9.1.18

Ketahanan dalam Keragaman (3)

[Bagian terakhir dari tiga bagian. Sambungan dari Ketahanan dalam Keragaman (2)]

Saudaraku, sepagi ini aku menuju puncak, merambah bebukitan hijau.

Makin tinggi bukit kudaki, makin kaya keragaman hayati. Makin ragam hayati, makin kuat ekosistem.

Dari lereng bukit, kusaksikan hamparan hijau dedaunan. Alam hijau terkembang karena tumbuh dalam cinta; hasil perjumpaan kerjasama aneka sumberdaya: bibit hayati, sinar mentari, kesuburan bumi, dan semilir angin. 

Di hamparan dedaunan hijau, masih tampak bebutiran embun. Meski terperangkap di daun lusuh, butir embun tetap bening, tak tercemar lingkungan yang kotor.

Tatkala sinar mentari menerpa kabut, alam membiaskan cahya perak berkilau. Saat gelap berganti terang dengan pelayanan sang surya, embun pun mengakhiri tugasnya, bergegas memuai membasahi terik langit dengan uap.

Alam tahu kapan harus datang dan pergi. Bisa saling berbagi meski tak bisa saling merasakan. Teguh mengemban misi suci, tak mudah goyah karena keadaan. Makin tinggi posisi, makin memberi ruang hidup bagi keragaman.

Embun dan mentari datang tanpa permisi, pergi tanpa pamit. Embun memberi pendinginan, mentari memberi kehangatan. Silih berganti berbagi tugas pelayanan tanpa pamrih, tanpa kecuali.

Jika alam yang tak bisa saling merasakan bisa saling berbagi dan melayani, mengapa manusia yang bisa saling merasakan tak bisa saling memberi dan mengasihi?
—Yudi Latif, Guru Alam, 2017 

Cara pandang sistemis (dalam keterhubungan)
Pada ceramah yang disampaikannya pada 2008 di Center for Ecoliteracy and Teachers College Columbia University, Fritjof Capra menguraikan pemikirannya bahwa untuk bisa memahami dengan benar, agar bisa melek ekologis (ekoliterasi), kita perlu belajar selalu berpikir dalam hubungan (sistemis), dalam interkoneksi, dalam pola-pola, atau dalam konteks. 

Metode berpikir sistemis (systems thinking) ini muncul dari serangkaian dialog interdisipliner di antara para ahli biologi, psikolog, dan ahli ekologi, pada 1920-an dan ’30-an. Di semua bidang ini, para ilmuwan menyadari bahwa sistem-sistem kehidupan—organisme, ekosistem, atau pun sistem sosial—merupakan suatu keutuhan terpadu yang tidak dapat direduksi menjadi bagian-per-bagian yang lebih kecil. Sifat ”sistemis” adalah keseluruhan, yang tidak dimiliki oleh bagian-per-bagiannya. Jadi, berpandangan sistemis melibatkan pergeseran perspektif berpikir dari bagian-per-bagian kepada berpikir secara utuh. Para pemikir sistemis awal menciptakan ungkapan seperti ‘the whole is more than the sum of its parts’.

Apa sesungguhnya arti semua ini? Dalam pengertian bagaimana ‘keseluruhan itu bermakna lebih dari jumlah bagian-bagiannya’? Jawabannya adalah: hubungan (relationships). Semua sifat penting dari sistem kehidupan bergantung pada pertalian antar komponen-komponennya. Berpikir sistemis berarti berpikir dalam hubungan. Memahami kehidupan membutuhkan pergeseran cara berpikir, dari yang berfokus pada ‘objek’ kepada yang berfokus pada ‘keterhubungan’.

Memahami keterhubungan tidaklah mudah, karena merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kegiatan ilmiah tradisional dalam budaya Barat. Dalam sains, kita telah diberitahu, bahwa segala sesuatu itu perlu diukur dan ditimbang. Tapi keterhubungan tidak bisa diukur dan ditimbang; keterhubungan perlu dipetakan. Jadi ada pergeseran lain: dari pengukuran kepada pemetaan (from measuring to mapping).

