13.12.17

Dalam Kenangan: Priyanto Sunarto (1947-2014)



Priyanto Sunarto (1947-2014)

RS Santo Borromeus, Bandung, Rabu, 17 September 2014, pukul 13.00 wib. Hari ini dunia seni rupa Indonesia dirundung duka mendalam. Seorang putera terbaiknya, Priyanto Sunarto telah berpulang kembali ke Penciptanya. Sebagai seorang perupa multi-talenta, yang tidak saja piawai sebagai desainer, kartunis, ilustrator, tipografer, tapi juga sebagai guru yang berdedikasi tinggi di bidangnya, Priyanto telah mewariskan berbagai nilai baik yang berharga bagi kehidupan.
Mewakili pengurus Desain Grafis Indonesia (DGI), saya menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Sunarto, juga keluarga besar Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tempat di mana Priyanto mengabdikan dirinya selama beberapa dekade terakhir ini.
Saya mengenalnya pertama kali pada akhir 1970-an sewaktu bersama-sama mempersiapkan berdirinya Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI), yang belakangan dikenal sebagai Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (Adgi). Seiring berjalannya waktu, bersama Priyanto–juga Wagiono dan S. Prinka (alm.)–kesenjangan yang terjadi selama puluhan tahun antara perupa Yogyakarta dan Bandung, menjadi semakin merapat dan segera bertukar dengan keakraban. Suasana kebersamaan yang berlangsung semasa persiapan pendirian IPGI, juga persiapan penyelenggaraan pameran besar IPGI yang pertama di Mitra Budaya, jalan Tanjung, Jakarta (24-30 September 1980), tak bisa dipisahkan dari kehadiran Priyanto yang kocak dan selalu membawa suasana segar.
Pri—demikian saya memanggilnya—memang adalah pribadi yang jenaka. Ia segera saja menjadi sahabat yang tidak saja baik hatinya, tapi juga penuh perhatian. Kepribadiannya yang lurus, cepat akrab, tak berjarak, dan membumi, selalu mengundang rasa nyaman siapa saja yang berada di dekatnya. Ia adalah magnet bagi setiap orang, yang menarik dan mendekap mereka di sekitarnya dengan penuh kehangatan. Ia dikirim ke dunia untuk menerangi, membawa serta garis-tangannya sebagai guru bagi ratusan anak didiknya. Sepanjang hidupnya, sesungguhnya ia telah menyentuh kehidupan begitu banyak orang.
Pri juga ringan tangannya. Belum pernah ada permintaan saya yang tak dipenuhinya. Sejak berdirinya Desain Grafis Indonesia (DGI) pada 2007, terbitnya Majalah Versus pada 2008, hingga diselenggarakannya ajang penghargaan Indonesian Graphic Design Award (IGDA) pada 2009-2010, saya telah melibatkannya dengan berbagai kerepotan. Daftarnya bisa panjang, mulai dari menulis artikel, menjadi pembicara, menseleksi karya, memimpin penjurian, dan seterusnya. Semuanya dilakukannya dengan senang hati, dan tentu saja secara suka-rela; kalkulasi jarak Bandung-Jakarta seperti tak pernah singgah di benaknya, walau tentu tidak mudah dijalankan oleh orang seusianya.
Demikian juga ketika DGI sedang menata kembali struktur kepengurusannya pada 2013, dan saya meminta kesediaannya untuk menjadi salah seorang penasihat, dengan serta merta hal itu diterimanya, tanpa pikir panjang, walau ia mungkin menyadari bahwa hari-hari pensiunnya bakal kembali terisi dengan berbagai aktivitas, dari satu rapat ke rapat lainnya. Bahkan talk show DGI di FGDexpo 2013 di JCC, Jakarta tetap dihadirinya, walau dengan kondisi kesehatan yang kurang baik. Demikian juga halnya saat DGI menyelenggarakan talk show pada ulang tahunnya yang ketujuh di Dia.Lo.Gue Artspace pada bulan April yang lalu. Isterinya, Euis yang amat setia mendampinginya kemana saja, sempat berbisik: “Han, Pri sedang tidak sehat, tapi dia memaksa ke Jakarta”. Itulah Pri, ia tak pernah memperlihatkan kondisi fisiknya yang sebenarnya.
Pri selalu merasa prihatin dengan memudarnya semangat kebersamaan, yang sempat tumbuh dan berkembang pada masa-masa IPGI (1980-1994) [Lihat: United We Stand: Memorialisasi Para Pendiri dan Aktivis IPGI]. Selalu terbersit kerinduan di hatinya, pada timbulnya kembali kebersamaan di antara sesama desainer grafis, sesuatu yang selalu diingatkannya sejak IGDA hingga ketika DGI melanjutkan program ‘Saya Seorang Desainer Grafis’ (yang diluncurkan pertama kali di ajang FGDexpo 2013). Layaknya seutas tali yang terjalin dari untaian benang emas, Pri menjadi pengikat batin, atau pemersatu poros Jakarta-Bandung-Yogyakarta. Bila kita semua sayang kepadanya, marilah kita bersama-sama mengupayakan kembali kehadiran kebersamaan dan persatuan di antara para desainer grafis Indonesia. Karena, hanya dengan demikianlah kita bisa membangun desain grafis yang lebih membumi dan tidak elitis, menuju Indonesia Baru yang lebih baik. [Baca juga: Train-set yang Apa Adanya]
Selamat jalan, Pri.
Terima kasih atas semua hal baik yang telah kau wariskan kepada kami selama ini. Hormat kami mengiringi perjalananmu menuju ke Rumah Abadi.

