18.4.18

Riak-riak Desain Grafis Indonesia: 1972–2012

Versi awal dipublikasikasikan di buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia I (2016) dengan judul yang sama sebagai Pendahuluan.


Buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia I.
.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  


Oleh: Hanny Kardinata


Suatu hari pada pertengahan 1975, seusai acara wisuda di aula STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) Asri di jalan Gampingan, Yogyakarta, saya berada dalam perjalanan ke rumah makan Ayam Goreng Kalasan 'Suharti' membonceng sepeda motor Honda yang dikemudikan oleh Fadjar Sidik (1930–2004), Ketua Jurusan Seni Lukis waktu itu (yang oleh seniman-seniman Yogyakarta dianggap sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia). [1] “Kamu mesti ke Jakarta, Han” katanya, “Kalau sudah menguasai Jakarta, yang lainnya lebih mudah". Rupanya begitulah citra umum mengenai Jakarta tahun 1970-an, diakibatkan oleh politik Orde Baru yang serba sentralistik, yang mengubah wajah Jakarta bagai magnet bagi angkatan kerja, termasuk calon desainer grafis. Di bawah pemerintahan Soeharto, kondisi politik yang dengan berbagai cara diupayakan stabil itu telah berakibat pada derasnya investasi asing yang masuk, menjadi bahan bakar bagi pembangunan infrastruktur di segala sektor, terutama di kota Jakarta.

Terlepas dari sepiring nasi hangat dengan ayam goreng lezat yang kami nikmati sesudahnya, acara wisudanya sendiri berjalan sangat singkat, serba dingin dan kaku, dan menegangkan. Bayangkan, mungkin baru kali itu pernah terjadi dalam sejarah pendidikan di Indonesia, bahkan di dunia, bahwa sebuah acara wisuda perguruan tinggi (kecuali mungkin di AKABRI) dipimpin oleh seorang petinggi militer, sementara semua pintu masuk ke kampus dijaga ketat oleh tentara, dan hanya yang berkepentingan atau yang tidak termasuk di dalam "daftar hitam" yang diizinkan masuk. 
Peristiwa tersebut di atas saya alami ketika dunia seni rupa Indonesia, terutama di STSRI 'Asri', dan juga FSRD ITB, baru saja diguncang oleh peristiwa yang disebut Desember Hitam, yang pecah di ujung tahun 1974; adalah sebuah gerakan perlawanan para seniman muda yang diawali dengan protes terhadap pemberian penghargaan pemerintah kepada lima pelukis, yang karyanya dikritisi sebagai bercorak ragam sama (seragam) yaitu dekoratif, dan lebih mengabdi kepada kepentingan "konsumtif". 


Gerakan Seni Rupa Baru (1975)

Peristiwa Desember Hitam itu adalah cikal bakal terbentuknya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada tahun 1975 yang kelak menghantarkan dunia seni rupa Indonesia ke pemahaman baru mengenai estetika, pengungkapan nilai dan fungsi seni. Bagi GSRB, kesenian tidak harus dikategorikan menurut jenjang, ada kesenian kelas wahid dan ada kesenian kelas kambing. GSRB menolak batasan antara seni murni dan seni terap, dan semua fenomena kesenian termasuk desain pun dianggap sederajat. Sepanjang perjalanannya (1975–1979, 1987), eksponen GSRB yang juga desainer grafis tercatat antara lain F.X. Harsono, Syahrinur Prinka (1947–2004), Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto, Gendut Riyanto (1955–2003), Harris Purnama dan Oentarto.


Pameran desain grafis pertama di Indonesia

Spirit untuk tidak lagi memercayai penjenjangan antara seni murni dan seni terap menghantar tiga desainer grafis mengabarkan eksistensinya melalui sebuah pameran desain grafis di Pusat Kebudayaan Belanda 'Erasmus Huis' pada tanggal 16–24 Juni 1980, sebuah riak kecil yang mengusung misi utama memperkenalkan profesi desainer grafis ke publik yang lebih luas. Pameran bertajuk Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit ini kelak tercatat sebagai pameran desain grafis pertama di Indonesia yang diadakan oleh desainer grafis Indonesia. [2] 



Organisasi desainer grafis pertama di Indonesia

Pameran itu juga menjadi ajang berkumpulnya desainer-desainer grafis masa itu yang sedang menggalang pertemuan-pertemuan intensif di jalan Padalarang 1-A, Jakarta—kantor majalah Visi (d/h Maskulin) dan Sport Otak—untuk mempersiapkan dibentuknya sebuah organisasi yang mewadahi desainer grafis Indonesia. Organisasi ini kemudian diresmikan pada tanggal 24 September 1980 dengan nama Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI) bersamaan dengan penyelenggaraan sebuah pameran besar bertajuk Grafis'80 di Wisma Seni Mitra Budaya, Jalan Tanjung 34, Jakarta. Inilah upaya terbesar desainer grafis angkatan ‘70 untuk menyatakan eksistensinya, agar masyarakat apresiatif terhadap bidang ini. “Pameran itu seolah menyadarkan kita, bahwa seni tak hanya yang bisa kita tonton dalam pertunjukan formal saja, tapi juga pada yang melekat dalam kehidupan sehari-hari kita”. [3]

Studio-studio desain grafis pertama di Indonesia

Sepanjang tahun 1970 dan seterusnya mulai bertumbuh perusahaan-perusahaan desain grafis yang sepenuhnya dipimpin oleh desainer grafis. Berbeda dengan biro iklan, perusahaan-perusahaan ini mengkhususkan diri pada desain non-iklan, semuanya berada di Jakarta: Vision (Karnadi Mardio), Grapik Grapos Indonesia (Wagiono Sunarto, Priyanto Sunarto, S. Prinka), Citra Indonesia (Tjahjono Abdi, Hanny Kardinata) dan GUA Graphic (Gauri Nasution). Dan pada dekade berikutnya, di Jakarta muncul antara lain Gugus Grafis (F.X. Harsono, Gendut Riyanto), Polygon (Ade Rastiardi, Agoes Joesoef), Adwitya Alembana (Iwan Ramelan, Djodjo Gozali), Headline (Sita Subijakto), BD+A (Irvan Noe’man), dan di Bandung: Zee Studio (Iman Sujudi, Donny Rachmansjah), MD Grafik (Markoes Djajadiningrat), Studio 'OK!' (Indarsjah Tirtawidjaja) dan lain-lain. 