Capra menunjukkan bahwasanya memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang lebih kecil (kenaikan harga minyak misalnya) hanya akan membawa para pembuat kebijakan terperosok ke dalam masalah, karena dengan demikian tidak dapat melihat hubungannya dengan isu-isu yang jauh lebih besar: Harga pangan melonjak, mengimbangi nilai pasar minyak sebagai sumber bahan bakar potensial, sementara kelaparan dan kemiskinan meningkat di seluruh dunia. Atau, saat umat manusia bersama-sama menciptakan lingkungan yang semakin memanas, daerah penghasil makanan beriklim sedang berubah menjadi padang pasir, mengakibatkan kenaikan harga pangan, maka kemiskinan dan kelaparan pun meningkat. Dalam hal ini, Capra ingin menunjukkan bagaimana makanan, kesehatan, dan lingkungan saling terkait erat dengan fakta kehidupan baru di dunia dewasa ini.

Nah, saat Anda memetakan keterhubungan, Anda akan menjumpai bentuk yang berulang-ulang. Inilah yang kita sebut dengan pola (pattern). Jaringan (networks), siklus (cycles), putaran arus-balik (feedback loops), adalah contoh pola-pola organisasi yang menjadi ciri khas kehidupan. Berpikir sistemis melibatkan pergeseran fokus dari kepada isi (contents) menjadi kepada pola (patterns).

Capra juga menekankan bahwa memetakan keterhubungan dan memelajari pola bukanlah pendekatan kuantitatif melainkan kualitatif. Berpikir sistemis menyiratkan pergeseran dari kuantitas ke kualitas. Pola bukan deretan bilangan tapi gambaran visual.

4. Planet kita, masyarakat kita, dan kita sendiri adalah debu bintang. —Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel. 

Sumber gambar: Emaze.

Studi tentang sistem keterhubungan ini tidak hanya menyangkut hubungan antar-komponennya, tetapi juga antara sistem itu secara keseluruhan dengan sistem-sistem yang lebih besar di sekelilingnya. Hubungan antara suatu sistem dan lingkungannya adalah apa yang kita maksud dengan konteks. Berpikir sistemis selalu merupakan cara berpikir yang kontekstual. Ini menyiratkan adanya pergeseran dari pengetahuan objektif kepada pengetahuan kontekstual.

Pada akhirnya kita perlu memahami bahwa kehidupan itu lebih dari sekadar bentuk, lebih dari sekadar konfigurasi berbagai komponennya yang statis. Sementara wujudnya bertahan, ada aliran zat terus-menerus melalui sistem kehidupan; terjadi perkembangan, dan ada evolusi. Pemahaman tentang struktur kehidupan terkait erat dengan pemahaman tentang proses metabolisme dan proses perkembangan. Jadi, berwawasan sistemis mencakup pergeseran pada fokus perhatian: dari struktur ke proses. Systems thinking means a shift of perception from material objects and structures to the nonmaterial processes and patterns of organization that represent the very essence of life.

Leluhur kita memuja Matahari.Mereka sama sekali tak bodoh. Masuk akal untuk memuja Matahari dan bintang-bintang karena kita anak-anak mereka.[i]

Silikon di batu, oksigen di udara, karbon di DNA kita, besi di pencakar langit kita, perak di perhiasan kita, semua terbuat di dalam bintang miliaran tahun lalu.

Planet kita, masyarakat kita, dan kita sendiri adalah debu bintang.

Cosmos: A Spacetime Odissey, National Geographic Channel


———
[i] Mataharilah primadona di panggung pertunjukan Alam Semesta, bukan Bumi. Bintang terdekat dengan Bumi ini merupakan sumber semua panas dan cahaya yang membuat bunga bermekaran, dan burung bersenandung. Tanpanya tak ada kehidupan. Kita tidak akan memiliki sistem tata surya tanpa Matahari. 