Hanny Kardinata
Tangerang Selatan, 17 September 2014


.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  
.  .  .  .  


***

12.12.17

Memaknai Kompetisi

(Sebuah renungan menyertai Kompetisi Desain '1001 Cover Concept'-April 2007)



Apa yang terjadi jika sejak kecil, mulai dari lingkungan keluarga, kita dididik untuk selalu memenangkan kompetisi? Tidakkah sistem ranking di sekolah telah memacu para siswa untuk mencapai yang terbaik, dengan cara apa pun, bahkan seandainya dengan cara tidak jujur sekali pun (nyontek, beli soal dsb)? Dan bagaimana kalau kebiasaan itu kemudian kita bawa ke lingkungan kita berikutnya, tempat kerja kita? Bukankah akumulasi dari kebiasaan berkompetisi ini suatu saat akan bermetamorfosis menjadi benih kanker korupsi? Korupsi, tidak saja dalam arti harafiah tapi juga mental? Jiplak menjiplak misalnya.

Lalu apakah berkompetisi selalu bersifat negatif? Tidak juga, yaitu kalau kebiasaan berkompetisi ini diarahkan ke diri sendiri, bukan terhadap orang lain. Bukankah sejarah mencatat kebudayaan berkembang karena manusia terus berusaha meningkatkan pencapaian dirinya? Hari ini mesti lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik lagi dari hari ini. Lebih baik bukan dari saingan anda tapi... dari diri anda sendiri sebelumnya!

Belajarlah kepada Edison, Newton atau Einstein. Atau tontonlah October Sky, kisah nyata keteladanan Homer Hickam memenangkan kompetisi terhadap dirinya sendiri. Semuanya bermula ketika Homer menyaksikan satelit pertama Sputnik melintas di kotanya yang menginspirasinya untuk belajar membuat roket. Dibantu oleh beberapa temannya, dari hari ke hari Homer terus berusaha meningkatkan kinerja roket yang dibuatnya secara trial-and-error itu (dimulai dari 30 kembang api!), sehingga akhirnya berhasil membuat pencapaian jarak terjauh yang dimungkinkan oleh sebuah roket rumahan. Pada bagian akhir film dikisahkan Homer dkk. mengirimkan hasil karyanya ke kompetisi tahunan National Science Awards, dan berhasil memenangkannya. Pencapaian diri yang diperoleh dengan menaklukkan berbagai rintangan yang semakin sulit, yang pada gilirannya membentuk kematangan pribadi dan mengantar Homer ke takdirnya sebagai instruktur NASA.