Setiap studio membawa serta kekhasannya masing-masing sebagai akibat dari ‘ideologi’ desainernya. Misi keIndonesiaan menuntun cara kerja Citra Indonesia dalam mengolah karya-karya desainnya. Di dalam Citra Indonesia ada seorang tokoh budaya, S.J.H. Damais, yang menjadi ‘kamus berjalan’ bagi pendekatan-pendekatan yang ingin diterapkan. Sementara Gugus Grafis berupaya setia dengan ideologi GSRB-nya walau tidak seluruh nilai dan praksis seni rupa kontemporer bisa diterapkan pada semua kesempatan yang didapat. Pada tahun 1973 ada Design Centre Association (Decenta) di Bandung, yang melibatkan A.D. Pirous, G. Sidharta, Adrian Palar, Sunaryo, T. Sutanto, dan Priyanto Sunarto. Saat itu ada pertentangan antara pandangan bahwa seni itu universal dengan pandangan seni yang digali dari bumi sendiri. Decenta menjadi tempat menggali khasanah Indonesia yang diterapkan dalam seni (grafis, lukis, patung) dan desain (pameran, elemen estetis, furnitur, curtain, greeting card, sampul buku). 

Pendekatannya formal atau total, formal melalui olahan artefak budaya, dan total melalui penghayatan terhadap spirit yang hidup dalam masyarakat tradisi. Meski bukan studio desain grafis, Decenta sudah melayani pekerjaan-pekerjaan desain grafis (walau masih sedikit).

Pada masa ini, studio mana pun "dituntut" bisa mengerjakan pekerjaan apa pun, klien datang dengan pekerjaan mulai dari desain logo sampai kepada ilustrasi sampul kaset, desainer bak superman atau superwoman. Studio grafis tidak punya pilihan lain supaya bertahan hidup. Ilustrasi menggunakan teknik air brush, dengan gaya hyper-realism dan Pop Art menjadi trend waktu itu, sejalan dengan perkembangan ilustrasi di dunia maju (majalah Tempo dan Zaman adalah dua penerbitan yang mengakomodasi teknik ini untuk sampulnya). Air brush gun, pensil, kuas, cutter, Cow Gum, Spraymount dan huruf gosok Letraset/Mecanorma adalah alat-alat yang lazim bertengger di meja kerja desainer waktu itu.

Pertumbuhan usaha di bidang desain grafis serentak dengan perkembangan di bidang pendidikannya. Menyusul STSRI Asri di Yogyakarta dan FSRD ITB di Bandung yang sudah ada terlebih dulu, pada tahun 1976 juga dibuka di LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) dan kemudian di Universitas Trisakti pada tahun 1978. 

Pameran IPGI ke-2 digelar pada tanggal 22–31 Agustus 1983 di Galeri Utama TIM, Jakarta dengan tajuk Grafis‘83. Ini adalah untuk pertama kalinya—setelah 15 tahun berdiri—Dewan Kesenian Jakarta dan TIM (Taman Ismail Marzuki) menyelenggarakan sebuah pameran seni terap, yang secara tidak langsung merupakan pengakuan resmi otoritas kesenian atas desain grafis sebagai seni. Sudarmadji, Ketua Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta mengungkap bahwa “Kemasan pasta gigi atau sabun, jika isinya sudah diambil dan digunakan, maka kemasan (pembungkusnya) langsung begitu saja dibuang. Poster atau reklame yang terpampang di jalan, begitu tahu isinya, habis perkara. Jarang yang penghayatannya dilanjutkan dari aspek artistik dan estetisnya”. [4]

Selanjutnya bersama Japan Graphic Designer Association (JAGDA), IPGI pernah menyelenggarakan dua pameran besar, yaitu pada 9–15 Februari 1988 di Galeri Ancol, Pasar Seni Ancol, Jakarta yang dilanjutkan di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha 10, Bandung, dan pada tahun 1989 berturut-turut di tiga kota: 23–30 Maret di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud (sekarang Galeri Nasional) di jalan Merdeka Timur 14, Jakarta; 12–20 April di Yayasan Pusat Kebudayaan, jalan Naripan, Bandung dan 26 April–3 Mei di Kampus Institut Seni Indonesia (d/h STSRI 'Asri') di jalan Gampingan, Yogya.

Selama perjalanannya, desainer yang aktif menggerakkan roda IPGI: Gauri Nasution, Hanny Kardinata (Bendahara), Karnadi Mardio (Wakil Ketua), Priyanto Sunarto, Sadjiroen, Syahrinur Prinka, Tjahjono Abdi, Wagiono Sunarto (Ketua), Yongky Safanayong.

Upaya menyejajarkan desain dengan cabang kesenirupaan yang lain, juga menjadi landasan kurasi Jakarta Art & Design Expo ‘92 atau JADEX‘92 yang digelar di Jakarta Design Center tanggal 25–30 September 1992. Untuk pertama kalinya semua cabang seni rupa—seni lukis, seni patung, seni grafis, seni serat, seni keramik, instalasi, desain interior, desain grafis, desain produk, desain tekstil, desain busana, desain aksesori, kriya kayu, kriya keramik dan kriya bambu—‘dipersatukan’ dalam sebuah pameran besar. “Sejauh ini, pengkajian kemungkinan persentuhan itu­—khususnya melalui sebuah pameran—belum dilakukan. Pameran-pameran yang diselenggarakan umumnya berkaitan dengan keutamaan masing-masing cabang seni rupa yang lalu lebih menunjukkan perbedaan. Pameran desain, mengutamakan aspek fungsi dan kaitannya dengan berbagai bidang usaha. Pameran lukisan, patung atau grafis, bila tak menekankan tujuan menjual, terlalu sibuk dengan apresiasi”. [5]


IPGI ganti nama jadi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia)

Pada tanggal 7 Mei 1994 IPGI menyelenggarakan kongres pertamanya di Jakarta Design Center dimana berlangsung penggantian nama organisasi menjadi Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Pada saat itu dilakukan juga serah terima jabatan dari pengurus IPGI ke pengurus ADGI (Ketua: Iwan Ramelan, Sekretaris: Irvan Noe’man), pemilihan President Elect (Gauri Nasution), pengesahan AD/ART dan kode etik serta pengesahan Majelis Desain Grafis (anggota antara lain: Gauri Nasution, Hanny Kardinata, Priyanto Sunarto, Syahrinur Prinka, Tjahjono Abdi, Wagiono Sunarto). [6]