Saat atom hidrogen berfusi di dalam Matahari, atom-atom itu membuat atom helium. Fusi ini menimbulkan ledakan energi yang bisa berkeliaran di dalam Matahari selama sepuluh juta tahun sebelum mencapai permukaannya. Setelah di sana, energi itu bebas untuk terbang langsung dari Matahari ke Bumi sebagai cahaya yang terlihat. Jika cahaya itu mengenai permukaan daun ia akan disimpan dalam tanaman sebagai energi dunia. Betapa beruntungnya kita memiliki sumber energi bersih yang besar ini jatuh seperti mana (Bahasa Austronesia: kekuatan supernatural) dari surga untuk kita semua.


———
Referensi

Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel. 

Fritjof Capra. The New Facts of Life. EcoLiteracy, ecoliteracy.org


.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  





***


Tulisan-tulisan lainnya di sini.

Ketahanan dalam Keragaman (2)

[Bagian kedua dari tiga bagian. Sambungan dari Ketahanan dalam Keragaman (1)]

“Untuk mengamati gerak seekor serangga diperlukan perhatian—itu jika anda berminat untuk mengamati serangga itu atau apa pun yang menarik perhatian anda. Perhatian ini pun tidak terukur. Itulah tanggung jawab pendidik untuk mengerti seluruh sifat dan struktur memori, untuk mengamati batas-batasnya dan untuk membantu siswa melihatnya. Kita belajar dari buku atau dari seorang guru yang mempunyai informasi banyak tentang mata pelajaran tertentu dan otak kita dipenuhi dengan informasi-informasi ini. [...] Begitulah proses mendapatkan informasi berlangsung terus menerus dan secara bertahap kita menjadi manusia yang usang, tidak asli.” —J. Krishnamurti, Surat untuk Sekolah, 1 Desember 1978

Mendekati tahun 1970-an minat saya telah merambah ke dunia hewan, saya mulai tertarik merawat ikan. Lahan tempat saya “bermain” pun meluas, menyerobot pula halaman tengah rumah. Selain mengubah peruntukan bak penyimpanan air sumur di halaman belakang menjadi kolam ikan, saya meletakkan pula beberapa akuarium air tawar di beberapa sudut di halaman tengah; di bawah pohon jambu yang rindang, dan di atas peti-peti kemas. 

Saya tak tanggung-tanggung menekuni dunia baru ini. Memelajari karakter tiap spesiesnya dari sejumlah buku, hingga hafal di luar kepala nama-nama Latinnya. Saya juga belajar bagaimana menyatukan ikan-ikan yang beraneka jenis itu supaya bertahan hidup dalam keragamanannya yang adaptif (compatible). Kompatibilitas dan toleransi menjadi kunci dalam hidup bermasyarakat. Keindahan visual sebuah akuarium menjadi optimal ketika mereka hidup berdampingan dengan damai di dalam komunitasnya. 

2. Akuarium air tawar. Sumber gambar: TropiCo Aqua.

Tentu ada saja spesies tertentu yang tak bisa berdamai dengan sesamanya, sikapnya yang intoleran ini membuat jenis ini sebaiknya diasingkan di tempat tersendiri. Mereka indah hanya dalam kesendiriannya. Blue Gourami atau sepat biru misalnya tergolong salah satu jenis yang agresif, sementara Siamese Fighter (cupang/petarung), yang populer dengan sebutan internasionalnya, Betta, termasuk jenis ikan liar yang suka berkelahi. Cupang sangat terikat pada teritorialnya dan akan menyerang ikan lain yang mendekat ke tempat mereka. Untuk jenis yang terakhir ini saya memang sering melihatnya dijajakan sendirian di tempat terpisah di toko-toko hewan peliharaan. Konon usaha membudidayakannya di negara asalnya, Thailand/Siam, yang setidaknya telah berlangsung selama beberapa ratus tahun itu, memang untuk tujuan diadu, sebagai hiburan. Mereka diperlakukan layaknya gladiator di Zaman Romawi. 

