir. Ayat suci dipolitisasi, dijadikannya sekadar sebagai alat kampanye.


———
[1] Prof. Dr. Suwardi. Antropologi Sastra Jawa sebagai Pembuka Jalan Berpikir Positif dan Revolusi Mental. Fakultas Bahasa & Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, fbs.uny.ac.id.


[Bersambung » Hoax (2)]

***

Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...