Seirama dengan pembangunan yang sedang berjalan dengan pesat pada periode 90-an, profesi desainer grafis pun semakin dikenal, demand masyarakat juga meningkat, dan didorong oleh faktor teknologi yang semakin canggih dan memudahkan (komputerisasi terjadi di masa ini), terjadilah pertumbuhan jumlah perusahaan desain grafis, di antaranya di Jakarta: LeBoYe (Hermawan Tanzil), MakkiMakki (Sakti Makki), Afterhours (Lans Brahmantyo), Avigra (Ardian Elkana), di Yogyakarta: Petakumpet (M. Arief Budiman) dan di Bali: Matamera (Arief ‘Ayip’ Budiman). Jenis pekerjaan hampir spesifik: brand/corporate identity, annual report, company profile, marketing brochure, packaging, calendar.

22 Januari 1998: Kurs rupiah menembus 17.000,- per dolar AS 

Setelah berpuluh-puluh tahun terbuai oleh pertumbuhan yang begitu mengagumkan, tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hebat. Krisis dengan cepat merambah ke semua sektor. Puluhan, bahkan ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau nota bene bangkrut. Perusahaan-perusahaan desain grafis pun tidak luput dari hantaman krisis ini, satu per satu ditutup karena sebagian besar klien mereka berasal dari sektor-sektor yang paling terpukul: perbankan, konstruksi dan manufaktur. Hanya studio kecil dengan dua atau tiga orang staf saja yang bisa bertahan karena overhead-nya kecil, studio besar yang mampu bertahan pun dipaksa memangkas drastis jumlah stafnya.


Forum Desainer Grafis Indonesia (FDGI) berdiri

Di tengah kekosongan organisasi yang mewadahi profesi ini, pada awal tahun 2000 Forum Desainer Grafis Indonesia (FDGI) diwacanakan oleh 3 orang desainer yang juga pengajar desain grafis yaitu Hastjarjo B. Wibowo, Mendiola Budi Wiryawan dan Arif P.S.A. FDGI diresmikan bersamaan dengan penyelenggaraan Pameran Poster Melihat Indonesia Damai tanggal 6–14 Juni 2003 di Bentara Budaya, Jakarta. Selanjutnya pada rapat kerja FDGI di Cibubur 11 Juli 2003 dihasilkan perubahan nama organisasi menjadi Forum Desain Grafis Indonesia (FDGI) dengan tujuan untuk menjangkau pemangku kepentingan di luar desainer grafis. Pada tanggal 7–11 September 2005 FDGI berhasil mengadakan pameran poster internasional Light of Hope for Indonesia di arena FGD Expo 2005.


Transformasi Adgi menjadi Adgi (Indonesia Design Professionals Association)

Pada tanggal 8 September 2005 dalam acara Gathering and Talk Show-It’s Graphic Designers United! di arena FGD Expo 2005, Jakarta Convention Center yang diselenggarakan oleh FDGI, diterbitkan Memorandum ADGI kepada Gauri Nasution, Danton Sihombing, Hastjarjo B. Wibowo dan Mendiola B. Wiryawan untuk mempersiapkan Kongres ADGI dalam waktu 6 bulan. Pada bulan Oktober 2005 para penerima mandat membentuk Tim Revitalisasi ADGI sebanyak 16 orang yang bekerja selama 5 bulan untuk merumuskan platform 'Adgi Baru'. Berdasarkan evaluasi terhadap kinerja ADGI pada masa lalu dirumuskanlah branding platform Adgi baru yang hadir dengan deskripsi Indonesia Design Professionals Association. Kata Adgi menjadi nama, bukan lagi akronim (ADGI).


Kongres Nasional Adgi pertama

Pada tanggal 19 April 2006 bertempat di Ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta diselenggarakan Kongres Adgi dimana terpilih formasi presidium yang terdiri dari 5 orang yaitu Andi S. Boediman, Danton Sihombing, Hastjarjo B. Wibowo, Hermawan Tanzil dan Lans Brahmantyo untuk mengemban tugas memimpin Adgi selama periode 1 tahun dengan mengusung tema Unifying Spirits. Pada 16–30 Agustus 2006 presidium ini berhasil menyelenggarakan pameran Petasan Grafis di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta dengan sub-judul “Pameran Nasionalisme Indonesia dalam Desain Komunikasi Visual”.


Kongres Nasional Adgi kedua

Pada tanggal 19 April 2007 dilaksanakan Kongres Nasional Adgi kedua di gedung Galeri Nasional, Jakarta. Melalui mekanisme pemungutan suara, Danton Sihombing terpilih sebagai Ketua Umum Adgi 2007–2010. Kemudian bersamaan dengan diselenggarakannya FGD Expo 2007 pada 8–12 Agustus 2007 Adgi menggelar pameran poster internasional One Globe One Flag di Jakarta Convention Center.


Dari Adgi kembali ke ADGI

Pada tanggal 9 November 2007 Adgi menyelenggarakan “Adgi Jakarta Chapter-Member Recruitment and Gathering Night 2007" di Forbidden Citi, Jl. Wijaya I No. 55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pada peristiwa ini disampaikan antara lain perubahan nama asosiasi dari Adgi-Indonesia Design Professionals Association menjadi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia), kembali ke nama yang disepakati pada Konggres IPGI ke I di Jakarta Design Center tanggal 7 Mei 1994. 

Demikianlah gambaran singkat perjalanan IPGI hingga menjadi ADGI, kemudian dari ADGI menjadi Adgi dan akhirnya kembali menjadi ADGI (tetapi tetap di tuliskan: Adgi). Sampai uraian ini selesai ditulis, Adgi telah melaksanakan fungsi nasionalnya lewat pemberdayaan chapters di seluruh Indonesia, yang saat ini terdiri dari Adgi Jakarta Chapter, Adgi Surabaya Chapter, Adgi Bali Chapter, Adgi Yogyakarta Chapter dan Adgi Solo Chapter.


