4.1.18

Keheningan yang Berbicara (3)

[Sambungan dari: Keheningan yang Berbicara (2). Bagian terakhir dari tiga bagian]


“Kepada pikiran yang hening, alam semesta berserah.” —Chuang Tzu

Swaraning sepi
Walau belasan tahun berada di sentra budaya Barat di Paris, Mas Slamet memiliki pengetahuan yang mendalam pada ajaran-ajaran spiritual Timur. Ia misalnya, gemar melakukan pembacaan kode-kode I Ching (Book of Changes), menginterpretasi paradoks dalam naskah-naskah Chuang Tzu (399–295 SM), atau mengeksplorasi kisah-kisah tasawuf Jalaluddin Rumi (1207–1273).  

Sebuah buku mengenai estetika wabi-sabi[v] yang ditulis oleh Leonard Koren (l. 1948) dikirimkannya kepada saya, yang pada hemat saya yang bukan berasal dari disiplin seni musik, esensinya tak jauh dari praktiknya dalam bermusik. Bahkan sosok Mas Slamet, dalam penafsiran saya, bisa dilihat sebagai “perwujudan” dari wabi-sabi itu sendiri: bersahaja; merasa nyaman dengan hal-hal yang ambigu; mensarankan pendekatan yang intuitif dan relatif; yang mencari solusi-solusi personal; dan yang percaya bahwa segala hal itu terjadi karena ada alasannya.


8. Estetika wabi-sabi pada sebuah mangkuk kayu. 

Wabi-sabi mengedepankan kualitas otentik lebih daripada perfeksi. Ditandai dengan ketidakteraturan, asimetri, kesederhanaan, kehematan, kejatmikaan, kerendahan hati, dan keintiman—wabi-sabi menghargai objek-objek alami dan kepada proses, sebagai lambang eksistensi manusia yang serba fana. Karat, urat kayu, bintik-bintik di kulit—adalah tekstur kehidupan. Berkembang di abad ke-15 sebagai reaksi terhadap ornamentasi berlebihan nan mewah dan vulgar dari kalangan ningrat, wabi-sabi berkisi pada tiga prinsip: ‘tidak ada yang sempurna, tidak ada yang abadi, dan tidak ada yang selesai.’

Keheningan yang Berbicara adalah istilah yang dipakai oleh Mas Slamet sendiri untuk menggambarkan dirinya, sebagai koreksi atas judul tulisan tentang dirinya yang ditulis oleh komponis dan etnomusikolog Dieter Mack (l. 1954). Dalam buku Tiga Jejak Seni Pertunjukan Indonesia: Rendra, Sardono W. Kusumo, Slamet A. Sjukur[5] yang diberikannya kepada saya pada 2005, Mas Slamet membuat coretan pada halaman judul tulisan tentangnya itu yang tertulis: Slamet Abdul Sjukur: Istirahat yang Berbunyi, dan menggantinya dengan Slamet Abdul Sjukur: Keheningan yang Berbicara (Gb. 9). Di atas judul itu, Mas Slamet masih menambahkan kata-kata Swaraning sepi (Suara keheningan) yang mungkin dimaksudkannya sebagai asal kata atau intisari dari judul tersebut.


9. Bagian dari buku Tiga Jejak Seni Pertunjukan Indonesia: Rendra, Sardono W. Kusumo, Slamet A. Sjukur

Judul bab mengenai SAS, Istirahat yang Berbunyi, dikoreksi oleh SAS menjadi Keheningan yang Berbicara

Hening kosong, hening berisi

“Energi perlu, baik lahiriah maupun batiniah, untuk bertindak ataupun untuk benar-benar diam.” —J. Krishnamurti (1895–1986), Surat untuk Sekolah, 15 Februari 1979

Filosofi kehidupan Mas Slamet berasal dari neneknya yang orang Eskimo, Astikea yang mengajarinya nilai keheningan (value of silence) dan untuk “melakukan segala sesuatu dengan cinta, karena itu adalah hal paling penting dalam hidup”. Di masa kecilnya, neneknya ini suka mengajaknya ke luar rumah untuk menonton pergelaran konser musik. Di situ dia disuruh diam “agar musik bisa berbicara kepadanya”. Tak heran jika musik Mas Slamet selalu dekat dengan suasana batin yang hening, dan mencerminkan konsepsinya mengenai keheningan. 

Menurutnya, ada hening yang kosong, ada hening yang berisi. Misalnya, ketika datang ke sebuah rumah ada perasaan tidak enak. Tapi memasuki rumah lain yang modelnya sama tidak ada perasaan apa-apa. Di sinilah ada hening yang kosong dan hening yang dihuni.

“Saya sendiri menghendaki ada intensitas itu dimana-mana, termasuk di dalam sebuah keheningan. Dalam keramaian, maupun dalam keheningan, hendaknya selalu ada dan dijaga sebentuk intensitas itu.”

Dijelaskannya bahwa batin yang hening itu peka pada kemurahan hati alam.

“Suara laut, atau desau angin, kalau kita tahu dan bisa menangkap keindahannya, itu sebenarnya sebuah musik. Jadi sebenarnya dalam kehidupan ini sudah begitu kaya akan musik. Baik musik yang menyenangkan, maupun musik yang mengerikan sekali pun.”

Sehingga sebetulnya sudah tidak ada lagi kebutuhan untuk membuat musik:

“Kalau melihat kenyataan alam yang sudah dipenuhi dengan musik, sebagai komponis saya itu merasa malu. Ngapain lagi, di sekeliling kita ini sudah berlimpah dengan musik kok. Tetapi karena musik saya bertujuan mengembangkan kepekaan orang-orang di sekitar saya kepada bunyi yang sebenarnya musik, lantas saya bikin musik yang saya ambil dari alam. Kalau kawan-kawan sudah terbiasa mendengarkan musik saya, harapan selanjutnya mereka bisa juga mendengarkan musik gemericiknya air sungai.”

“Dan kalau semua orang sudah bisa mendengarkan musik alam, maka saya akan pensiun. Tapi sampai kapan, saya tidak tahu. Bahkan sampai mati pun barangkali belum tercapai cita-cita seperti itu. Ya, itulah keinginan saya, manusia mbok yang peka terhadap musik di sekitarnya, sehingga tidak perlu ada yang membuat musik lagi.”[4]

Hening sedemikian ini yang agaknya dimaksudkan oleh J. Krishnamurti (1895–1986) sebagai ‘senggang’, suatu senggang yang berbeda sama sekali dengan pengertian kebanyakan orang. Senggang pada umumnya diartikan sebagai tidak disibukkan oleh hal-hal yang harus kita lakukan, seperti mencari nafkah, pergi ke kantor, pabrik, dan sebagainya; dan hanya apabila pekerjaan itu selesai, kita merasa senggang. Dalam senggang semacam ini yang ada hanya keinginan bersenang diri, bersantai, atau melakukan hal-hal yang betul-betul disenangi. Arti kata senggang yang seseungguhnya adalah ‘suatu waktu di mana batin tidak dipenuhi dengan apa pun juga’. Batin yang siap untuk melakukan observasi. Karena hanya batin yang tidak penuh kesibukan yang dapat mengobservasi. Dan observasi yang bebas adalah ‘gerak belajar’, yang membebaskan kita dari kehidupan yang mekanis. Jenis belajar yang sepenuhnya berbeda dengan pengertian belajar demi mengumpulkan pengetahuan sebagai bekal memperoleh mata pencaharian. 