Di dalam akuarium, pada bagian atas (permukaan air), biasanya saya menyatukan jenis Danio (Zebra) dengan Guppy (Rainbow Fish) atau Molly. Bentuk mulut mereka yang menghadap ke atas memudahkan ikan jenis ini menangkap serangga atau makanan yang jatuh ke air. Karakter mereka yang ceria serta lincah membantu “membawa” spesies yang lebih tertutup ke tempat terbuka. 

Pada bagian tengah akuarium, saya suka menempatkan jenis Tetra yang suka hidup berkelompok seperti Neon Tetra, Penguin Tetra, Glowlight Tetra, dan Harlequin Rasbora. Jenis Discus, juga Angel Fish, senang berada di bagian ini, keelokannya akan menjadi pusat pandangan (center-of-view). Sementara di bagian bawah saya menempatkan jenis omnivora semacam Otocinclus yang bekerja 24 jam/hari membersihkan lumut di kaca, batu, dan dedaunan (algae eater). Beberapa jenis keong yang juga pemakan lumut bisa ditambahkan untuk melengkapi jaringan kehidupan di dalam sebuah akuarium.

3. Siklus nutrisi dan energi ada di sebuah akuarium:

1. Pakan diberikan ke ikan.
2 & 3. Amonia hasil metabolisme ikan diproses bakteri nitrifikasi.
4. Nitrat diserap tumbuhan air.
5. Air menguap dari permukaan air akuarium.
6. Cahaya matahari diserap tumbuhan air.
7. Detritivora memakan feses ikan dan bagian tumbuhan yang telah mati.
8. Tumbuhan air melepaskan oksigen.
9. Tumbuhan air menyerap karbon dioksida.

Sumber: Wikipedia.

Ekoliterasi, masa depan kehidupan
Dari sebidang kebun, atau sebuah akuarium, kita bisa belajar bahwa alam menopang kehidupan dengan cara menciptakan dan memelihara komunitas-komunitas. Tak ada organisme apa pun yang bisa mewujud dalam keterasingan. Hewan bergantung pada fotosintesis tanaman untuk kebutuhan energinya; tanaman bergantung pada karbon dioksida yang dikeluarkan oleh hewan, juga pada nitrogen yang secara tetap diproses oleh bakteri di dalam akar-akarnya; serta secara bersama-sama tanaman, hewan, dan mikroorganisme mengendalikan seluruh biosfer serta menjaga kondisinya agar kondusif bagi kehidupan.

Dan dari Capra, saya belajar memahami bahwa sesungguhnya keberlangsungan kehidupan bukanlah monopoli individu-individu, melainkan peran-serta seluruh jaringan yang terhubung. Dan senantiasa melibatkan keseluruhan masyarakat. Inilah pelajaran penting yang bisa dipetik dari alam. Yaitu bahwa cara untuk bertahan hidup adalah dengan membangun dan merawat kehidupan bermasyarakat. Komunitas manusia berinteraksi dengan komunitas lain—baik komunitas manusia atau pun bukan—dengan cara yang memungkinkan mereka bisa hidup dan berkembang sesuai dengan sifat alaminya masing-masing. Kesinambungan tidaklah berarti bahwa segala sesuatu dalam keadaan tidak berubah. Tetapi adalah jalinan proses berevolusi bersama (co-evolution) yang bersifat dinamis, bukan suatu keadaan yang statis.

Fritjof Capra menulis, matinya kupu-kupu di Singapura berpengaruh terhadap iklim di Amerika. Antropolog sosial Gregory Bateson menyebut ada jejaring keterhubungan di antara kita. Thich Nhat Hanh mengajarkan, kita adalah daun-daun berbeda dari pohon yang sama, bintang-bintang berbeda dari langit yang sama. Daniel Goleman menyebutnya Ecological Intelligence.[2]

Dalam beberapa dekade mendatang, kelangsungan hidup manusia akan ditentukan oleh kemampuannya dalam membaca ekologi (ekoliterisme)—kemampuan untuk memahami prinsip-prinsip dasar ekologi, dan hidup sejalan dengannya. Ini berarti bahwa ekoliterasi harus menjadi keterampilan kritis bagi politisi, pemimpin bisnis, dan profesional di segala bidang, dan harus menjadi bagian terpenting dari pendidikan di semua tingkat—mulai dari taman kanak-kanak, sekolah dasar dan menengah hingga perguruan tinggi, universitas, serta berbagai pendidikan dan pelatihan keahlian, juga menjadi bacaan di masa pensiun.