Ajang penghargaan desain grafis pertama berskala nasional di Indonesia

Pada tanggal 4 Juli 2009 diadakan konferensi pers Indonesian Graphic Design Award (IGDA) 2009 di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta yang sekaligus menandai dimulainya ajang penghargaan desain grafis pertama berskala nasional ini. IGDA diselenggarakan agar tercipta suatu standar bagi kualitas desain grafis Indonesia, yang setiap tahunnya dinyatakan kepada publik nasional dan internasional sehingga kelak eksistensi desain grafis Indonesia bisa diperhitungkan dalam lingkup global.


Desain grafis Indonesia di jagad industri dunia

Pertumbuhan selalu berawal dari riak kecil, berhimpun menjadi gelombang, dan gelombang lebih besar lagi yang akhirnya membentuk desain grafis Indonesia seperti sekarang ini. Desainer grafis Indonesia kini bisa dengan bangga menyatakan bahwa desain grafis Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hampir semua sektor membutuhkan sentuhan desainer grafis. Pendidikan desain grafis pun berada di puncak pertumbuhan seperti yang belum pernah dialami sebelumnya. Hingga sekarang sekitar 70an pendidikan tinggi Desain Komunikasi Visual (DKV) telah dan segera berdiri di Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Solo, Malang, Surabaya, Bali, Makassar dan menyusul di beberapa kota lainnya.[7] 

Desain grafis Indonesia kini juga memiliki forum maya Desain Grafis Indonesia (DGI) pada alamat dgi-indonesia.com yang diluncurkan pada Maret 2007, juga Jurnal Grafisosial (2007) pada alamat grafisosial.wordpress.com. Situs DGI adalah embrio dari Museum (to be) DGI yang direncanakan berlokasi di Chandari, Ciganjur, Jakarta Selatan.

Stabilitas ekonomi yang terjaga paska krisis, telah menumbuhkan jumlah perusahaan desain grafis di berbagai daerah. Di Jakarta saja untuk menyebut beberapa di antaranya: Inkara Design (Danton Sihombing, Ilma Noe’man), DesignLab (Divina Natalia), Whitespace Design (Irvan N. Suryanto), H2O Design (Vera Rosana), Kineto (Djoko Hartanto), Octovate (Bernhard Subiakto), Banana Inc. (Nico A. Pranoto), Jerry Aurum Design (Jerry Aurum), Mendiola Design (Mendiola B. Wiryawan), Roundbox (Bima Shaw), Nubrain Design (Ato Hertianto), Fresh Creative (Imelda Dewajani), AhmettSalina (Irwan Ahmett, Tita Salina), Crayon Design (Melvi Samodro), Halfnot Indesign (Heri Mulyadi), Thinking*Room (Eric Wijaya), Lumiére (Ismiaji Cahyono), Paprieka (Eka Sofyan), Songo (Hastjarjo B. Wibowo, Hagung Sihag, Arif P.S.A.), Neuborn (Vera Tarjono) dan masih banyak lagi. 

Tidak sedikit pula desainer-desainer muda Indonesia berkarya dan sukses di luar negeri: Henricus Kusbiantoro (Creative Director, Future Brand, New York), Lucia C. Dambies (Head Designer, Wharton Bradley Mack, Newcastle), John Kudos (Principal, Studio Kudos, Chelsea), Melissa Sunjaya (Principal, Bluelounge Design, Pasadena), Kalim Winata (Computer-Generated Images Artist, ImageMovers Digital, San Francisco), Yolanda Santosa (Principal, Ferroconcrete, Los Angeles), Bambang Widodo (Principal, BWDesign, New Jersey), Aswin Sadha (Founder, Thinking Form, New York) dan Nigel Sielegar (Founder, Corse, New York) adalah beberapa di antaranya.

Uraian pendek ini saya tutup dengan mengutip puisi indah M. Arief Budiman ketika meluncurkan ADGI Yogyakarta Chapter pada 19 Juni 2008: “Langkah besar itu telah dimulai dengan satu lilin kecil yang menyala kedip-kedip dalam hembus angin malam. Tapi nyala lilin itu menular, terus menular dan memenuhi kota. Merembet menembus batas-batas dan menerangi gelap sebuah negara. Lalu menyeberang laut dan menerangi dunia kecil kita ini“. [8]

Hanny Kardinata
Tangerang Selatan
Juli 2009 (direvisi sesuai perkembangan terakhir pada Agustus 2012)

———
[1] Dermawan T., Agus, “In Memoriam” Fadjar Sidik (1930-2004): Tenggelamnya Matahari Seni Rupa Modern. Kompas, Minggu, 25, Januari, 2004.

[2] Dermawan T., Agus, Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit: Mau Merubah Dunia. Kompas, Rabu, 25 Juni 1980.

[3] Leonardo, Pameran Grafis ‘80: Karcis Parkir, Uang Kertas sampai Karung Semen. Majalah Gadis no. 29, 1980.

[4] Sudarmadji, Sambutan. Katalog Pameran Grafis ‘83, 1983.

[5] Supangkat, Jim, Kembali ke Satu Seni Rupa. Katalog Pameran Jadex ‘92, 1992.

[6] Kardinata, Hanny, Sejarah IPGI: Upaya Menumbuhkan Apresiasi. Majalah Desain Grafis Concept, Volume 03 Edisi 13, 2006.

[7] Wibowo, Hastjarjo B., Mengkritisi Pendidikan DKV di Indonesia. Majalah Desain Grafis Versus Edisi 3, 2009.
Budiman, M. Arief, Api Kreativitas di Launching ADGI Jogja, http://dgi-indonesia.com/news-launching- adgi-asosiasi-desainer-grafis-indonesia-jogja-chapter, 2008, diakses 4 Agustus 2012.