Dalam berkarya, galilah potensi diri anda sendiri, temukanlah jati diri anda. Anda tidak harus dan tidak perlu membandingkan kemampuan anda dengan desainer lainnya. Mengapa demikian? Karena Tuhan merancang kita masing-masing sedemikian uniknya sehingga tidak ada yang benar-benar serupa di dunia ini. Dengan demikian tiap desainer diharapkan mampu menemukan keunikannya masing-masing dan kemudian menjalankan perannya yang berbeda-beda.
Yang jago menggambar, karyanya akan memiliki kandungan ilustrasi yang imajinatif (Tadanori Yokoo, Tjahjono Abdi). Yang memiliki sense yang kuat di bidang tipografi akan berkomunikasi secara persuasif melalui huruf (Kit Hinrichs, Danton Sihombing). Yang kuat di fotografi akan melahirkan karya desain yang fotografis-ekspresionistik (Hipgnosis/StormThorgerson). Jadi selalu ada bidang-bidang khusus di mana tiap desainer bisa melayani masyarakatnya sesuai dengan kemampuannya.

Renungan singkat ini saya akhiri dengan kata-kata bijak Dalai Lama: 
"I think there are two types of competition, or even a variety. One type you usually see quite often, a certain kind of jealousy, or some negative motivation, and then, of course, competition and compassion are contradictory. Then there is another kind of competition, I think, with a sincere motivation. For example, sometimes we as individuals, even within ourselves, feel: 'Yesterday, I did such and such a thing. Today I have to do it better than yesterday.' You see, there is some kind of competitive feeling, but there is no negative motivation." (Art Meets Science and Spirituality in a Changing Economy, editor: Louwrien Wijers, hal. 58).

Hanny Kardinata
5 April 2007


.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  




***



Tulisan-tulisan lainnya di sini.
***

11.12.17

Dalam Kenangan: Tjahjono Abdi (1952–2005)

Tjahjono Abdi (1952–2005)


P E R T E M U A N   P E R T A M A

Saya mulai kenal Tjahjono pada tahun 1972 ketika pertama kali saya menjejakkan kaki di tempat in-de-kost saya di jalan Purwodiningratan 188, Yogyakarta dalam rangka studi di STSRI 'Asri'. Tjahjono sudah terlebih dulu kos di tempat itu. Ketika itu dia bersekolah di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) di jurusan Seni Lukis dan "sudah jadi" seniman—penampilan mau pun ketrampilannya—sementara saya sendiri masih sebagai remaja yang baru lulus SMA.

Kesan yang segera terpancar dari dirinya adalah sikap individualistiknya. Dia tinggal di kamar yang disediakan untuk satu orang, sementara saya memilih kamar untuk berdua. Dia lebih senang pergi sendirian sementara kami (sekitar sepuluh orang di tempat kos itu) lebih suka pergi bersama-sama. 

Tjahjono seorang yang fanatik pada Beethoven. Dia memiliki kesembilan simfoninya (di samping karya lainnya) dan juga sebuah patung Beethoven di kamarnya. Kalau dia melukis, kamarnya akan dikuncinya rapat-rapat dan yang terdengar dari luar hanyalah gema musik Beethoven itu. Terkadang, dari lubang kunci pintunya kami melihat dia mengayun-ayunkan tangannya mengiringi gelegar irama musik. 

Lukisannya sendiri bercorak abstrak ekspresionistik dengan sapuan kuas dan palet besar-besar dengan dominasi warna merah, biru, putih dan hitam. Dominasi keempat warna ini juga tampil pada karya-karya posternya waktu itu.

Kami berpisah ketika dia lulus sekolah (mungkin sekitar 1974) dan bermaksud melanjutkan studinya ke LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, sekarang; IKJ). Sejak itu hubungan kami terjalin lewat korespondensi. 

Dalam salah satu suratnya Tjahjono mengungkapkan kekecewaannya pada sistem pendidikan yang diterimanya di LPKJ. Menurutnya, apa yang diajarkan sudah pernah diterimanya semasa di SSRI. Dia segera meninggalkan LPKJ dan memutuskan untuk bekerja saja di biro reklame. Beberapa karyanya semasa bekerja di biro-biro reklame di Jakarta itu dia lampirkan dalam surat-suratnya dan saya segera saja kagum dengan kemampuan adaptasinya yang luar biasa—dari seorang seniman lukis abstrak menjadi seorang desainer iklan.

P E R T E M U A N   K E D U A

Pertemuan berikutnya dengan Tjahjono adalah di Jakarta tahun 1976. Ketika itu dia bekerja sebagai visualizer di Matari Advertising. Saya baru saja menyelesaikan studi di Yogyakarta dan datang melamar bekerja di kantornya (waktu itu di jalan Tanah Abang II) karena menurutnya Matari membutuhkan seorang visualizer lagi. 