Dalam surat yang ditujukannya kepada beberapa sekolah di India, Inggris, Amerika, dan Kanada, dipaparkan oleh Krishnamurti:

“Senggang berarti bahwa batin tenang, tak ada motif, dan karena itu tidak ada arah. Inilah senggang, dan hanya dalam keadaan inilah batin mungkin belajar, tidak hanya sains, sejarah, matematika, tetapi juga tentang dirinya sendiri; dan orang dapat belajar tentang dirinya sendiri dalam keadaan berhubungan.”[9]

Ketepatan kebutuhan

“Kebutuhan nyata manusia sederhana saja. Dan cukup mudah memenuhinya. Televisi dan mobil tidak dibutuhkan untuk mempertahankan hidup dan sesungguhnya benda-benda itu menyebabkan konflik. Bila anda menginginkannya dan bersusah payah untuk mendapatkannya, di situlah konflik muncul dalam kehidupan. Anda tidak pernah puas.” —J. Krishnamurti (1895–1986),  sebagaimana dituliskan oleh John E. Coleman dalam bukunya The Quiet Mind, 1971

Mengamati laku hidupnya, kiranya tidak berlebihan bila menganggap Mas Slamet sebagai pengejawantahan sosok Ki Ageng Soerjomentaram (1892–1962), pemikir eksistensialis Jawa itu. Pemikiran-pemikiran Ki Ageng seolah mewujud pada diri Mas Slamet. Juga pada proses penciptaan karya musiknya, yang sejalan dengan falsafah 6-sa: sapenake, saperlune, sabutuhe, sacukupe, samestine, dan sabenere (seenaknya, seperlunya, sebutuhnya, secukupnya, semestinya dan sebenarnya). Bahwa membuat musik, “Konsepnya harus kuat dan memenuhi kebutuhan. Fondasinya harus kokoh. Aspek keindahannya harus lahir dari ketepatan kebutuhan”[3]. 

Jejak kesinambungannya dengan Soerjomentaram ini bisa ditelusuri pada pendidikan yang dilaluinya di masa kecil di Taman Siswa. Seperti kita ketahui Taman Siswa didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara (1889–1959), yang mengajar di sekolah itu bersama Ki Ageng Soerjomentaram Taman Siswa yang didirikan pada 1922 ini mengedepankan nilai-nilai budaya Jawa dalam sistem pendidikannya. Hal ini sekaligus dimaksudkan untuk meredam pengaruh Barat. Walau ide-ide dasar secara pedagogis dipengaruhi oleh Barat, yaitu oleh metode pendidikan Montesorri (1870–1952), filsafat antroposofi Rudolf Steiner (1861–1925), pemikiran Rabindranath Tagore (1861–1941), dll.[4]

Gaya hidup Mas Slamet yang juga bersahaja membuat standar hidupnya cukup stabil. Seperti halnya Erik Satie, Mas Slamet yakin bahwa sebaiknya aspek-aspek material (ruang hidup, kebutuhan sehari-hari, dll.) dialihkan ke posisi yang rendah demi kehidupan mental yang lebih bebas. Sikapnya yang sering ironis terhadap diri sendiri, serta humornya yang kerap kali kritis dan tajam terhadap orang lain atau terhadap sistem politik yang ada, tidak saja membuat dia banyak berteman, tapi juga membuatnya berbeda dengan hampir semua komponis Indonesia lainnya. Dengan cara sedemikian, ia selalu dapat memastikan suatu sikap netral dan individual yang sehat.[6] 

Segitiga Bermuda
Kami tak lagi leluasa “menari” bersama setelah saya berkeluarga pada 1983. Dalam bahasa Mas Slamet: “Kesibukan membuat kita terpelanting di kutub yang berjauhan”. Pada masa ini saya telah pindah ke sebuah rumah kontrakan di Ciputat Raya, supaya bisa mengawasi pembangunan rumah saya di Desa Sawah Lama, Ciputat [selesai 1987]. Tapi, terkadang kami masih meluangkan waktu untuk bertemu, sekadar kangenan. Biasanya di toko musik Aquarius di Jalan Arteri Pondok Indah, dan berlanjut di toko buku QB, yang lokasinya berseberangan. QB layaknya oase bagi kami. Di tengah lautan buku di kedua lantainya, kami biasa menghabiskan waktu dari siang hingga jelang sore hari. 

Lain waktu, Mas Slamet mengunjungi saya, baik di rumah saya di Desa Sawah Lama [mulai kami tinggali pada 1988], maupun setelah saya pindah ke kawasan Bintaro [2004]. Sambil menikmati es campur kesukaannya, atau membalik-balik buku desain John Maeda (1966) yang karyanya serba musikal itu. 

Pernah dalam salah satu obrolan, kami dikejutkan oleh sebuah temuan bahwa di masa lalu ternyata kedua ayah kami juga saling mengenal dan bersahabat. Sungguh suatu kebetulan yang membuat kami takjub! Sesudahnya, Mas Slamet pun mengatur pertemuan kembali di antara kedua keluarga yang kemudian berlangsung pada sebuah hari baik di rumah saya di Jalan Trunojoyo 101, Surabaya. Selanjutnya, bila kebetulan membaca berita mengenai Mas Slamet di koran-koran Surabaya, ibu saya akan selalu mengguntingnya untuk dikirimkan kepada saya.

Kesenjangan yang terjadi akibat perbedaan ruang dan waktu yang semakin melebar, berkat internet, bisa didekatkan. Pernah pada akhir 2013 Mas Slamet menulis begini: “Kapan-kapan dalam waktu dekat, Mas Hanny akan ‘kupaksa‘ ikut nonton Wayang Orang Bharata[vii] di jalan Kalilio, Senen. Adanya hanya Sabtu petang (pukul 20.00–23.00) dan bisa sambil makan ketoprak [hal yang tak mungkin dilakukan di gedung opera mana pun!].” Itu pun akhirnya tak kesampaian. Walau sudah diiming-iminginya dengan kiriman foto pada surat berikutnya (Gb. 10). 


10. Mas Slamet di depan gedung WO Bharata, 2013.

Dalam suratnya tertanggal 1 September 2013, Mas Slamet berkomentar mengenai WO Bharata ini demikian: 

“WO Bharata is only one example among many others that art in Indonesia can support itself. They do it because it is their faith, to earn the living most of them do other things avoiding to derange the government who is already very bussy for themselves.”

Atau juga melalui lintas layanan pesan pendek (sms), keasyikan yang terkadang saling kami bagikan di tengah malam menjelang (saya) tidur. Sekadar bersilat kata tanpa punya tujuan. 