.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  



***

11.4.18

Dalam Kenangan: Slamet Abdul Sjukur (30 Juni 1935–24 Maret 2015)



Slamet Abdul Sjukur, sketsa oleh Wiwik Hidayat









Slamet Abdul Sjukur, sketsa oleh Wiwik Hidayat
beta
ada di malam
ada di siang
mari
menari
mari
—Bagian dari olahan Slamet Abdul Sjukur atas sajak Chairil Anwar, Tjerita Buat Dien Tamaela (1943) untuk Parentheses 5 (1981)
Indonesia mengalami kehilangan besar. Slamet Abdul Sjukur, maestro dan legenda musik kontemporer Indonesia itu, telah dipanggil kembali oleh Penciptanya pada Selasa, 24 Maret 2015 sekitar pukul 06.00 WIB, setelah melalui dua minggu perawatan di sebuah rumah sakit di Surabaya.
Pribadi yang lurus dan setia pada kebenaran itu hingga detik-detik terakhir perjalanan hidupnya masih setia mendarmabaktikan segenap jiwa raganya demi musik, musik, dan musik.
Pertengahan 1981
Sajak Chairil Anwar Tjerita Buat Dien Tamaela itu telah mempertemukan saya dengan Slamet Abdul Sjukur. Ketika itu, bersama Adjie Damais, saya membantunya mempersiapkan buku acara pergelaran perdana karya ciptanya Parentheses 5 di Hotel Hilton (sekarang: The Sultan Hotel) dan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Saat-saat diskusi yang kami lalui bersama di kantor biro grafis Citra Indonesia—baik semasa persiapan dan sesudahnya—perlahan-lahan telah mendekatkan hati kami berdua.
Apresiasinya terhadap desain grafis sungguh mengagumkan. Sejak saat itu, kami sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama: untuk sekadar berjalan-jalan atau berdiskusi. Hampir setiap hari, Mas Slamet menjemput saya dengan Honda Civic-nya untuk menyusuri berbagai tempat kesenian atau pusat-pusat kebudayaan asing di Jakarta, lalu mengantar saya pulang kembali ke tempat kos saya di Jalan Yusuf Adiwinata SH 30.
Siang atau malam, kami melewati masa-masa indah, ”menari” dan ”beria” bagai ”ganggang” dalam sajak Chairil Anwar itu. Sesekali, kami hanya berjalan dan berjalan—tak tentu arah. Hotel Hilton acap kali menjadi pilihan favorit untuk beristirahat sekadar mendengarkan alunan gamelan Jawa hingga jelang malam hari. Dalam keheningan, kami sering dipersatukan [Baca: Keheningan yang Berbicara (1), (2), dan (3)].
Jiwa yang halus itu tak ayal diwarisi pula oleh anak-anaknya. Suatu sore, Mas Slamet bersama isterinya, Françoise, Svara anaknya, dan saya berjalan-jalan di TIM. Di tengah obrolan yang menghanyutkan, kami baru menyadari bahwa Svara tidak lagi berada di antara kami. Kami berbalik, dan menjumpainya sedang menempelkan telinganya di pohon beringin yang tumbuh besar di halaman tengah kompleks TIM. Entah sudah berapa lama ia di situ. Ketika ditegur, Svara hanya menjawab, “Aku sedang mendengarkan suaranya.”
Akhir 1980-an
Kami tidak lagi bisa menari bersama setelah saya menikah pada 1985. Tapi, terkadang masih menyempatkan diri bertemu untuk sekadar kangenan. Biasanya kami lakukan di toko buku ’QB’ di Pondok Indah. Tempat ini layaknya oase bagi kami. Di tengah lautan buku di kedua lantainya, kami biasa menghabiskan waktu dari pagi hingga sore hari. Lain waktu, Mas Slamet main ke rumah saya di Bintaro sambil menikmati es campur kesukaannya, dan karya-karya desain John Maeda yang serba musikal itu.
Suatu hari, seingat saya pada kisaran akhir 1980-an, dalam salah satu obrolan kami dikejutkan oleh kenyataan bahwa kedua ayah kami juga saling mengenal dan bersahabat. Sungguh sebuah kebetulan yang membuat kami takjub. Sesudahnya, Mas Slamet pun mengatur pertemuan kembali di antara kedua keluarga yang kemudian berlangsung pada sebuah hari baik di rumah saya di Jalan Trunojoyo 101, Surabaya.
2000-an
Persahabatan kami tidak sampai terputus setelah itu. Berkat internet, kami yang semakin terpisah oleh jarak, didekatkan kembali melalui surat elektronik. Sesekali, kami bertemu pada acara-acara seni, terutama saat Mas Slamet melangsungkan pergelaran-pergelaran karya musiknya yang selalu menggoda itu.
Namun, masih tersisa penyesalan pada diri saya karena batal menghadiri pergelaran terakhirnya, Konser 79 Tahun Sluman Slumun Slamet pada 27 September 2014. Waktu itu, kondisi kesehatan saya tiba-tiba menurun. Meski demikian, masih ada rasa syukur saya karena masih memperoleh kesempatan mendengarkan karya-karya terakhirnya itu melalui piringan cakram rekamannya yang dikirimkan oleh sahabatnya, Ariani Ririn beberapa saat sesudahnya.
Selamat jalan sahabat tersayang. Terima kasih atas masa-masa bahagia yang telah kita lalui bersama. Terima kasih atas sumbangsih luar biasa bagi seni Indonesia. Tuhan beserta segenap malaikatnya akan menyambut kedatanganmu dengan paduan suara suka cita. Selamat beristirahat dalam damai di sisi-Nya.
Gaung pukulan tifa yang bertalu-talu, gema dari sajak ’Tjerita Buat Dien Tamaela’ itu kini terdengar khusyuk mengiringi perjalanan abadinya ke dunia yang tenteram; tanpa tirani kebisingan, dambaannya sepanjang hayatnya.
Hanny Kardinata
Bintaro, 24 Maret 2015

———
Referensi 
Buku Acara Pergelaran Karya Cipta Slamet A. Sjukur ‘Parentheses 5′ (1981)

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .

Konser 79 Tahun Sluman Slumun Slamet pada 27 September 2014.

***

13.3.18

Segera, Diam akan jadi Legenda

1.
Aku bercerita kepada malam
Karena hanya ia yang sudi menadah keluh kesah
Para pecinta yang menderita [1]
Tapi keagungan malam itu telah direnggutnya pula.

Suatu ketika di sebuah pemukiman elitis. Sunyi langit malam itu kembali terbelah oleh gaduh tetangga sebelah yang seolah memindahkan diskotik ke rumahnya. Dimainkannya perangkat disjoki mengiringi gelegar musik dansa, berselang-selangan dengan tepuk sorak para handai tolan. 