Selama bekerja di Matari (1976–1977) lagi-lagi saya tinggal satu kos dengannya, kali ini sekamar. Pada periode ini Tjahjono yang saya lihat adalah Tjahjono yang sepenuhnya desainer iklan, yang sangat terampil mengolah dan mengeksekusi ide-ide untuk kampanye periklanan perusahaan-perusahaan besar. 

Saya juga menyaksikan bagaimana sepulang dari kantor dia masih sempat mengerjakan sampul majalah Tempo yang waktu pengerjaannya selalu sangat terbatas—sering-sering hanya semalam, demi aktualitas topik utamanya—di mana pada pagi harinya Tjahjono sudah harus menyerahkannya ke kantor Tempo di jalan Senen Raya, dilakukannya dalam perjalanan dengan sepeda motor bebeknya ke Matari. Pada masa ini S. Prinka (yang juga pernah bekerja di Matari) belum bekerja di Tempo.

Matari, yang kemudian berkantor di Slipi, pada saat itu mulai merintis pemisahan kerja antara desainer iklan (khusus proyek-proyek above-the-line) dan desainer grafis (khusus below-the-line). Tjahjono tetap menangani desain iklan sementara saya lebih ke proyek-proyek desain grafis, mengerjakan logo, brosur, poster, kalender, dsb. 

Semasa berkarya di Matari, Tjahjono menjadi orang Indonesia pertama yang mendapatkan Clio Awards (1978). Penghargaan ini segera disusul dengan penghargaan-penghargaan lainnya.

Kebersamaan saya dengan Tjahjono di Matari berlangsung selama setahun lebih. Kembali kita berpisah ketika saya keluar dari Matari dan melanjutkan karier saya sepenuhnya di bidang desain grafis secara free lance. 

Pada tahun 1980 saya mengadakan pameran desain grafis bersama Gauri Nasution dan Didit Chris yang berlangsung di Pusat Kebudayaan Belanda 'Erasmus Huis'. Pada tahun yang sama kami, para perancang grafis Indonesia, mulai merintis berdirinya Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI) dan pada kesempatan itulah saya dan Tjahjono dipertemukan kembali. Tjahjono yang kemudian ditunjuk duduk di seksi publikasi, menangani publikasi-publikasi pameran IPGI yang berlangsung hingga tiga kali pameran berturut-turut.

P E R T E M U A N   K E T I G A

Masih di tahun yang sama, seusai bersama-sama mengurus penyelenggaraan pameran IPGI yang pertama di Mitra Budaya, Tjahjono, saya, dan beberapa kawan, mendirikan studio desain grafis Citra Indonesia. Citra Indonesia awalnya berkantor di sebuah ruang kecil di Jalan Sunda, di tempat tinggal Soedarmadji J.H. Damais (mas Adji). Tjahjono ketika itu sudah keluar dari Matari. [Lihat: Mengikuti Jalan (2)].

"KeIndonesiaan" Tjahjono barangkali mulai terasah di sini dengan pertemuannya yang intens dan berlangsung setiap sore dengan mas Adji yang pakar kebudayaan Indonesia. Inilah kebersamaan saya yang paling lama dengan Tjahjono, mungkin berlangsung selama lebih kurang 10 tahun (on-and-off), mulai dari jalan Sunda, kemudian jalan Sawo, hingga ke Bintaro dan jalan Cibeber, kemudian dari jalan Bangka hingga ke Kemang, dan sejak Tjahjono keluar dan kemudian masuk lagi ke Matari dan kemudian keluar lagi. 

Hampir bersamaan dengan keluarnya (yang terakhir kali) dari Matari itu Tjahjono kemudian juga keluar dari Citra Indonesia dan mendirikan Mindglow. Setelah itu kami hampir tidak pernah bertemu lagi kecuali secara kebetulan dalam beberapa peristiwa, hingga meninggalnya pada 3 Februari 2005. [Lihat: Sang Maestro dengan Tempo Allegro] [Lihat juga: Buku “Shalat, Shalawat, Doa” (proses pembuatannya)]


Hanny Kardinata
11 Februari 2005

***

Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...