Suatu malam, pada 21 Oktober 2012, hampir setahun saya terbenam dalam proses menulis naskah buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia (DGIDPDGD) [Lihat: Perjalanan Ide, Nilai, dan Makna], telepon selular saya menerima pesannya: “Perjalanan setiap detik itu mulanya masih jauh sekali, lalu mendekat dan singgah hanya sedetik. Terus melanjutkan perjalanannya tanpa henti ke masa lalu yang semakin jauh dan tidak pernah kembali lagi.” Walau Mas Slamet menuliskannya tanpa maksud apa-apa (ia tidak mengetahui bahwa saya sedang menulis buku sejarah), saya menangkap keterhubungannya yang halus dengan buku DGIDPDGD. Saya pun bercerita mengenai buku saya itu, dan menyampaikan niat untuk mencantumkan pesan Mas Slamet tersebut sebagai kutipan pembuka buku. Tapi saya merasa ada yang belum “selesai” dengan kalimat itu, jadi kami lalu saling bertukar kata lagi (Jawa: otak-atik gatok) dan terciptalah rangkaian kata berikutnya: “Dia hanya menoleh kalau ada yang menyapanya”. 

Kepadanya lalu sekalian saja saya tanyakan, apakah menurutnya ada kalimat yang lebih baik yang sekiranya bisa menggantikan judul DGIDPDGD itu? Jawabnya:

“Segitiga Bermuda, Mas Hanny. Kata PUSARAN itu sudah dahsyat! Sulit untuk mencari yang lebih puitis, mas. DALAM PUSARAN DESAIN GRAFIS DUNIA terbayang arus melingkar yang menelan kapal induk raksasa di Segitiga Bermuda. Saya jadi seperti anak kecil yang nangis karena tidak dapat ’njawab ujian’.”

Hening abadi
Sesekali, kami memang bisa bertemu pada pergelaran acara-acara seni, terutama saat Mas Slamet melangsungkan konser karya musiknya. Tapi justru pada pergelaran terakhirnya, Konser 79 Tahun Sluman Slumun Slamet pada 27 September 2014, di Taman Ismail Marzuki itu saya gagal hadir. Waktu itu, kondisi kesehatan saya tiba-tiba menurun. Sebuah penyesalan besar, tapi tetap bersyukur karena masih bisa menikmati musik-musiknya melalui piringan cakram rekamannya yang dikirimkan oleh murid dan sahabatnya, Ariani Ririn beberapa saat sesudahnya. 

Kepergiannya yang meninggalkan saya di ‘saat-saat penting yang tidak saya hadiri’ itu menyisakan kekosongan besar yang menyesakkan di dalam diri saya. Mungkinkah ini yang dimaksudnya dengan ‘hening yang kosong’ itu? Selama ini, bersamanya, saya telah mengecap sebuah persahabatan sejati, yang tulus, dan tidak ditumpangi oleh suatu pretensi atau perhitungan apa pun. Sebuah persahabatan yang lugu, dan karenanya senantiasa mengharu biru. Pada 1 Oktober 2014, dalam sebuah surat pribadinya—surat terakhir yang saya terima sebelum Mas Slamet kembali untuk selamanya—ia menulis:

“Tinggal kita berdua saja sebagai sahabat sejak sebelum zaman batu...”

Rekannya sesama komposer, Michael Asmara (l. 1956), yang menggagas Yogyakarta Contemporary Music Festival (YCMF), mengatakan bahwa Indonesia beruntung memiliki genius seperti Mas Slamet: 

“Slamet should be inaugurated as a national hero. His music was inspired by the gamelan. He explored the slow tempo and silences. He opened the door to contemporary music; now it’s our duty to continue his dream of sounds.”[10]

Tapi, bukankah nyaris mustahil berharap penghargaan semulia itu akan diberikan oleh bangsa dan dari negerinya sendiri? Pula, bukankah semasa hidupnya Mas Slamet telah menunjukkan bahwa ia tidak pernah membutuhkannya?

Soe Tjen Marching dalam euloginya di Koran Tempo, Minggu, 10 Mei 2015, mengakhiri tulisannya dengan kalimat: 

“Pada 24 Maret lalu (tanggal wafatnya Mas Slamet —penulis), ia merampungkan mahakarya terakhirnya: Senyap.”



Salah satu karya Slamet Abdul Sjukur, Dedicace beserta biografi singkatnya.



———
[vi] Wabi-sabi, estetika Jepang mengenai segala sesuatu yang tak sempurna, tak kekal, dan tak selesai. Pakar estetika Leonard Koren dalam bukunya Wabi-Sabi for Artists, Designers, Poets & Philosophers (1994) menggambarkan wabi-sabi sebagai berikut:

Wabi-sabi is a beauty of things imperfect, impermanent, and incomplete.

It is a beauty of things modest and humble.

It is a beauty of things unconventional. 

[vii] Seni pertunjukan tradisi Jawa haute couture yang dibentuk pada 1972. Gedungnya di kawasan Senen berhimpitan dengan toko kelontong dan pedagang kaki lima di sekitar terminal Senen. Di tengah hingar bingarnya gaya hidup hedonis di Jakarta, kehadiran kelompok ini menandai masih hidupnya rasa kebersamaan, kecintaan, pelayanan, melu handarbeni (rasa ikut memiliki), keheningan, dsb.


———
[9] Krishnamurti, J. 1983. Surat untuk Sekolah, 1 Oktober 1978, Yayasan Krishnamurti Indonesia.

[10] Graham, Duncan. In memoriam: Slamet Abdul Sjukur; Silence or music beyond the grave? Jakarta Post, http://www.thejakartapost.com/news/2015/03/26/in-memoriam-slamet-abdul-sjukur-silence-or-music-beyond-grave.html, diakses 27 Mei 2015.

***

3.1.18

Keheningan yang Berbicara (2)

7. Slamet A. Sjukur, dalam buku program acara pergelaran  Parentheses 5, Hanny Kardinata, 1981.

[Sambungan dari: Keheningan yang Berbicara (1). Bagian kedua dari tiga bagian]


“Kalau belajar catur, pertama logika. Tetapi kalau sudah terbiasa ada intuisinya. Berarti tidak cuma membunuh lawannya, tetapi bagaimana “membunuh secara puitis”, membunuh dengan manis.” —Slamet Abdul Sjukur

Falsafah angka tiga
Masih pada tahun delapan puluhan, ketika sama-sama belum mempunyai rumah sendiri, terkadang kami suka mengunjungi teman yang tempat tinggalnya artistik. Tujuannya, agar kami bisa memperoleh inspirasi bagi rancangan rumah kami kelak. Di antaranya kami pernah mengunjungi rumah penari dan koreografer Sardono W. Kusumo (l. 1945) dan isterinya, Amna. Juga rumah sejarawan Ong Hok Ham (1933–2007). Keduanya terletak di kawasan Cipinang Muara, Jakarta. 

Akhirnya Mas Slamet lebih dulu membangun rumahnya, seingat saya sekitar tahun 1984. Dibantu oleh Biro Arsitek Atelier 6 yang juga membantu perancangan rumah Pak Ong, Mas Slamet merencanakan desain rumahnya dengan segenap hati.