Ingar-bingar hingga jelang dini hari itu dipaparkannya ke lingkungan sekitar melalui pengeras suara berdaya besar, berulang kali, sepanjang tahun. Tak mengindahkan peringatan yang telah berkali-kali dilayangkan kepadanya. 

Maka sekerap itu pulalah kami seisi rumah, juga warga sekitar yang tak berdaya, dibuatnya tak bisa tidur. 

Malam itu, sejumlah kata teguran yang dikirimkan melalui pesan singkat, tak dibalasnya. Terkantuk-kantuk, anakku beranjak dari tempat tidurnya, menuju ke rumah sebelah, berniat menegurnya langsung. Tapi ia disambut dengan lagak pongah Sang Pangeran. Direnggutnya tangan anakku, dan kemudian dibantingnya ia, sehingga cedera di sebagian tubuhnya; di kepala, lengan, dan jari-jari tangannya.

Paginya, kepala keamanan kompleks yang meradang, mendatangi si pembuat onar dan menghardiknya keras. Tapi ia bergeming, tak jua jera. Sesekali masih dihantarkannya gaduh serupa, sebelum akhirnya mereda.

Seiring dengan meredupnya disrupsi ala kelab malam itu, muncullah agresi baru: Sang Duli Tuan menjajakan Istananya sebagai lokasi syuting film iklan. 

Maka berputar ulanglah kisah dengan genre pergaduhan itu. Dengan durasi yang tak kalah panjang. Dan plot yang kian menyesakkan. 

Selain hiruk pikuk pengambilan gambar di belakang rumah, di depan rumah sebuah genset bertenaga 13 KVA berdengung dengan angkuhnya. Sepanjang hari, dari pagi hingga jelang azan subuh. Sejumlah pohon berdaun lebat di halaman rumahku, tak berdaya menghambat deru dan debu. 

Lengkaplah himpitan sengsara yang harus kami tanggung. Keberatan demi keberatan yang kami layangkan tenggelam ditelan kebisingan itu sendiri.

Maka hari-hari syuting itu kembali mengubah lingkungan sekitar bak neraka. Bagai kisah-kisah Bob Borzotta dalam bukunya yang lantang, Neighbors from Hell (2009).[i]

Setelah sekian keluhan diterimanya, Sang Paduka hanya bersabda ringan: “Bagaimana kalau saya pesankan hotel?”


2.

Polusi suara di pemukiman kota di Indonesia memang masih minim perhatian. Dibandingkan dengan polutan lain, pengendalian kebisingan lingkungan terhambat oleh kurangnya pengetahuan atas dampaknya bagi manusia dan kemanusiaan. Lebih memprihatinkan lagi ketika di sini kebisingan terlanjur diterima sebagai sesuatu yang wajar. 

Di Roma kuno (abad ke-8 SM), peraturan telah ditegakkan terhadap bunyi yang terpancar akibat gesekan besi roda gerobak pada jalan beraspal, yang menyebabkan orang Romawi terganggu tidurnya. Pada Abad Pertengahan (abad ke-5 hingga abad ke-15 M), kereta berkuda tidak diizinkan berjalan pada malam hari di kota-kota tertentu di Eropa, untuk menjamin tidur yang nyenyak bagi penghuninya.

Toh skala kebisingan di masa lampau tidak sebanding dengan di masa kini. Dalam kehidupan masyarakat modern, mobil dan motor terus melintasi kota-kota dan pedesaan. Truk bermesin diesel yang sarat muatan memaparkan polusi suara melalui mesin dan knalpotnya, di jalan-jalan raya, siang dan malam. Pesawat terbang, juga kereta api, kian memperburuk skenario. 

DI negara-negara maju, berbagai tindakan nyata diterapkan untuk mengatasi masalah ini. Amerika Serikat memiliki situs yang menyebutkan bahwa orang yang menyebabkan kebisingan tidak akan mendapat toleransi. Belanda juga telah mengeluarkan larangan membangun rumah di mana tingkat kebisingan dalam 24 jam rata-rata melebihi 50 dB. Di Inggris ada Undang-Undang yang menyebutkan bahwa pemerintah daerah dapat menyita peralatan yang membuat kebisingan di malam hari (night-time noise).[2] Kenyataannya, eksposur kebisingan lebih kerap terjadi di negara-negara berkembang di mana isu ini masih dianggap sebagai “barang mewah”. 

Dr. Richard Helmer, Direktur Departemen Perlindungan Lingkungan Manusia Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa tindakan praktis untuk membatasi dan mengendalikan paparan kebisingan lingkungan sangatlah penting. Tindakan sedemikian seharusnya didasarkan pada evaluasi ilmiah yang tepat atas data mengenai dampak yang ditimbulkan oleh kebisingan, terutama mengenai relasi antara dosis paparan (kuantitas) dan responsnya (dose-response relationships). Basisnya adalah proses penilaian terhadap risiko (risk assessment) dan manajemen risiko (risk management).[3]

Buku panduan yang dikeluarkan oleh WHO untuk Eropa menetapkan ambang batas kebisingan malam di luar ruangan pada tingkat 40 dB. Ketentuan ini bertujuan melindungi publik dari kebisingan di pemukiman, termasuk yang paling rentan seperti anak-anak, orang tua, dan yang sakit. Kebisingan lingkungan, terutama pada malam hari, mengganggu waktu tidur dan merusak kesehatan.[4]

Genset adalah salah satu biang kebisingan yang sangat mengganggu. Genset terbuka (open type) menghasilkan kebisingan hingga 90 dB (desibel). Sebagai gambaran mengenai skala desibel, percakapan manusia yang wajar menimbulkan kebisingan sekitar 60 dB. Pada skala 70 dB, tingkat kebisingan mencapai dua kali lipat level 60 dB, sementara pada 90 dB tingkat kebisingannya delapan kali lipat level 60 dB![5]

1. Buku panduan mengenai kebisingan malam yang dikeluarkan oleh WHO, 2009. Bisa diunduh dari situs web WHO Kantor Regional Eropa (www.euro.who.int) 

Komisi Eropa (European Commission) yang mendukung WHO, melalui media publikasinya Science for Environment Policy mengulas sejumlah penelitian ilmiah dan membuat konklusi sebagai berikut:
Tidur adalah kebutuhan biologis dan tidur yang terganggu bertalian dengan kesehatan yang buruk. Ada bukti yang memadai (sufficient evidence) bahwa kebisingan malam menyebabkan peningkatan denyut jantung, perubahan waktu tidur, dan penggunaan obat-obatan. Bukti yang terbatas (limited evidence) juga menunjukkan bahwa kebisingan malam berkaitan dengan naiknya tekanan darah tinggi (hipertensi), serangan jantung, depresi, perubahan tingkat hormon, kelelahan, dan kecelakaan.[ii] 
Laporan tersebut mencakup tentang ambang batas kebisingan malam yang bila terlampaui, efek negatifnya akan mulai terasa. Dampaknya bergantung pada frekwensi pemaparannya. Misalnya, ambang batas terbangun (waking treshold) di malam hari dan/atau dini hari adalah 42 dB, sedangkan ambang batas serangan jantung adalah 50 dB. 

