Perbincangan melalui surat elektronik dengan Muhammad Masruhan (sejarawan, desainer grafis), 24 Oktober 2017
1. Apa sajakah kategori yang masuk sebagai desain grafis? Apakah sama dengan ilustrasi? Apakah lebih fokus pada desain yang tercetak di atas medium kertas atau ada kategori lain? Bagaimana dengan wayang kulit atau beber, batik, relief, dan pahatan kayu?
Buku
ini lebih fokus pada akar desain grafis, yaitu pada yang tercetak,
sebagaimana yang diajarkan di Jurusan-jurusan Desain Grafis (DKV), jadi
tidak termasuk yang diajarkan di Jurusan Multimedia (Media Baru), atau
Jurusan Animasi. Wayang kulit/beber, batik, relief, pahatan kayu tidak
termasuk disiplin desain grafis, mereka semua tergolong pada seni kriya
(ketukangan atau craftsmanship). Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta
misalnya memiliki Program Studi Kriya serta Program Studi Batik dan
Fashion yang terpisah dari Program Studi DKV.
Namun
demikian, di situs DGI versi awal, saya mencoba merangkai sejarah batik. Walau masih sederhana, artikel ini sering kali di bagikan ulang
oleh beberapa pihak dan rupanya juga dipakai sebagai rujukan oleh
industri-industri terkait. Tapi artikel yang cukup panjang ini
sepertinya belum sempat dimigrasikan ke situs DGI versi akhir (ini sisi
kelemahan pengarsipan secara online).
2. Sejarah desain grafis masih sangat luas cakupannya, dalam buku-buku yang akan terbit selanjutnya (jilid 2), apakah yang sebenarnya dicari? Atau apakah permasalahan yang hendak disampaikan? Desain grafis di Indonesia atau desain grafis yang dibuat orang Indonesia?
Lebih
kepada desain grafis yang dibuat oleh orang Indonesia, walau tak
mengabaikan peran orang lain bila memang saya memiliki dokumentasinya.
3. Dalam buku jilid I, belum nampak dalam timeline pembahasan logo seperti logo kota pada awal abad ke-20 yang mulai banyak diadopsi oleh beberapa kota di Hindia Belanda (meskipun jauh sebelum itu sudah ada yang mengadopsi, seperti logo kota Batavia, Makassar, dan Semarang), logo-logo organisasi sosial-politik, dan cerita tentang adopsi logo Garuda Pancasila. Apakah memang dalam buku jilid I tersebut hanya lebih difokuskan pada desain grafis industri yang ada pada industri iklan dan percetakan? Kalau demikian, bagaimana dengan komik?
Logo kota-kota awal abad ke-20. Sumber: Muhammad Masruhan. |
Dalam berbagai kesempatan (seingat saya juga di Kata Pengantar saya) saya selalu mengingatkan keterbatasan buku ini kepada materi yang berhasil didokumentasikan di situs pengarsipan Desain Grafis Indonesia (DGI) periode 2007–2013. 2007 merupakan tahun di mana saya mulai melakukan pengarsipan, dan 2013 adalah kisaran waktu di mana penulisan buku ini masih berjalan sebelum harus diakhiri.
Bentuk
karya cipta desain grafis sangat banyak ragamnya, tidak mungkin saya
dengan berbagai keterbatasan saya (atau seandainya bisa pun) menuliskan
semuanya dalam sebuah buku. Logo kota hanya salah satunya, masih ada
yang lain seperti uang, majalah, perangko, buku, dan banyak lagi yang
sejarahnya masing-masing begitu panjang sehingga pada hemat saya tak
mungkin disisipkan dalam timeline per dekade di buku ini. Sejarah desain
uang misalnya sepatutnya dituliskan dan menjadi buku tersendiri.
Demikian pula sejarah desain koran, sejarah desain perangko, sejarah
desain kemasan, sejarah desain sampul album musik (piringan hitam,
kaset, CD), sejarah ilustrasi, sejarah aksara dan tipografi, sejarah
poster, sejarah desain iklan, dsb.
Buku memperingati kenaikan Wilhelmina, Semarang 1898. |
Silsilah kerajaan Jawa dari Paku Buwono dan Hamengku Buwono IV. Sumber: Muhammad Masruhan. |
Komik juga
memiliki sejarahnya sendiri yang sangat panjang. Pernah terbersit untuk
menuliskannya tapi sementara ini belum bisa saya lakukan. Di masa lalu
komik tidak termasuk dalam Jurusan Desain Grafis, baru belakangan komik
menjadi bagian dari kurikulum DKV. Pada awalnya pun masih merupakan mata
kuliah pilihan, tidak wajib. ISI Yogyakarta misalnya yang dulu memiliki
Jurusan Seni Reklame (yang kemudian menjadi DKV) di samping Jurusan
Ilustrasi Grafik, juga baru belakangan memasukkan komik dalam pendidikan
formal di kedua jurusan tersebut. Sepengetahuan saya, di Jurusan
Ilustrasi Grafik penekanannya lebih kepada gambar kartun atau karikatur,
dan tidak mempersiapkannya agar bisa berkelanjutan menjadi karya Tugas
Akhir.