Rumah tinggalnya yang juga berlokasi di kawasan Cipinang Muara itu tidak saja dibangun berdasarkan ketentuan geomansi[iv], penyesuaian arah mata angin dengan garis hidupnya, melainkan juga dirancangnya sendiri menurut perhitungan akustik yang njlimet. Ruang-ruangnya berbentuk segi tiga. Sementara posisi dinding rumahnya yang sejajar hanya ada 20 persen. Semua itu didesain agar menghasilkan pantulan suara yang baik. Sebagai komponis, demi kelancaran kerjanya, Mas Slamet membutuhkan ruang kerja yang dinding-dindingnya tidak banyak menimbulkan gema. Rumah itu bukan saja memenuhi tuntutan efisiensi dan mencerminkan kekuatan fisiknya, tapi secara simbolik juga bisa  berarti sebagai cermin dari sikap hidupnya yang kokoh, tak gampang digoyahkan.

“Segi tiga itu suatu bentuk yang paling sederhana dan kokoh. Umpamanya, bentuk segi empat pada sebuah meja. Kakinya kan vertikal. Dari pertimbangan konstruksi, pada masing-masing kaki pasti diberi sudut sehingga membentuk segitiga pada permukaannya. Dan ini yang membuat supaya meja tersebut tidak gampang goyah. Ini hanya contoh sederhana yang biasa dibikin tukang-tukang kayu di desa. Dari sini saya berkesimpulan, bahwa angka tiga itu bukan saja spekulasi intelektual, tapi secara fisik memang fungsional.”[3]

Yin-Yang
Keberadaan interior rumah Mas Slamet bukan hanya  terbatas pada nilai dekoratifnya. Bentuk segi tiga pada desain interior rumahnya juga adalah bagian dari upayanya untuk menciptakan ritme, yang menurutnya harus ada di dalam sebuah rumah tinggal.

“...dalam proses penciptaan seni musik, saya membutuhkan dua buah ruang kerja yang ritmenya berbeda. Salah satu berpihak ke dalam, dan yang satunya lagi ke luar.”[3]

Dikatakan ke dalam, karena untuk mengontrol rasa. Bentuk dasarnya tetap segi tiga, tetapi atapnya dibikin lebih tinggi. Kesannya terasa luas. Sehingga menyebabkan orang merasa betah lama berada di dalamnya.

“Ruangan yang beratap tinggi bisa membuat kita merasa aman dan bernafas lebih leluasa. Ruang ini biasanya saya pakai untuk mengontrol konsep musik yang sudah saya kerjakan lebih dulu. Suasananya meditatif. Ke dalam.”[3]

Dan hal sebaliknya akan dirasakan bila orang berada di dalam ruang yang satunya, yang atapnya lebih rendah.

“Kalau dipakai untuk mengerjakan sesuatu, rasanya ingin cepat-cepat selesai dan keluar dari ruangan. Itu sebabnya mengapa ruang yang atapnya lebih rendah ini saya pergunakan untuk mengerjakan konsep-konsepnya, atau kerangkanya, agar bisa cepat selesai lebih dulu. Kemudian dalam proses selanjutnya, saya kontrol di dalam ruang yang suasananya cukup meditatif itu. Kebutuhan suasana yang berbeda dalam dua buah ruangan inilah, kalau menurut falsafah Cina dinamakan Yin-Yang.”[3]

Minimax

“Musik adalah karunia kehidupan, ia mesti diperlakukan secara cerdas. Saya memilih mengikuti jalan sunyi yang jauh dari normal.” —Slamet Abdul Sjukur

Sebagai komponis, Mas Slamet dikenal dengan metode minimax-nya, yakni berangkat dari yang seadanya (minimal) tapi dengan pengolahan yang sebaik mungkin (maksimal). Bahwa ‘keterbatasan itu bukan hambatan tapi justru merupakan tantangan untuk menggunakan akal atau menjadi kreatif’. Membuat musik dengan cara demikian tidak memerlukan biaya mahal, teknologinya sangat murah. Tapi ada tuntutan yang lain yang tidak main-main, yaitu tuntutan untuk tahu diri dan tanggap terhadap tuntutan saat. Dalam karya berjudul Uwek-Uwek (1992), ia hanya melibatkan para musisi amatir dan penggunaan organ mulut sebagai sumber bunyi non-konvensional. Dalam konteks ini, musik Harry Roesli tahun ’70-an dinilainya bagus walau hanya menggunakan kaleng dan botol-botol kosong. 

“Saya melihat kecenderungan dunia permusikan di Indonesia dewasa ini, adalah penggunaan teknologi canggih dengan sikap seperti monyet diberi mainan baru. Peralatan hebat yang dipakainya memang membesarkan hati, tapi sayang kemampuan memanfaatkannya masih gentayangan.”[6]

Semangat minimax itu terkadang membuatnya heran sendiri atas capaian hasilnya. Misalnya, Mas Slamet yang terbiasa “bekerja lambat”, suatu waktu harus membuat musik dengan durasi 40 menit melibatkan empat pemain musik klasik (flute, biolin, cello, dan piano), empat pemain musik free jazz (dua gitar listrik, perkusi, dan synthesizer), dua penari yang berbeda sekali gayanya, dan seorang pelukis, hanya dalam waktu dua bulan! Bukan saja karena sempitnya waktu, tapi terutama soal bagaimana menampung seluruh unsur yang campur aduk itu. Ini pesanan Festival Non-Stop des Ménuires untuk penutup acaranya. Dengan susah payah, karya cipta itu terwujud juga.

“Di panggung, hanya ada peralatan musik dan kursi-kursi kosong, di belakang berdiri plexiglass sepanjang, dan nyaris setinggi, panggung; seorang pelukis di belakangnya membuat goresan-goresan kuas dengan cepat untuk memenuhi plexiglass yang luas; masuk seorang pemain cello memainkan nada-nada panjang yang statis, sebagai kontras kecepatan lukisan; kemudian pemain musik mulai masuk satu-persatu dan langsung main; penari menyelinap, ada yang dengan melata dari tempat penonton. Musik semakin ribut dan kedua penari bergerak di antara kursi-kursi pemain, sementara pelukis semakin asyik dengan detil dan gerakan kuasnya semakin lambat; sampai saatnya para pemusik meninggalkan panggung, demikian pula para penarinya. Tinggal pemain flute berdiri sendirian, lukisan sudah jadi, pelukisnya tenggelam di balik lukisannya seperti gerhana egonya. Mendadak gelap seluruh panggung. Musik dan tari ada selama bergerak. Sebaliknya lukisan baru jadi setelah pelukisnya tidak menggerakkan kuasnya lagi. Dalam pertunjukan ini, lukisan ketika sudah jadi merupakan gaung yang tadinya dilewati tari dan musik.”[6]

Itulah Parentheses 4 (1973), salah satu contoh spirit minimax yang lahir dari keterbatasan. Contoh lain, adalah karya ciptanya, Angklung (1975). Karya ini adalah pesanan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris untuk Festival des Musiques Folklores de Dijon, yang diikuti oleh 35 negara, di antaranya Polandia, Hongaria, Turki, Jepang, Korea. Waktu itu Mas Slamet dihadapkan dengan kondisi angklung[v] milik KBRI yang pecah-pecah. Dan yang akan memainkannya adalah sejumlah warga Indonesia yang berada di Paris, seperti anak-anak diplomat, anak yang sedang belajar mengenai listrik, bahkan tukang sapu KBRI. Di luar dugaan, karya itu mendapatkan penghargaan Disque d’Or (Piringan Emas) dari Académie Charles Cros. Sebelumnya, selama tiga tahun berturut-turut, festival folklor ini dimenangkan oleh Gheorghe Zamfir (1941), pemain pan flute asal Rumania. Menurut panitia festival, musik angklung Indonesia seperti musik kontemporer. Mereka sesungguhnya tidak memahami bahwa karya itu bukan murni folklor, tapi merupakan hasil “ulah” Mas Slamet [tanpa mengkhianati tradisi lisan]. 

Ruang berbagi
Maret 2007 merupakan masa yang cukup sibuk bagi saya. Pada tanggal 13, saya mengaktivasi situs blog Desain Grafis Indonesia (DGI) sebagai ruang maya pengarsipan karya cipta desain grafis Indonesia, baik untuk karya visual maupun tulis. Alamatnya di desaingrafisindonesia.wordpress.com. Sejalan dengan bergulirnya waktu, situs ini telah membentuk dirinya sendiri sebagai pusat informasi dan referensi yang berhubungan dengan desain grafis di Indonesia, serta menjadi cikal-bakal bagi berdirinya Museum Desain Grafis Indonesia. Sejak 2014, alamat DGI pindah ke dgi.or.id. [Lihat: Perjalanan Tujuh Tahun Situs Desain Grafis Indonesia (DGI): 2007–2014 (1)]. 

Kemudian pada tanggal 30-nya, saya menginisiasi situs blog Art2Communicate (AtoC) di atoc.wordpress.com. Situs ini saya kelola bersama Mas Slamet, dan sesuai dengan namanya bertujuan untuk menginformasikan apa saja yang berkaitan dengan seni. Awalnya tentu dimulai dengan yang terdekat dulu, yaitu seni musik, dan diawali oleh sebuah tulisan Mas Slamet sendiri yang berjudul Gamelan Festival in Berlin

Namun, intensnya komunikasi yang terjalin kemudian dengan para desainer [sebagai konsekuensi dari kehadiran situs DGI] ternyata membutuhkan perhatian penuh. Keadaan ini mengakibatkan perhatian saya pada situs AtoC terus berkurang. Akhirnya saya memutuskan tulisan-tulisan Mas Slamet berikutnya juga ditayangkan di situs DGI. Hal ini dimungkinkan karena tagline DGI cukup luwes dan terbuka untuk menerima kehadiran “tamu” dari berbagai disiplin seni lain. Bunyinya: “Fostering understanding among Indonesian graphic designers and its juncture in art, design, culture, and society” (Membimbing pemahaman di antara desainer grafis Indonesia dalam persimpangannya dengan seni, desain, budaya, dan masyarakat).

Lenyapnya senyap
Pada 27 Mei 2007, kepada saya dan sahabat lamanya, Soe Tjen Marching (l. 1971), Mas Slamet mengirimkan sebuah konsep (draft) surat yang ditulisnya untuk Akademi Jakarta. Isinya mengenai keprihatinannya terhadap polusi suara yang semakin menjadi-jadi. Karena sifatnya terbuka, surat itu kami publikasikan juga di situs AtoC. 

Langkah ini menjadi awal dari “perlawanan” Mas Slamet di kemudian hari terhadap hegemoni kebisingan dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Kepada Akademi Jakarta, ia mengusulkan agar secepatnya memulai kampanye Gerakan Sadar Polusi Kebisingan, dengan membentuk jaringan konsultasi yang terus menerus dengan para pakar di dalam negeri, dengan lembaga-lembaga internasional yang terkait, serta melibatkan media-massa cetak maupun elektronik.

Dan pada hari yang sama, di harian Kompas, Minggu, 27 Mei 2007, Mas Slamet mengawali sendiri kampanyenya ini dengan menceritakan pengalaman pribadinya:

“Ternyata dia sudah meninggal, dikubur dua bulan lalu.
Sulit dipercaya seorang sahabat yang sejak lama terasa sebagai keluarga sendiri, tahu-tahu pergi begitu saja untuk selamanya. Rupanya saya yang tidak mendengar waktu pagi-pagi menjelang subuh ada orang mengetuk pintu, mau memberitahu tentang sahabat tadi yang baru meninggal dan akan dikebumikan siangnya. Betapa pun keras ketukan di pintu, tidak akan terdengar, karena tenggelam oleh pengeras suara yang begitu kencang dari surau di kampung.”

Gara-gara publikasi tulisannya tersebut, Mas Slamet menerima 90 pesan pendek lewat ponselnya yang umumnya bersimpati dan menyatakan mendukungnya. Kebisingan memang telah mengepung di mana-mana, di jalan raya, di mal, dst. Bahkan di rumah melalui berbagai alat rumah tangga: blender, penyedot debu, TV, pengeras suara, dll. Stres akibat kebisingan tak lagi disadari. Gejalanya menyelinap tanpa ada yang mencurigai penyebabnya. Orang jadi semakin mudah tersinggung dan marah, dan mudah melakukan tindak kekerasan. Selain itu, kebiasaan mendengarkan suara yang melebihi ambang batas akan menumpulkan kemampuan indera pendengaran untuk dapat menangkap suara-suara yang lebih halus dan indah.

Dan bukan saja manusia yang terganggu oleh kebisingan, binatang pun bisa mengalami gangguan, misalnya gangguan komunikasi. Binatang yang seringkali diserang oleh polusi suara juga lebih mudah menjadi agresif dibanding yang tidak. Bahkan polusi kebisingan terbukti ikut bertanggung jawab atas semakin punahnya ikan paus di dunia. Arthur Popper, ahli kebisingan dalam dunia laut dari Universitas Maryland, Amerika menjelaskan bahwa bunyi-bunyi keras dari kapal atau kendaraan bermotor lain, sangat mengganggu nyanyian ikan paus. Padahal, dengan nyanyian ini mereka berkomunikasi, mencari makan bersama, mencari kelompok mereka dan bahkan mengirim tanda SOS bila berada dalam bahaya. Bayi-bayi mereka pun mengalami tingkat kematian yang jauh lebih tinggi karena adanya polusi suara.[7]

Pada 23 Januari 2010, Masyarakat Bebas-Bising terbentuk. Organisasi ini didirikan oleh dan beranggotakan sejumlah tokoh masyarakat sipil, tujuannya untuk mengingatkan masyarakat pada “bahaya nasional” polusi kebisingan. Ketuanya Mas Slamet, dan di antara para penggeraknya terdapat nama-nama seperti Ahmad Syafii Maarif (l. 1935), Nh. Dini (l. 1936), Marco Kusumawijaya, Soe Tjen Marching, Bulantrisna Djelantik, Arief Adityawan S., Atieq S.S. Listyowati, Luthfi Assyaukanie, dll.

Dalam tulisannya untuk merayakan 79 tahun SAS, arsitek dan urbanis Marco Kusumawijaya menyodorkan kisah Persia Kuno, Gilgamesh, yang bertutur mengenai para dewa yang mengirimkan air bah karena terganggu oleh kebisingan yang ditimbulkan oleh manusia di kota-kota besarnya. Kebisingan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas dan jumawa.

“Kalau kita membanding-bandingkan beberapa kebudayaan, kesenyapan di ruang khalayak menjadi salah satu ukuran yang sangat penting. Budaya Jawa sangat menghargai kesenyapan, hampir serupa dengan di Jepang. Tapi belakangan ini di mana-mana kita mendapatkan ruang khalayak yang penuh dengan kebisingan yang tidak perlu, over-acting, dan dapat dicegah dengan upaya-upaya teknis, selain kesadaran untuk menghargai kesenyapan.”[8]


———
[iv] Geomansi, adalah ilmu meramal yg berdasarkan pengamatan pada garis-garis atau gambar-gambar (Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).


———
[6] Sjukur, Slamet Abdul. 2012.
Virus Setan: Risalah Pemikiran Musik. Yogyakarta: Art Music Today.

[7] Marching, Soe Tjen. 4 Juli 2011. Perayaan Hari Besar dan Bahaya Kebisingan. Facebook, https://www.facebook.com/notes/soe-tjen-marching/perayaan-hari-besar-dan-bahaya-kebisingan/10150222723537499, diakses 31 Mei 2015.

[8] Kusumawijaya, Marco. 2014. Mas Slamet Abdul Sjukur dan Kebisingan Kota. Ayorek, http://ayorek.org/2014/06/slamet-abdul-sjukur-dan-kebisingan-kota/#sthash.pjejo5hL.dpbs, diakses 31 Mei 2015.


[Bersambung » Keheningan yang Berbicara (3)]

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  




Salah satu karya Slamet Abdul Sjukur, Semut IrengDipersembahkan oleh Bridges Collective: Wendy Grose (soprano), Taryn Richards (flute), Paul Zabrowarny (cello), Brenna Wee (piano)


***



2.1.18

Keheningan yang Berbicara (1)

[Bagian pertama dari tiga bagian]


Oleh: Hanny Kardinata

“Musik adalah capaian rasa batin tertinggi manusia. Kita digerakkan oleh musik. Denyut nadi, detak jantung, langkah kaki, dan gerakan tubuh adalah musik. Bahkan perputaran planet dan bintang-bintang semesta adalah musik yang indah. Jika suara atau bunyi dari setiap pergerakan itu dimunculkan lebih keras sehingga mampu ditangkap telinga, semua akan menjadi orkestra musikal yang memukau.” —Slamet Abdul Sjukur, Slamet Abdul Sjukur dan Bunyi yang Berkisah, Jawa Pos, Minggu, 29 Maret 2015 

Menghadiri upacara pemakamannya sendiri
Slamet Abdul Sjukur (SAS), komponis yang didaulat sebagai ikon penyebar paham musik kontemporer di Indonesia itu meninggal dunia pada Selasa, 24 Maret 2015 sekitar pukul 06.00 wib, setelah menjalani dua minggu perawatan di Graha Amerta, RSUD dr. Soetomo, Surabaya. Dalam kesendirian, ia terjatuh di lantai rumahnya di jalan Keputran Panjunan, tanpa diketahui oleh siapa pun. Insiden itu telah mencederai kaki kanannya yang rentan akibat terserang polio [sejak usia enam bulan], dan yang telah menjadi kendala bagi mobilitas dirinya selama ini. 

Kepergiannya yang tiba-tiba itu meninggalkan kekosongan bagi dunia seni Indonesia, terutama karena ketika itu SAS masih sedang di puncak rangkaian kegiatannya seusai menggelar karya-karya musiknya dalam performansi bertajuk Sluman Slumun Slamet, 27 September 2014 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Tak luput pula menyisakan penyesalan terdalam pada diri saya karena gagal menghadiri pertunjukan terakhirnya itu. Yang juga berarti gagal bertegur sapa dengannya untuk terakhir kalinya. Saya jatuh sakit dua hari menjelang berlangsungnya acara yang diadakan untuk merayakan usianya yang ke-79 itu.

1. Slamet Abdul Sjukur. Sketsa oleh Wiwik Hidayat, 1990.

SAS (30 Juni 1935–24 Maret 2015) yang pernah mengenyam pendidikan serta menetap di Paris selama 14 tahun (1962–1976), telah menerima banyak penghargaan internasional. Di antaranya penghormatan tertinggi L’Officier de l’Ordre des Arts et des Lettres (Tokoh dalam Bidang Seni dan Sastra) dari Pemerintah Perancis. Saya beruntung bisa menjadi bagian dari seremoni penganugerahan penghargaan itu, yang berlangsung khidmat pada Kamis, 24 Oktober 2002 di tempat kediaman Duta Besar Perancis di Jakarta. Pidatonya yang berjudul Terima Kasih kepada Kuburan, yang disampaikannya sebagai ungkapan terima kasihnya, menandai ingatannya pada kepergian orang-orang yang dicintainya sebagai ‘saat-saat penting yang tidak bisa dihadirinya’. 

“Saya masih di Perancis ketika nenek saya meninggal, dan sedang di Jerman waktu ayah saya tiada. Di saat ibu saya menghadapi sekaratul maut, saya tidak berada di sampingnya sebagaimana yang diinginkannya.”[1]

Serta memaknai acara penghormatan bagi dirinya itu sebagai upacara pemakaman bagi dirinya sendiri:

“Upacara petang ini yang kembali mengingatkan pada mereka yang meninggalkan saya di ‘saat-saat penting yang tidak saya hadiri’, menimbulkan perasaan seolah-olah saya menghadiri pemakaman diri saya sendiri.”

“Pemberian penghargaan, bukankah ini langkah awal menuju kuburan? Penghormatan tinggi terhadap seseorang yang masa lalunya patut mendapat sanjungan, bukankah pertanda yang tegas bahwa penghormatan hanya diperuntukkan pada masa lalu orang itu? Sepertinya dia akan mati untuk menjadi orang yang berarti?”

“Penghargaan yang mendebarkan yang dipasang di atas kuburan ini justru membuat saya semakin mengagumi kehidupan, kerapuhannya yang membingungkan, keindahannya yang hanya sesaat...”[1]

Dan SAS pun seperti ingin menunjukkan bahwa ia tak lalu ingin ‘mati menjadi orang yang berarti’. Sosok yang lempeng, anti-kompromi, dan tak kenal kata pamrih itu hingga detik-detik terakhir hidupnya masih mencurahkan segenap hatinya untuk musik, musik, dan musik. Dalam kondisi lemah dan kesakitan, SAS masih sempat menyampaikan kepada beberapa murid yang setia menungguinya di rumah sakit, bahwa ia masih ingin mengajar, ingin menyelesaikan karyanya yang belum selesai, dan masih ingin berbagi ilmu kepada siapa saja. Ia berpesan agar Pertemuan Musik Surabaya (PMS), juga Pertemuan Musik Jakarta (PMJ), tidak sampai mati. 