Disimpulkan pula bahwa perbedaan intensitas dan frekuensi kebisingan tergantung pada sumbernya, yang menimbulkan dampak yang berbeda pula. Lalu lintas di jalan raya ditandai oleh tingkat kebisingan yang rendah per kejadian, namun bila ada sejumlah kejadian terjadi serentak, efeknya jadi lebih besar dalam membuat orang terbangun, daripada lalu lintas udara yang memiliki intensitas kebisingan tinggi per kejadian tapi frekwensi kejadiannya rendah.[6]

Berbeda dengan panca indera kita yang lain yang akan rehat saat kita beristirahat atau tidur, maka telinga tidak demikian. Organ pendengaran manusia akan selalu bekerja tanpa jeda dan rehat jika ada stimulus bunyi.

Undang Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai cita-cita bangsa Indonesia. Bahwa setiap hal yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada masyarakat Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi negara dan setiap upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat juga berarti investasi bagi pembangunan negara. 

Masih dari undang undang yang sama, pada pasal 6 tertulis: setiap orang berhak mendapat lingkungan yang sehat bagi pencapaian derajat kesehatan. Jelas bahwa kita sebagai warga negara oleh pemerintah diberi hak untuk bebas dari lingkungan yang berpolutan bising. Dan sebagai individu dalam masyarakat, kita pun diminta untuk berperilaku sehat (pasal 11), artinya kita haruslah menghindari bising demi kesehatan kita pribadi. 

Sangat jelas diinstruksikan dalam undang undang kesehatan tersebut agar kita menghormati hak orang lain dalam memperoleh lingkungan yang sehat baik fisik, biologi, maupun sosial (pasal 10).  Tentu kita harus bertenggang rasa, dalam arti konkret, jika dari pihak kita, rumah kita, industri kita, kendaraan kita atau sikap dan perilaku kita tersebut menghasilkan bising yang berdampak negatif bagi orang lain maka itu harus kita reduksi bahkan eliminasi.[7]


3.

Buku Neighbors From Hell mengartikulasikan derita “kelas warga tak berdaya” seraya memandu bagaimana Orang-orang Baik (Good Guys) melawan agresi tetangga—yang disebutnya sampah (trashy neighbors)—serta memulihkan kembali rumah dan komunitas mereka seperti sediakala. Melalui situs Neighbors from Hell Borzotta mengantar pembacanya dengan persoalan besar mengenai mengapa Orang-orang Busuk (Bad Guys) selalu menang atau dimenangkan. 

Dari berbagai pengalaman pribadi maupun yang diperolehnya ketika memberikan konseling, ia mencatat keganjilan bahwa otoritas setempat justru berpihak kepada Orang-orang Busuk, bisa jadi oleh karena pengaruh orang tersebut, sebagaimana ditekankannya pada intro bukunya: “…good neighbors wind up in conflict with authorities who we often see as siding with the bad neighbors”, sementara warga lain pada umumnya abai atau tidak peduli, selama tak merasa terganggu pada level yang sama.

Borzotta menekankan bahwa: “Good neighbors are not built for conflict the way bad ones are. We hate it, while they seem to enjoy it. But these people are actually very weak; they are living, breathing cliches. They can be corrected. But doing so by legal means, while remaining upstanding citizens not brought down to their level, can be a challenge.”[8]

2. Logo Neighbors from Hell sebagaimana dicantumkan oleh Bob Borzotta di situs Neighbors from Hell (neighborsfromhell.com).

Situs Amazon.com mengulas isi buku Tetangga dari Neraka selain berwawasan luas dan informatif juga mengemukakan studi forensik yang pertama yang pernah ada mengenai apa yang membuat ‘orang dewasa yang berperilaku seperti anak kecil’ itu semakin merajalela. 

Borzotta mengalami sendiri berurusan dengan tetangga yang menurutnya mengerikan; ia kemudian mendirikan pusat bantuan global untuk mereka yang senasib, guna mencari solusi atas masalah tua yang berulang kembali di zaman modern ini. 

Walau bersikap adil terhadap semua pihak, Borzotta jelas bukanlah the devils advocate. Terbitan berkalanya, Good Neighbors Rule, merupakan media terbanyak yang dibaca oleh khalayak yang membutuhkan bimbingannya, dan yang secara teratur berkonsultasi dengannya mengenai masalah terkait kehidupan bertetangga.[9]

Sebuah video diunggah oleh ABC News merekam upaya Borzotta mendukunng warga yang terzalimi di berbagai negara bagian Amerika: Have a Feud With the People Next Door?

Seperti Amerika dengan Noise Free America-nya, Indonesia sebenarnya pernah memiliki organisasi serupa. Masyarakat Bebas-Bising (MBB) didirikan pada 2010, oleh sejumlah tokoh masyarakat sipil dengan tujuan untuk mengingatkan masyarakat pada “bahaya nasional” polusi kebisingan. Ketuanya komponis Slamet Abdul Sjukur, dan di antara para penggeraknya terdapat nama-nama seperti Ahmad Syafii Maarif, Nh. Dini, Marco Kusumawijaya, Soe Tjen Marching, Bulantrisna Djelantik, Arief Adityawan S., Atieq S.S. Listyowati, Luthfi Assyaukanie, dll. Sayang, MBB mati suri setelah Slamet tutup usia (2015).