———
[2] Id.


———
Referensi

Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel. 

Fritjof Capra. The New Facts of Life. EcoLiteracy, ecoliteracy.org



.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  





***


8.1.18

Ketahanan dalam Keragaman (1)

[Bagian pertama dari tiga bagian. Refleksi Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2017]


Oleh: Hanny Kardinata


“Lihat diri ini dalam-dalam. Tidak ada satu pun manusia yang bisa damai seorang diri. Perhatikan udara yang amat vital dalam kehidupan manusia. Ia adalah hasil jerih payah pepohonan dan komponen alam yang lain. 0rang tua sebagai contoh lain, tidak mungkin damai bila anak-anak sakit. Pengusaha tidak bisa kaya bila tanpa pekerja. Penguasa akan berbahaya bila tidak terhubung dengan rakyatnya.” —Gede Prama

Jalinan kerjasama
Ada suatu masa, dulu sekali, di kisaran tahun 1960-an, saat saya sangat terobsesi pada tanaman. Apa saja yang saya jumpai di dapur ibu saya, saya minta dan saya tanam, di sejengkal tanah di halaman belakang rumah saya di Surabaya. Bawang, cabai, kunyit, kacang hijau, kedelai, jagung, tomat, ya apa saja. Dan selalu saja saya takjub menyaksikan proses pertumbuhannya. Terutama pada perkembangannya menuju dewasa, yang tak dapat diukur atau dinyatakan dengan angka itu (kualitatif). Dari biji, menjadi kecambah atau tunas, lalu menjadi batang, yang semakin tinggi, bercabang-cabang, hingga ditumbuhi daun di sekelilingnya; ada yang kemudian berbunga, dan lalu berbuah. 

Pada tahap berikutnya, sedikit demi sedikit saya belajar memahami bahwa tumbuh-tumbuhan itu hidup dan mempertahankan kehidupannya melalui ‘jalinan kerja sama’ dengan berbagai elemen. Dengan air, temperatur, cahaya matahari, nutrisi, dan juga dengan tanaman lain yang tumbuh di sekitarnya (bagaimana yang lebih dewasa dan besar sosoknya menaungi yang lebih muda dan kecil, dan bahwa daun tanaman yang gugur pada saatnya akan menjadi makanan bagi tanaman lain di dekatnya); juga dengan iklim, gravitasi, dan lain-lain. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di “kebun” untuk mengamati pertumbuhan dan perkembangannya, terkadang ditemani oleh dua ekor Terrier kesayangan kami, Lady dan Grumpy [anehnya, keasyikan serupa tak saya peroleh dari sekolah—saya duduk di jenjang SMP saat itu, pengajaran Ilmu Hayat tak menarik perhatian saya kecuali sekadar untuk dihafalkan dan meraih nilai].

Kebiasaan hidup berdekatan dengan “alam”ini berlanjut hingga tahun 1980-an ketika doa terjawab dan saya diizinkanNya tinggal di tengah sebuah “hutan kecil” di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Lahan seluas sekitar 1.000 m2 itu terkesan tak tersentuh oleh tangan manusia, penuh dengan pepohonan yang tumbuh alami, dan terletak di wilayah yang jauh sekali dari kesibukan kota metropolitan [pada masa itu, hanya satu atau dua kendaraan saja yang berpapasan melintasi jalan Ciputat Raya]. Ada pohon duren, nangka, rambutan, kelapa, sukun, kecapi, jengkol, dan sebagainya. Dan yang terbanyak tentu saja pohon melinjo yang banyak bertumbuh di selatan Jakarta. Tanahnya tidak landai melainkan berkontur-kontur, makin ke belakang makin rendah, dan menghadap ke area persawahan. 