PMS yang didirikannya pada 1957 bersama Ruba’i Katjasungkana [waktu itu redaktur harian Surabaya Post] dan The Lan Ing [yang baru kembali dari studi musiknya di Amsterdam] itu adalah forum pertemuan di antara para pecinta musik. Atas jasanya menyebarluaskan pendidikan musik—sebagaimana tertuang dalam cita-cita PMS: Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik—pada 1983 SAS menerima penghargaan Medaille Commemorative Zoltan Kodaly dari pemerintah Hungaria.

Tahun-tahun bergairah

beta   
ada di malam   
ada di siang  
mari   
menari   
mari  
—Bagian dari olahan Slamet Abdul Sjukur atas sajak Chairil Anwar, Tjerita Buat Dien Tamaela (1943) untuk Parentheses 5 (1981)

Sajak Chairil Anwar, Tjerita Buat Dien Tamaela itu mempertemukan saya dengan Mas Slamet. Ketika itu, bersama Soedarmadji Jean-Henry Damais (Mas Adji), saya membantunya mempersiapkan buku acara pergelaran perdana karya ciptanya, Parentheses 5 (Gb. 2–6) yang akan diselenggarakan di Libra Room, Hilton Executive Club, Hotel Hilton (sekarang: The Sultan Hotel) pada 12 Agustus 1981, dan pada 13 Agustus 1981 di Teater Arena, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Parentheses 5 merupakan penafsiran Mas Slamet atas sajak itu.[i] 





2–6. Buku acara Pergelaran Karya Cipta Slamet A. Sjukur Parentheses 5, Hanny Kardinata, 1981.

Kertas kraft saya pilih karena kesesuaian karakternya dengan Mas Slamet. Kertas ini dibuat 100% dari bubur kayu (pulp) murni yang tidak dikelantang (unbleached); yang kasar dan kuat, karena itu kerap dipakai sebagai pembungkus. 


Mas Adji adalah putera Louis-Charles Damais (1911–1966), ilmuwan, sejarawan, penulis buku Epigrafi dan Sejarah Nusantara (1995), guru di École Pratique des hautes Études (EPHE), yang bekerja bagi lembaga École française d’Extrême-Orient (EFEO). Pada awalnya, sebagai wakil EFEO di Indonesia, L.C. Damais bekerja di rumahnya sendiri yang diubahnya menjadi kantor EFEO di jalan Sunda 5A, Menteng, Jakarta. Rumah ini kelak dipakai pula oleh saya dan Tjahjono Abdi (1952–2005) sebagai kantor studio grafis Citra Indonesia (1980–sekitar 1983). Pengetahuan L.C. Damais tentang kebudayaan Jawa sangat mengagumkan dan hasil penelitiannya membuktikan bahwa dia adalah ahli epigrafi Jawa yang paling terkemuka di dunia. L.C. Damais meninggal mendadak pada Mei 1966 pada usia 55 tahun. Salah seorang muridnya adalah Denys Lombard, (1938–1998), pakar keindonesiaan (indonesianist) berkebangsaan Perancis untuk Asia Timur dan Tenggara.[1] 

Saat-saat bertukarpikiran di Citra Indonesia—baik semasa persiapan pergelaran maupun sesudahnya—menjadi awal persahabatan saya dengan Mas Slamet.[2] Apresiasinya sangat baik dan sama sekali tidak mau mencampuri urusan desain. Padahal, Mas Slamet pada masa itu telah menjadi figur penting dan dihormati di kalangan seni internasional, sementara saya masih belum lama berkarya nyata [selesai studi 1975]. dan baru sekitar setahun mendirikan Citra Indonesia (1980).

Sejak itu, kami sering menghabiskan waktu bersama-sama, sekadar berjalan-jalan, atau bercakap-cakap. Obrolan bersamanya tidak pernah membosankan karena begitu beragamnya topik yang diminati dan dikuasainya. Hampir setiap hari, Mas Slamet menjemput saya dengan Honda Civic-nya yang berwarna hijau metalik, untuk menyusuri berbagai tempat kesenian atau pusat-pusat kebudayaan asing di Jakarta, dan mengantar saya kembali ke rumah indekos di Jalan Yusuf Adiwinata (d/h Waringin) 30, Menteng [belakangan, karena adanya suatu kebutuhan, Mas Slamet tinggal pula di sini untuk sementara waktu]. Siang atau malam, kami melewati masa-masa indah, “menari” dan “beria” bagai “ganggang” dalam sajak Chairil Anwar itu.[ii] Sesekali, kami hanya berjalan dan berjalan, tak tentu arah. Hotel Hilton sering kali menjadi pilihan favorit untuk beristirahat sekadar menikmati alunan gamelan Jawa di pendapa belakang hingga jelang malam hari. Dalam gairah dan keheningan, kami dipersatukan.

Memercayai kehadiran rasa 
Suatu siang yang terik di Departemen Musik Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), sekarang: Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Saat itu Mas Slamet sedang tidak mengajar. Ia yang tahu bahwa saya menyukai karya-karya Erik Satie (1866–1925), sengaja memainkan salah satu komposisinya untuk piano yang paling terkenal, Gymnopédies (1888). 

Bilah-bilah piano yang diketuk dengan kedalaman rasa, cermat dan terukur itu, perlahan-lahan mengubah atmosfer ruang yang sengangar menjadi sejuk. Kabut seperti turun dan menyusup masuk melalui celah-celah lubang angin, menyelubungi relung-relung jiwa. Bunyi yang berasal dari sentuhan tangan yang lembut, yang dikontrol dengan tempo yang sangat terjaga itu (slow tempo) terasa  begitu mengendap di hati, lebih daripada yang pernah saya rasakan selama ini melalui kaset-kaset koleksi saya. Saya seperti disadarkan bahwa saya tengah berhadapan dengan bukan sembarang orang.

Sahabatnya, musikus, pedagog, pemikir dan penulis musik Suka Hardjana (l. 1940), pernah mengatakan bahwa Mas Slamet sangat perasa, tapi juga sangat tangguh dalam kepribadian. Mengulang kembali apa yang pernah diutarakan oleh Mas Slamet: “Walaupun saya tak pernah bermaksud mau melawan”, menurut Pak Suka, Mas Slamet tak pernah mau surut dan tunduk terhadap keadaan apa pun yang diyakini. 

“Ia keras seperti batu karang dan tak tertundukkan, tapi ramah dan santun dalam tutur bahasanya. Gestur perilakunya elegan dan terbuka kepada siapa pun, terutama kalangan muda. Ia sangat perasa dalam banyak hal.”

Tak heran kalau kepekaannya itu diwarisi pula oleh anaknya. Suatu sore, Mas Slamet bersama isterinya, Françoise, Svara anaknya (l. 1979), dan saya berjalan-jalan di TIM. Di tengah obrolan yang mengasyikkan, kami baru menyadari bahwa Svara tidak berada lagi di antara kami. Kami berbalik, dan menjumpainya sedang menempelkan telinganya di pohon beringin yang tumbuh besar di halaman tengah kompleks TIM. Entah sudah berapa lama ia berada di situ. Ketika ditegur, Svara hanya menjawab pendek: “Oh, aku sedang mendengarkan suara pohon itu.”

Saat diwawancarai oleh majalah arsitektur dan interior Laras, Mas Slamet pernah menguraikan peran rasa dalam penciptaan, dengan menganalogikan kerja mencipta musik dengan kerja seorang arsitek.  

“Konsepnya harus kuat dan memenuhi kebutuhan. Fondasinya harus kokoh. Aspek keindahannya harus lahir dari ketepatan kebutuhan. Memang, terkadang saya tidak mau terikat dengan kerangka yang saya bikin lebih dulu. Biasanya, ini baru bisa saya rasakan setelah musik saya jadi. Dalam keadaan seperti ini, saya kembali memercayai kehadiran rasa. Hal-hal yang rasional saya lupakan.”[3] 

Kebutuhan menarik diri
SAS bergaul akrab dengan piano sejak usia dini. Pada 1944–1945, ia mulai belajar pada guru-guru piano pertamanya. Pendidikan musik formalnya sendiri dimulai di Sekolah Musik Indonesia (SMIND) Yogyakarta (1952–1956)[iii]. Di sini Mas Slamet belajar pada guru-guru yang sangat mengesankannya, seperti Sumaryo L.E. [yang kelak bersama Suka Hardjana mendorongnya kembali ke Indonesia untuk mengajar di LPKJ], Nicolaj Varvolomeyeff [pemain cello, penganut ajaran-ajaran Krishnamurti dan Subud], serta Joseph Bodmer [salah satu guru piano pertamanya yang berasal dari Swis].

Atas beasiswa dari Perancis (1962–1963, yang diperpanjang tiap tahun hingga tahun keempat), Mas Slamet kemudian menempuh pendidikan musik tingkat lanjut di Conservatoire National Supérieur de Musique de Paris dan belajar dari sejumlah tokoh seperti Jules Gentil (piano), Victor Gentil (musik kamar), ilmu harmoni (Georges Dandelot), Madame Simone Plé Caussade (kontrapung dan fuga), dan Henri Dutilleux (teori komposisi). 

Sementara di École Normale de Musique de Paris (1962–1967), Mas Slamet menerima pelajaran analisis musik dari Olivier Messian (1908–1992). Pada 1968, ia juga berkesempatan belajar singkat pada Pierre Schaeffer (1910–1995) dan kelompoknya Groupe de Recherches Musicales (GRM) untuk musik elektro akustik. Pada 1975, Mas Slamet menerima penghargaan Piringan Emas dari Académie Charles Cros, Perancis untuk penampilan karya ciptanya Angklung di Festival Musik Folklor di Dijon.

Khusus mengenai Henri Dutilleux (1916–2013), Mas Slamet pernah menyatakan bahwa langkahnya lamban, bahkan sangat lamban, tapi kokoh. Dan tanpa kecuali sekarang ini tidak ada komponis yang tidak segan terhadap kehadirannya. Dutilleux sendiri pernah mengatakan: 

“...untuk menciptakan karya-karya baru, saya membutuhkan waktu yang lama untuk menyendiri, barangkali lebih lama dari orang-orang lain, dan ini rasanya tidak sesuai dengan tuntutan pendidikan yang harus dilakukan terus-menerus. Di sinilah sebenarnya sifat mendua yang sering orang katakan tentang saya; hasrat komunikasi dan berbagi pengalaman dan di samping itu semua merasakan kebutuhan untuk menyepi dan meditasi.”[4]

Seperti halnya dengan Dutilleux, kebanyakan karya-karya Mas Slamet pun dibuat dalam kurun waktu lama, satu karya bisa memakan waktu proses hingga tiga tahun lebih. Kadang kala ia butuh menyepi secara total, yang biasanya dilakukannya dengan mengurung diri di kamar sebuah hotel. 

Sekembalinya ke Indonesia (1976), Mas Slamet menjadi Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (1977–1981), dan Ketua Jurusan Musik LPKJ (1981–1983) mengajar teori musik dan komposisi. Tapi sikapnya yang non-konformis terhadap sistem pendidikan di LPKJ telah mengakibatkan Mas Slamet dipecat pada 1987. Kebanyakan mahasiswanya [yang berpihak kepadanya dan merasa kehilangan gurunya itu] tetap melanjutkan kerjasamanya dengan Mas Slamet setelah itu. Mereka inilah, seperti Tony Prabowo, Otto Sidharta, Saut Sitompul, Arjuna, dan Franki Raden, yang di kemudian hari paling berperan dalam masyarakat.[5]


———
[i] Nama Parentheses, yang berarti tanda-kurung, dimaksudkan sebagai sesuatu yang di luar lalu lintas Tesis-Antitesis-Sintesis. Sumbernya dari sajak-sajak R.D. Laing (1927–1989) yang terhimpun dalam Knots yang sudah dipakai oleh Slamet Abdul Sjukur sebelumnya dalam Parentheses 3 (1970–1975).

[ii] Cerita Buat Dien Tamaela, Chairil Anwar, 1946

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala.
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama.

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
Mari beria!
Mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau….

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu.

[iii] Sekolah Musik Indonesia (SMIND) Yogyakarta didirikan pada 1952 oleh Ki Hadjar Dewantara (1889–1959), Mohammad Hatta (1902–1980), Mohamad Yamin (1903–1962), Hamengku Buwono IX (1912–1988), dll. Slamet Abdul Sjukur adalah murid pertama SMIND bersama Paul Goetama Soegijo (l. 1934), F.X. Warsono, F.X. Soetopo (1937–2006), dan Idris Sardi (1938–2014). SMIND berkembang menjadi Akademi Musik Indonesia (AMI) pada 1961, dan disatukan dengan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) dan STSRI Asri menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) pada 1984.


———
[1] Chambert-Loir, Henri. 2011. Sultan, Pahlawan dan Hakim: Lima Teks Indonesia Lama. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

[2] Slamet Abdul Sjukur. Desain Grafis Indonesia, http://dgi-indonesia.com/slamet-abdul-sjukur/, diakses 12 April 2015.

[3] Rumah Segi Tiga. Jakarta: Laras No. 19, Oktober 1988.

[4] Sjukur, Slamet Abdul. 2014. Sluman Slumun Slamet: Esai-esai Slamet Abdul Sjukur (1976–2013). Yogyakarta: Art Music Today.

[5] Awuy, Tommy F. (Penyunting). 2005. Tiga Jejak Seni Pertunjukan Indonesia: Rendra, Sardono W. Kusumo, Slamet A. Sjukur. Jakarta: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI).


[Bersambung » Keheningan yang Berbicara (2)]

.  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  .  




Game Land 5 karya Slamet Abdul Sjukur, dipersembahkan oleh Slamet Abdul Sjukur (kemanak, clap hands, voice), Aishah Sudiarso Pletscher (piano), Sri Aksan Sjuman (gong ageng). 

***



Unggulan

Merajut Keterhubungan

Sebuah esai merespons tema pameran Forum Grafika Digital 2017 (FGDexpo 2017), Connectivity (Jakarta Convention Center, 24–27 Agustus 2017). ...