Dalam tulisannya, arsitek dan urbanis Marco Kusumawijaya menyodorkan kisah Persia Kuno, Gilgamesh, yang bertutur mengenai para dewa yang mengirimkan air bah karena terganggu oleh kebisingan yang ditimbulkan oleh manusia di kota-kota besarnya. Kebisingan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas dan jumawa.
“Kalau kita membanding-bandingkan beberapa kebudayaan, kesenyapan di ruang khalayak menjadi salah satu ukuran yang sangat penting. Budaya Jawa sangat menghargai kesenyapan, hampir serupa dengan di Jepang. Tapi belakangan ini di mana-mana kita mendapatkan ruang khalayak yang penuh dengan kebisingan yang tidak perlu, over-acting, dan dapat dicegah dengan upaya-upaya teknis, selain kesadaran untuk menghargai kesenyapan.”[10]

4.

Salah satu serangan terbesar pada kemanusiaan adalah dengan menghabisinya dengan bising berlimpah, sehingga tak tersisa lagi ruang untuk berdoa, tak ada lagi tempat untuk menyendiri bersama Tuhan. Tak ada tempat untuk diam. 

Jauh hari, seorang tokoh seni Eropa awal abad ke-20 telah mengingatkan bahwa ‘diam akan segera menjadi legenda’. 

“Manusia telah berpaling dari keheningan. Hari demi hari diciptakannya mesin dan perangkat yang meningkatkan kebisingan, serta mengalihkan kemanusiaannya dari esensi kehidupan, kontemplasi, dan meditasi.”[iii]

Dan seorang biarawati minoritas jauh di Kalkuta sana pernah bertutur:

”Kita perlu menemukan Tuhan, dan Ia tak dapat ditemukan dalam kebisingan. Tuhan bersahabat dengan diam. Tengoklah pohon, bunga, dan rumput yang tumbuh tanpa berisik; lihat bintang, bulan, dan matahari yang beredar dalam senyap... 

Kita perlu keheningan untuk bisa menyentuh jiwa.”[iv]


Hanny Kardinata 
(Swaraning Asepi)
Bintaro, 12 Maret 2018


———
[i] Bob Borzotta adalah mantan reporter Philadelphia Inquirer, Associated Press, dan banyak kantor berita lainnya. Bukunya, Neighbors from Hell, dan situs web pendampingnya NeighborsFromHell.com, telah membuat Borzotta menjadi nara sumber ABC News, National Public Radio, CNN, serta berbagai surat kabar lokal dan stasiun radio di sekitar AS. Para produser acara menginginkannya muncul di acara bincang-bincang siang hari atau bahkan menjadi tuan rumah acaranya sendiri. Ribuan orang membutuhkan konsultasi yang andal dan bertanggung jawab dengannya untuk menangani perselisihan dengan tetangga mereka, dan dia telah menyediakannya, bukan demi uang, sejak tahun 1999.

[ii] Definition of “sufficient” and “limited” evidence:

Sufficient evidence: A causal relation has been established between exposure to night noise and a health effect. In studies where coincidence, bias and distortion could reasonably be excluded, the relation could be observed. The biological plausibility of the noise leading to the health effect is also well established.

Limited evidence: A relation between the noise and the health effect has not been observed directly, but there is available evidence of good quality supporting the causal association. Indirect evidence is often abundant, linking noise exposure to an
intermediate effect of physiological changes which lead to the adverse health effects.

The working group agreed that there is sufficient evidence that night noise is related to self-reported sleep disturbance, use of pharmaceuticals, self-reported health problems and insomnia-like symptoms. These effects can lead to a considerable burden
of disease in the population. For other effects (hypertension, myocardial infarctions, depression and others), limited evidence was found: although the studies were few or not conclusive, a biologically plausible pathway could be constructed from
the evidence. (Sumber: Night Noise Guidelines for Europe, hal. xi)

[iii] Jean Arp (1886–1966), pematung, pelukis dan penyair Perancis.

[iv] Bunda Teresa (1910–1997) biarawati Katolik Roma berkewarganegaraan India yang selama lebih dari 47 tahun melayani orang miskin, sakit, yatim piatu, dan yang sekarat di India.


———
Referensi

[1] Sam Haidy. Nocturnal Journal (Kumpulan Sajak yang Terserak, 2004-2014). Indie Book Corner, 2014.

[2] Zainur Rahman. Kebisingan sebagai Pencemaran Udara. Kompasiana, https://www.kompasiana.com/zaenuzlah93/kebisingan-sebagai-pencemaran-udara_551844d281331146699de6a6, diakses 25 Februari 2018.

[3] Dr Richard Helmer. Guidelines for Community Noise, http://www.moa.gov.cy/moa/environment/environmentnew.nsf/69D658BCCDE2FDB5C2258041002D61F5/$file/Guidelines%20for%20Community%20Noise%20-%20WHO.pdf, diakses 27 Februari 2108.

[4] WHO. Night Noise Guidelines for Europe, 2009, http://www.euro.who.int/__data/assets/pdf_file/0017/43316/E92845.pdf, diakses 30 Februari 2018.

[5] Mengukur Kebisingan Genset, https://www.intidayaonline.com/mengukur-kebisingan-genset/, diakses 1 Maret 2018.

[6] Science for Environtment Policy, http://ec.europa.eu/environment/integration/research/newsalert/pdf/202na3_en.pdf, diakses 2 Maret 2018.

[7] Yan Edwin Bunde, Mencermati Kesadaran akan Bising dan Regulasi yang Terkait, https://www.facebook.com/notes/komnas-penanggulangan-gangguan-pendengaran-ketulian/mencermati-kesadaran-akan-bising-dan-regulasi-yang-terkait/308237825853204/, diakses 25 Februari 2018

[8] Neighbors from Hell, http://neighborsfromhell.com/, diakses 27 Februari 2018.

[9] Bob Borzotta. Neighbors From Hell: Managing Today’s Brand of Conflict Close to Home , https://www.amazon.com/Neighbors-Hell-Managing-Todays-Conflict/dp/1449582702/ref=sr_1_2?ie=UTF8&s=books&qid=1280111700&sr=8-2, diakses 6 Maret 2018.

[10] Hanny Kardinata. Keheningan yang Berbiacara (2), https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=2561750647212568638#editor/target=post;postID=3219798761225588152;onPublishedMenu=allposts;onClosedMenu=allposts;postNum=22;src=postname, diakses 12 Maret 2018.


***

Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...