1. Jelang matahari terbenam di teras atas pada sisi belakang rumah di Ciputat. Fotografi: Roy Genggam. Sumber: Majalah Laras

Kehidupan seperti berputar kembali ke masa kecil saya, sekali lagi saya boleh menjadi bagian dari sebuah komunitas ekologis yang teduh dan damai; di mana hanya terdengar kidung ceria berbagai jenis burung di kala pagi, tupai saling berkejaran di siang hari, serta orkestrasi belasan serangga dan hewan kecil di malam yang senyap [dalam lingkungan sedemikian ini untuk pertama kalinya saya “bersua” dengan Fritjof Capra, yang pemikiran-pemikirannya mengenai ekologi saya sarikan di bagian ketiga tulisan ini].

Alam mengajarkan hakekat kehidupan, yang tak banyak saya peroleh dari sekolah. Mengenai interdependensi seluruh makhluk hidup di dalam ekosistemnya. Bahwasanya daun memperoleh makanannya dari energi cahaya matahari (proses fotosintesis). Betapa kehadiran cacing tanah yang sering disepelekan itu justru dibutuhkan untuk menebar kesuburan [pergerakannya di dalam tanah meninggalkan rongga udara yang membantu tumbuh-tumbuhan untuk bernafas]. Air, yang amat dibutuhkan oleh manusia, untuk minum atau membersihkan tubuhnya, sangat ditentukan keberadaannya oleh tumbuh-tumbuhan [akar-akarnya berjasa dalam menahan dan menabung air di dalam tanah]. 

Dan seperti halnya manusia, tanaman membutuhkan air untuk bertahan hidup. Cermati bagaimana air memainkan peran yang luar biasa dalam proses fotosintesis. Tanpa air, tanaman tidak akan bisa menyalurkan hidrogen yang dibutuhkannya untuk membentuk molekul gula sehingga tumbuh kuat. Nutrisi dibutuhkan di dalam tanaman sama seperti di dalam hewan, dan ini didistribusikan melalui air yang mengalir melalui tubuhnya.

Dari petani di sawah, kita belajar mengenai rantai makanan (makan-dan-dimakan) yang dibutuhkan untuk kesinambungan kehidupan. Seperti padi yang dimakan oleh belalang, belalang dimakan oleh katak, dan katak oleh ular. Setelah mati, bangkai ular akan diurai, dan uraiannya akan menyuburkan tanah, serta memberi makanan kepada tumbuh-tumbuhan. Begitu seterusnya, di mana siklus berulang kembali [Perhatikan bagaimana tumbuh-tumbuhan secara alami mengelompokkan dirinya dalam komunitas yang keberadaannya masing-masing saling menguntungkan pada Revolusi sunyi permakultur pada Membaca Alam].

Kita sendiri berhutang besar pada para petani. Makanan kita bertumpu di atas pengorbanan para petani padi dan sayur karena teramat jarang petani yang sejahtera. Para binatang malah lebih mengenaskan, terpaksa mati agar manusia bisa memakan daging.[1]

“Kita perlu mengajarkan kepada anak-anak kita, murid-murid kita, serta para pemimpin korporat dan politisi kita, mengenai fakta-fakta kehidupan yang mendasar—bahwa feses suatu spesies adalah makanan bagi spesies lainnya; merupakan siklus yang terus berlanjut melalui jaringan kehidupan; bahwa energi yang menggerakkan siklus ekologis itu bersumber dari matahari; bahwa keragaman itu menjamin ketahanan; dan bahwa awal kehidupan lebih dari tiga miliar tahun yang lalu itu tidak mengambil alih planet ini melalui pertempuran melainkan melalui jalinan kerja sama” —Fritjof Capra, The New Facts of Life, 2008


———
[1] Gede Prama. Pencerahan dalam Perjalanan. Gramedia Pustaka Utama, 2010. 


———
Referensi

Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel.

Fritjof Capra. The New Facts of Life, EcoLiteracy, ecoliteracy.org




.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  





***


Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...