4. Dalam buku jilid I tersebut, pencantuman sumber lokal seperti desain grafis yang ada pada babad, serat, maupun ornamen-oranamen pada beberapa kitab suci (Al-Quran dalam konteks Indonesia) juga nihil. Padahal jika melihat berkembangnya ilustrasi maupun percetakan di Eropa, sependek yang saya ketahui, juga dipengaruhi oleh penyebaran dan penggandaan Al-Kitab/Bible.
Ada
baiknya saya menjelaskan sedikit mengenai penerbitan buku DGIDPDGD yang
sebetulnya memiliki perjalanannya sendiri yang cukup panjang.
Pada
2005 saya memutuskan mengundurkan diri dari profesi saya sebagai
desainer grafis, justru ketika dari sisi finansial (ekonomi) saya sedang
memetik buahnya yang manis, karena kondisi penglihatan saya yang terus
menurun dan tak lagi memungkinkan untuk melakukan kegiatan merancang.
Dalam keadaan berkelimpahan waktu, saya menengok ke kliping dan arsip
karya desain yang terkumpul di ruang kerja saya di rumah. Terbersit
keinginan untuk membagikannya ke publik (terutama khalayak desain). Ada
semacam concern, bahwa kalau semuanya itu saya miliki sendiri maka hanya
akan sia-sia saja, suatu saat akan punah.
Bagaimana supaya jangkauannya seluas mungkin? Kebetulan pada saat itu media blog (web log) mulai populer di Indonesia. Saya menuliskan ulang kliping serta memindai arsip karya, dan memasukkan (posting)
seluruh dokumen itu satu persatu ke sebuah aplikasi blog. Maka lahirlah
blog Desain Grafis Indonesia (DGI) yang kemudian berfungsi sebagai
media pembelajaran bersama (2007). Ini versi 1.0.
Simpati dan aksi yang tergalang dari kawan-kawan desainer kemudian secara otomatis membentuk karakter DGI sebagai sebuah platform kolaboratif. [Lihat: Perjalanan Tujuh Tahun Situs Desain Grafis Indonesia (DGI): 2007–2014]. Dengan landasan ini DGI berkembang menjadi sebuah situs (web site) pengarsipan. Di mana dengan berjalannya waktu, timbul kebutuhan untuk tidak saja merawat arsip secara maya (on line) tapi juga fisiknya. Maka muncullah kebutuhan akan keberadaan Museum DGI.
Tapi
dari mana dan bagaimana kami memperoleh koleksinya? Ini melahirkan
gagasan untuk mengumpulkan karya secara nasional dan terkurasi
(selektif) melalui ajang penghargaan Indonesian Graphic Design Award (IGDA). Kami telah menyelenggarakannya dua kali.
Semua
ini kini masih bergulir, berproses secara kolaboratif, melebur dalam
kebersamaan, dengan bahu membahu atau bergotong royong, secara luar
biasa. Juga terjadi dengan sendirinya sesuai kebutuhan pada tiap
saatnya, sebagai konsekwensinya. Seperti air yang mengalir dari kaki
gunung, membentuk sungai-sungai sebagai jalan yang dilaluinya menuju ke
laut.
Situs DGI yang sekarang (www.dgi.or.id)
merupakan versi ketiga (v 3.0), di mana belum seluruh artikel yang
sudah diterbitkan pada v 2.0 (jumlahnya mendekati 3.000 artikel)
berhasil kami migrasikan, karena keterbatasan SDM.
Pada
2012, saya memutuskan menulis buku DGIDPDGD (berdasar pada arsip yang
terkumpul di situs DGI)—berangkat dari keprihatinan karena hingga saat
itu sekolah-sekolah DKV hanya mengajarkan sejarah desain grafis
Barat—ketika kondisi mata sudah sedemikian menurunnya. Kondisi ini yang
menyebabkan saya tidak mungkin melakukan penelitian di
perpustakaan-perpustakaan atau pusat-pusat pengarsipan demi membuat
kajian. Jadi ada semacam desakan waktu untuk menuliskannya ke dalam
bentuk buku. Penerbitannya saya anggap perlu demi mengantisipasi
keberadaan web site yang terbilang rapuh. Selama ini kami mendanai
sendiri seluruh upaya pengarsipan baik melalui situs DGI maupun
penerbitan bukunya. Seorang pengajar DKV menyampaikan kepada
saya betapa ia lebih terbantu mengajarkan sejarah dengan adanya buku
itu daripada ketika masih harus mengaksesnya melalui internet. Semua ini
masih langkah awal, tapi kalau tak dimulai maka entah sampai kapan kita
boleh memiliki sejarah desain grafis kita dan bangga pada
sejarah sendiri.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar